Arkeolog Dukung Penumbuhkan Toleransi Melalui Belajar Sejarah
  • 312
  • 0
  • 0
  • 0

Seorang dari pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, dibalik banyaknya hujatan dan caci maki didunia maya terhadap pandangan politik dan pemahaman agama yang baru-baru ini muncul, ia menyarankan kepada masyarakat untuk belajar toleransi dari sejarah masa lalu.

Ia mejabarkan kehidupan toleransi pada Era Kedatuan Sriwijaya yang beragama Budha. Pada masa itu, semua pemeluk agama bisa berdampingan walau beda kepercayaan. Hal itu bisa dibuktikan dari Arca Boddhisattwa Awalokiteswara yang dibuat oleh seorang Pendeta Hindu yang dihadiahkan untuk Umat Budha.

Tomi juga memaparkan, bukti toleransi tak berenti sampai disitu. Namun terus berlanjut ketika Maharaja dari Kerajaan Sriwijaya mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa tahun 717-720 Masehi di Kekhalifahan Umayyah. Isi surat itu adalah pesan adanya kiriman dari Sriwijaya sebagai tanda persahabatan dan pengiriman mubalig untuk mengajarkan islam dan menjelaskan hukum-hukum padanya. Selain itu, ada beberapa penemuan arkeologis yang mengambarkan Kerajaan Sriwijaya sangat toleransi dengan ditemukannya kapal Sriwijaya yang tenggelam di perairan Cirebon, di dalamnya ditemukan artefak seperti barang kaca dari Persia, tiontin yang berisi Asmaul Husna dengan ukuran setengah mili dan barang kaca dari tiongkok.

Toleransi dengan berkaca terhadap sejarah ini merupakan landasan dasar berkembangnya masyarakat yang saling menghargai, menerima perbedaan, anti kekerasan, dan saling menunjukkan kasih sayang antar sesama. Butir-butir tersebut selaras dengan program pemerintah melalui nilai-nilai strategis revolusi mental yang bertujuan membangun Indonesia Bersatu, Indonesia Tertib serta Gotong Royong agar menjadikan Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang.