Christopher Farrel Millenio: Si Anak Milenial yang Bikin Google Terpikat
  • 342
  • 0
  • 0
  • 0

‘Jurus Tandur!’ alias ‘Maju Terus Pantang Mundur’, sepertinya kalimat itu telah menjadi pedoman bagi Christopher Farrel Millenio. Siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta itu mendadak jadi sorotan. Pasalnya penelitian remaja yang kerap disapa Farrel ini, berhasil membawanya ke Negeri Paman Sam untuk memenuhi undangan dari salah satu perusahaan kelas dunia, Google.

Semua berawal pada tahun 2016. Saat itu, Farrel mengajukan penelitiannya dengan judul “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data” di berbagai ajang kompetisi di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, 11 kali ia menawarkannya, 11 kali juga penelitiannya ditolak.

Alih-alih galau, dengan etos kerja dan integritas yang kuat, Farrel malah mengajukan judulnya itu ke Google. Menunggu beberapa waktu, Farrel akhirnya mendapat undangan melalui surat elektronik dari raksasa dunia maya itu. Google meminta dirinya agar mempresentasikan gagasannya di Mountain View, California.

"Thomas Alva Edison 1.000 kali gagal, masa saya baru 11 kali terus menyerah. Untuk jadi Alva Edison saya butuh 989 kali mencoba, saya hitung terus dan masih lama, masih lama," urai cerminan Indonesia Mandiri itu seperti dikutip laman Kompas.com.

Gagasan penelitian Farrel sebenarnya berangkat dari hal yang sepertinya sepele. Farrel ingin mengunduh sebuah game. Namun, kuota data yang dimilikinya terbatas. Waktu itu, Farrel masih duduk di kelas 1 SMA. Dari keinginannya main game tersebut, Farrel mulai mencari di internet cara mengecilkan data. Dari pencariannya itu, remaja berusia 17 tahun ini menemukan data compression atau pemampatan data. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, remaja kelahiran tahun 2000 ini akhirnya berhasil menciptakan penelitian seperti yang ia ajukan ke Google.

Google pun tertarik dengan hipotesis Farrel. Bahkan ia merupakan satu-satunya siswa SMA di Indonesia yang proposal karyanya berhasil lolos dan mendapat perhatian dari Google.

Ia pun mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa selama di markas Google di California. Di luar negeri, tuturnya, orang saling bertukar ide dan mereka tidak takut jika ide mereka diambil.

“Untuk apa memiliki ilmu yang banyak tapi saat kita mati tidak berguna untuk dunia ini. Lebih baik ilmunya diberikan kepada orang lain. Maka saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan akan saya bagikan ke orang lain,” tutur Farrel yang belum lama ini menorehkan prestasi di ajang peneliti “Blia Jakarta 2017 Center for Young Scientist”. [An]



(foto: Kompas.com)