Perang Melawan Hoaks, MPI Sinergi Kemenko PMK Satker Revolusi Mental
  • 67
  • 0
  • 0
  • 0

Detail Kegiatan
Pelaksana Malang Pluralisme Institute
Tanggal Dan Tempat 8 bulan yang lalu / 07 Sep 2019
Pendopo Kepanjen Kabupaten Malang

BACAMALANG.COM – Jika dulu medan berjibaku adalah perang melawan penjajah, namun kini situasi kekinian sungguh berbeda.

Saat ini semua pihak di Indonesia dan dunia sepakat jika musuh bersama adalah hoaks di dunia maya.

Bahkan adannya persebaran hoaks yang terstruktur, massif dan terencana (TSM) tersebut, telah menggerogoti sendi-sendi persatuan dan kesatuan NKRI.

Terkait derasnya arus hoaks yang berkeliaran di medsos, maka diharapkan netizen yang sebagian besar adalah generasi mileneal turut waspada dan bersikap antisipatif.

Hal ini dikatakan Masruri Mahali Direktur Malang Pluralisme Institute kepada awak media Sabtu (7/9/2019) di sela-sela giat workshop memerangi hoaks di pendopo Kecamatan Kepanjen.

“Saya berpesan agar generasi mileneal yang notabene adalah pengguna media sosial membaca seksama, melihat cermat, dan teliti jangan asal menyebarkan sebuah berita di medsos,” tegas Masuri Mahali bersemangat.

Dikatakannya, acara ini digelar oleh Malang Pluralisme Institute bersinergi dengan Kemenko PMK Satker Revolusi Mental.

Acara dibuka mewakili Plt.Bupati Malang dilakukan oleh Fery Hari Agung Plt.Dinas Kominfo Kabupaten Malang.

Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dari generasi milleneal berasal dari SMK, SMA, MA Se-Kepanjen,delegasi organisasi kepemudaan, dan jajaran Muspika.

Kepanjen terpilih sebagai lokasi karena secara administratif dinilai strategis menjadi ibukota Kabupaten Malang yang otomatis mempunyai jaringan internet dengan kecepatan tinggi dibandingkan kecamatan lainnya.

Hal ini berakibat arus persebaran informasi terasa cepat dan massif.

Hoaks juga tidak hanya menjadikan disintegrasi nasional, namun juga mencoreng dunia pendidikan, karena mencoreng nama suatu insitusi pendidikan.

“Saya berharap generasi milleneal semakin kritis, cerdas dan santun dalam bermedsos. Agar bisa memilah suatu informasi valid ataukah hoaks,” tukas Masruri Mahali antusias.

Beberapa contoh semisal kasus unggahan pornografi oleh pelajar di Wajak, dan anak SMA terlibat penculikan.

Sementara itu, Vonika Alik pelajar SMK Budi Utomo Kepanjen salah satu peserta mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat positif.

Salah satunya adalah dirinya menjadi mengerti jenis-jenis berita yang tergolong hoaks, agar bisa diantisipasi tidak disebarkan.

“Alhamdulillah acara seperti ini sangat berfaedah. Saya jadi tahu macam-macam hoaks. Saya nanti akan ikut membantu jadi semacam agent untuk ikut mensosialisasikan anti hoaks keoada orang-orang di sekitar saya,” terang Vonika gembira.


Perang Melawan Hoaks, MPI sinergi Kemenko PMK Satker Revolusi Mental