Ayu Kartika Dewi: Tularkan Nilai Toleransi Dari Sabang Sampai Merauke
  • 381
  • 0
  • 0
  • 0

Indonesia bersatu kembali hidupkan semangat toleransi dan menghargai keberagaman, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat kebhinekaan itu salah satunya bisa ditularkan melalui dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan oleh salah satu generasi Indonesia Mandiri, Ayu Kartika Dewi. Melalui Program SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali), Ayu mengajarkan makna toleransi dan kebhinekaan kepada anak-anak. Caranya dengan menyelenggarakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia.


Tahun ini adalah tahun ke-5 bagi Ayu dalam memperjuangkan keberagaman dan toleransi di Indonesia, melalui Program SabangMerauke. Organisasi ini dilatarbelakangi oleh pengalaman Ayu saat menjadi guru SD di Maluku Utara, kala itu kerusuhan Ambon-Poso 1999 tengah berlangsung. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga dan Pasca Sarjana Duke University, Amerika Serikat ini kemudian berinisiatif mendirikan Program SabangMerauke bersama teman-temannya pada 28 Oktober 2012. Dia berharap melalui program ini, masyarakat dapat terinspirasi untuk memperjuangkan keberagaman dan toleransi di Indonesia.


“Anak-anak dalam proses pertukaran ini berinteraksi secara positif. Mereka saling bertukar tempat tinggal dengan keluarga beda agama dan ras. Ada anak dari agama Islam lalu tinggal di keluarga Kristen keturunan Tionghoa. Agar saat mereka kembali ke daerahnya masing-masing bisa menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi,” tegas Ayu.


Atas kiprahnya ini, Ayu mendapat penghargaan dari produk kosmetik Wardah sebagai salah satu dari 10 wanita inspiratif di bidang pendidikan. Ayu juga termasuk ke dalam daftar 13 anak muda inspiratif dalam Tempo Media Week 2017.


Ayu berharap, anak-anak didiknya memiliki jiwa kepemimpinan untuk menjadi agen perubahan saat kembali ke tempat tinggalnya. “Memang di awal-awal terasa sekali anak-anak mungkin merasa takut karena mereka akan tinggal di keluarga yang berbeda. Namun akhirnya mereka paham bahwa berbeda keluarga bukan orang jahat kok, mereka beragam orang Indonesia juga,” jelasnya.


Siswa yang mengikuti program ini adalah siswa SMP. Para siswa akan mendapatkan pengalaman selama tiga minggu dengan menghormati budaya serta ibadah masing-masing. Dengan begitu, ke depan, anak sudah memiliki fondasi yang kuat untuk tidak menghina atau merendahkan orang lain yang dianggap berbeda.


“Anak-anak harus punya pemahaman dan pengalaman yang positif tentang perbedaan agama, suku, dan budaya, serta mampu menghargai dan toleransi melalui pendidikan karakter,” tutup Ayu. [An]

 


(foto: Dok. Ayu Kartika Dewi)