Bank Sampah, Salah Satu Aksi Nyata Revolusi Mental
  • 149
  • 0
  • 0
  • 0

Mengolah dan mengubah sampah jadi Rupiah dan terlibat dalam aksi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui Bank Sampah adalah salah satu praktik revolusi mental, karena diperlukan praktik integritas, etos kerja dan gotong royong dalam pelaksanaannya. Selain itu, aksi nyata bank sampah merupakan praktik dari Gerakan Indonesia Bersih dan Gerakan Indonesia Tertib dari lima gerakan Revolusi Mental. Tiga aksi nyata lainnya adalah Indoneaia Melayani, Mandiri dan Bersatu.

 

Demikian dikatakan Anggota Gugus Tugas Nasional Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), Ahmad Mukhlis Yusuf, dalam penyampaian materinya di acara Mendukung Gerakan Perubahan Untuk Indonesia Bersih yang diselenggarakan kelompok masyarakat Mushola Al Intishor bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Petukangan Utara, Jakarta Selatan.

 

 “Aksi pengelolaan sampah melalui bank sampah adalah salah satu wujud nyata Revolusi Mental. Jakarta bisa bersih dan tertib, Indonesia bisa bersih dan tertib karena kebiasaan semua praktikan integritas, etos kerja dan gotong royong kita dalam menjalankan pengelolaan sampah,” kata Mukhlis dalam paparannya, Selasa, (18/12)

 

Ia pun mengajak semua warga masyarakat untuk jadi pelaku perubahan dengan meneladani figur besar dan para tokoh bangsa. Mukhlis memberi contoh bahwa Nabi Muhammad SAW, ia digelari sebagai al-Amien atau yang dapat dipercaya, yang berintegritas, karena komitmennya menjaga kejujuran, kepercayaan serta amanat dalam komunitasnya. Lebih lagi, Muhammad, tokoh yang membawa perubahan revolusioner dalam sejarah umat manusia.

 

“Keteladanan Muhammad SAW perlu ditiru, dalam segala hal, termasuk Muamalah. Beliau berpesan bahwa kebersihan sebagian dari pada iman,” jelas Mukhlis kepada warga Petukangan Utara.

 

Lima Gerakan Nasional Revolusi Mental, yakni Gerakan Indonesia Melayani, Indonesia Bersih, Indonesia Tertib,  Indonesia Mandiri, dan  Indonesia Bersatu; harus jadi Gerakan yang dipraktikan nyata pada lingkungan terdekat dan dalam jangkauan tangan dan peran semua, melekat pada kebiasaan harian kita, oleh karena itu, Mukhlis menegaskan kembali bahwa pelaku perubahan hendaknya terus berkomitmen untuk menjalankan aksi nyata perubahannya secara berkelanjutan.

 

Terkait keberhasilan bank sampah, akan berjalan bila semua warga mengubah kebiasaan dalam pemilahan sampah dan menyimpan sampah pada tempatnya. "Di sinilah pentingnya revolusi mental sebagai gaya hidup yang menitikberatkan pada aksi perubahan nyata, yang dulunya tanpa pemilahan, mulai membangun budaya pemilahan di hulu atau sampah di rumah tangga, sortir mana sampah basah dan sampah kering, yang bisa didaur ulang, mana yang tidak untuk dibawa ke bank sampah," kata Mukhlis.

 

Selain itu, dalam kegiatan pengelolaan proses daur ulang, perlu mengajak anak-anak karena terdapat pendidikan karakter di dalamnya. “Anak-anak di rumah pun belajar menghargai sampah dan lingkungan, pada saat yg sama proses pembentukan karakter terjadi di semua rumah yang menjalankan kebiasaan pilah dan olah sampah ini,” tegas Mukhlis, yang juga mantan Direktur Utama LKBN ANTARA ini.

 

Senada, diungkapkan pula oleh Subandi, Pembina Bank Sampah Inthisor Makmur Mandiri (IMAMAN), Mushola Al-Intishor, menurutnya, melalui program pemberdayaan masyarakat, ada upaya bersama untuk melakukan perubahan pola pikir dan perilaku karena harusnya sarana tempat ibadah juga membawa semangat gerakan perubahan yang positif. “Prinsip kami sebagai takmir adalah jadi pelayan jamaah, dengan pemberdayaan masyarakat dan mendorong perubahan pola pikir dan perilaku positif, salah satunya melalui program bank sampah,” tutur Subandi.

 

Mukhlis pun mengapresiasi komitmen warga Jakarta Selatan karena telah menjalankan instruksi Wali Kota Jakarta Selatan Nomor 123 Tahun 2017, tentang Pembentukan Bank Sampah di tiap kantor kelurahan dan sekolah di Jakarta Selatan. “Partisipasi masyarakat dalam menjalan program daur ulang perlu di tiru oleh wilayah lainnya. Insya Allah gotong rotong ini menular wilayah-wilayah lain. Sebarkan praktik bank sampah ini melalui sosial media melalui ponsel masing-masing,”  kata Mukhlis.

 

Saat peresmian Bank Sampah IMAMAN, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Selatan, Sri Yuliani menyebut bahwa keberadaan Bank Sampah yang digiatkan warga Petukangan Utara tersebut, telah menambah jumlah Bank Sampah yang ada di wilayah administrasinya, “409 Bank Sampah kita, melampaui target, mudah-mudahan terus bertambah,” sebutnya.