Ubah Budaya dan Data dengan Literasi
  • 77
  • 0
  • 0
  • 0

Leksikon

Foto: (sumber: siedoo.com)

Dengan makna yang sangat kaya, literasi dapat dijadikan budaya baru yang sangat baik bagi kehidupan bangsa. Karena nyatanya, makna literasi itu bukan hanya membaca!

 

UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% atau rata-rata dari 1000 orang Indonesia hanya satu saja yang rajin membaca. Sementara itu, hasil riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.[i-[1] 

 

Di sisi lain, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Namun demikian, meski minat baca buku yang rendah tetapi orang Indonesia akan betah berlama-lama dengan gawainya hingga rata-rata sembilan jam, demikian disebutkan oleh data wearesocial per Januari 2017.  

 

Menurut tulisan dari Dosen, Pengelola Rumah Baca Arkara, dan Relawan Rumah Literasi Indonesia, M Iqbal, Masyarakat Indonesia sebenarnya masih asing dengan istilah literasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya RLB goes to school yang di laksanakan oleh Rumah Literasi Banyuwangi. Dari acara tersebut, rata-rata remaja kita belum faham dan bahkan baru mengenal literasi. Bagaimana mungkin meningkatkan kualitas literasi tapi makna dari literasi sendiri belum mengerti?” tulis Iqbal seperti dimuat di website resmi www.rumahliterasiindonesia.org

 

Iqbal dalam tulisannya memaparkan bahwa sebenarnya banyak hal yang berhubungan dengan dunia membaca dalam pengertian yang lebih luas dan cenderung diartikan sebagai literasi. Literasi di berbagai negara diartikan berbeda-beda. Literasi diartikan sebagai 1) kemampuan membaca surat atau berita; 2) kemampuan membaca dan menulis kalimat sederhana; 3) pencapaian sekolah yang diukur dengan naiknya tingkat pencapaian,” tulisnya lagi.

 

UNESCO (2005) merangkum beberapa evolusi dari makna literasi. Literasi awalnya diartikan sebagai keterampilan (literacy as skills), literasi diartikan sebagai penggunaan, praktik, dan kondisi, kemudian literasi diartikan sebagai proses belajar, dan terakhir literasi dimaknai sebagai suatu teks[i-[2] . Dari berbagai definisi itu, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan yang diperoleh dari proses belajar baik menulis maupun membaca sehingga mampu menggunakan, mempraktikkan, dan menjadikan hasil dari proses belajar tersebut sebagai budaya.

 

Iqbal mencatat, pengertian minat baca yang kemudian diartikan lebih luas dengan literasi menimbulkan dua identitas dalam tatanan sosial (social order). Mereka yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan minat terhadap membaca dan menulis disebut literate. Sedangkan mereka yang belum memiliki itu disebut illiterate. Identitas tersebut kemudian berubah menjadi educated dan non-educated. Perubahan identitas ini mengindikasikan bahwa mereka yang memiliki kualitas literasi rendah dianggap sebagai tidak terdidik (non-educated) sedangkan mereka yang memiliki kualitas literasi yang baik disebut terdidik (educated),” tambahnya. “Seiring dengan perkembangannya, literasi merasuk ke berbagai aspek kehidupan. Aziz (2016) membagi literasi kedalam berbagai macam bentuk, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan literasi moral (moral literacy). Berbagai jenis dari literasi ini menggambarkan bahwa memang literasi merupakan kunci ajaib yang mampu membuka pintu cakrawala pengetahuan. Selain itu, literasi juga tidak tepat jika diartikan hanya sebagai kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Tetapi lebih kepada bagaimana memaknai apa yang telah dibaca dan ditulis.

 

Iqbal lalu menyampaikan bahwa ada beberapa penulis telah banyak menghubungkan literasi[i-[3]  dengan ekonomi, literasi dengan politik, serta literasi dengan perubahan sosial. Negara berkembang seperti Indonesia banyak mengalami kendala tentang kependudukan. Mulai dari pertumbuhan penduduk, kemiskinan, kriminalitas, dan kasus SARA. Kekuatan politik dan ekonomi yang telah diusahakan dengan pergantian kepala negara dan berbagai kebijakannya selama ini masih belum mampu merubah wajah negeri yang menyandang gelar gemah ripah loh jinawi ini. Mungkin benar, bahwa perubahan sosial harus dilakukan dengan literasi,” tulisnya. Di penutup tulisannya, Iqbal mengungkapkan beberapa langkah yang dapat diambil dalam rangka menjadikan literasi sebagai budaya baru yang baik lagi bermanfaat, antara lain memahami literasi sebagai hak dan kapabilitas setiap individu; refleksi diri dalam merubah budaya keluarga; melakukan pola komunikasi yang bagus guna menstimulus kesadaran masyarakat untuk berperan aktif; menjadikan “pendidikan” sebagai motor penggerak literasi; bergabung dan berjejaring dengan komunitas atau lembaga yang memiliki visi dan misi tentang literasi; dan menjadikan “Kerelawanan” sebagai puncak karier tertinggi. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber