Siap Nikah Cara Website
  • 11
  • 0
  • 0
  • 0

Inovasi

Foto: (sumber: siapnikah.org)

Layanan ini hadir untuk makin memastikan kesiapan pasangan yang akan menikah. Tujuannya tidak lain, sedini mungkin menyiapkan pula generasi muda bangsa yang akan lahir nanti sebagai generasi yang unggul.

 

Membangun keluarga, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  memiliki tiga tujuan. Pertama, membangun ketahanan dan kualitas balita dan anak dalam memenuhi tumbuh kembangnya. Kedua, terbangunnya ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga. Ketiga, meningkatnya kualitas Lansia dan pemberdayaan keluarga rentan sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga. Serta, terwujudnya pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

 

Menikah memang tidak hanya melulu urusan cinta. Cinta memang penting tapi nyatanya masih ada beberapa aspek yang mesti dipertimbangkan. Kesiapan menikah setiap orang juga berbeda-beda. Keluarga bahagia menjadi impian semua orang meski kemudian terdapat syarat dan ketentuan berlaku. Sebab, membangun keluarga bahagia tidak semudah membalik telapak tangan, semuanya butuh persiapan matang.

 

Menurut Kepala BKKBN, dr.Hasto Wardoyo, SP.OG (K) ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Mulai dari dari kesiapan usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, keterampilan hidup, dan kesiapan intelektual. “Itulah kunci terbentuknya keluarga berkualitas,” ujarnya saat webinar launching website www.siapnikah.org awal Mei 2020 lalu. “Termasuk belajar parenting atau pengasuhan anak.”

 

Website ini, dalam keterangan resmi BKKBN, merupakan pengembangan dari www.siap-nikah.id hasil kolaborasi BKKBN dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kali ini, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan untuk mendesain website yang bisa menjadi one stop solution dan rujukan bagi generasi muda untuk mendapat bekal pengetahuan dan lebih siap saat menikah.

 

Salah satu dimensi yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah kesiapan usia. Hasto menyebut, usia siap nikah bagi laki-laki setidaknya 25 tahun dan perempuan 21 tahun. Namun, data menunjukkan jika angka hamil dan melahirkan pada usia 15-19 tahun  di Indonesia masih tinggi, 36 dari 1.000 kelahiran.

 

Jika menelusuri lebih lanjut website kesiapan menikah ini, para pengunjung akan disuguhkan aneka informasi mengenai seluk beluk pernikahan. Namun yang terpenting, sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga, ada baiknya Anda membaca 10 pedoman yang terdapat di website ini.

 

10 kesiapan menikah yang disebutkan yaitu:

 

1. Kesiapan Usia

Usia ideal minimal 25 tahun bagi laki-laki dan minimal 21 tahun bagi perempuan. Angka 25 tahun dan 21 tahun ini tidak ditentukan asal-asalan tapi berdasar riset panjang. Berdasarkan riset, seseorang secara fisik, psikologis, hingga finansial, lebih siap masuk ke jenjang pernikahan dibandingkan jika Dia menikah di usia sebelum itu.

 

2. Kesiapan Fisik

Berkeluarga butuh kesiapan fisik, untuk bekerja mencari nafkah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga hingga melakukan aktivitas seksual. Karena itu, jika memiliki riwayat penyakit seperti darah rendah, darah tinggi, hepatitis, atau penyakit menular seksual, sangat disarankan untuk berobat dulu sebelum menikah supaya benar-benar fit dan siap membangun keluarga berkualitas.

 

3. Kesiapan Finansial

Uang memang bukan segalanya tapi untuk menjalankan roda rumah tangga pasti membutuhkan uang. Karena itu, dalam merencanakan pernikahan, persiapan finansial juga diperlukan. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, persiapan kehamilan, perawatan anak, bahkan hingga biaya pendidikan anak. Karena itu, pastikan sebelum menikah setiap pasangan menikah sudah memiliki sumber pendapatan tetap. Setidaknya, saat berkeluarga nanti dapat mandiri secara finansial dan tidak membebani atau tergantung pada orang tua atau keluarga lainnya.

 

4. Kesiapan Mental

Hidup berkeluarga tidak selamanya mulus atau indah seperti saat masih pacaran. Terkadang ada hal yang tidak sesuai harapan. Sifat pasangan, kondisi ekonomi pasangan, sikap mertua dan keluarga besar, termasuk tantangan mendidik anak di era digital. Pola hidup di masa lajang dan saat berkeluarga juga akan berubah. Maka, semuanya butuh kesiapan mental.

 

5. Kesiapan Emosi

Kesiapan emosi ini juga patut diperhitungkan, misalnya bagaimana respon kita saat menghadapi tekanan atau saat tersinggung dengan ucapan atau perilaku orang lain, atau saat debat karena beda pendapat. Jika masih suka berteriak, marah-marah, sampai melempar barang ketika berbeda pendapat, tentu harus belajar mengelola emosi dulu sebelum menikah.

 

6. Kesiapan Sosial

Manusia tidak hanya makhluk individual tapi juga sosial. Maka dari itu, kemampuan bersosialisasi sangat penting dalam kehidupan keluarga. Bersosialisasi dengan teman-teman pasangan, dengan lingkungan yang baru, maupun dalam organisasi. Mengasah jiwa kerelawanan sosial juga bisa menjadi bekal berharga sebelum masuk jenjang pernikahan.

 

7. Kesiapan Moral

Moralitas berlaku universal, apapun agamanya. Kesiapan moral sangat penting untuk mengontrol perilaku agar dalam berkeluarga bisa memegang etika. Misalnya, menaati perintah Tuhan Yang Maha Kuasa, berlaku jujur, bersabar kala menghadapi ujian, hingga tidak menggunakan barang milik orang lain tanpa izin.

 

8. Kesiapan Interpersonal

Kemampuan interpersonal ini terkait dengan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan interpersonal akan bisa menjadi pendengar yang baik saat orang lain curhat, berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang hingga mampu berdiskusi dan mendengar pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.

 

9. Keterampilan Hidup

Keterampilan sangat dibutuhkan dalam hidup. Ketika berkeluarga, keterampilan itu makin dibutuhkan. Misalnya, keterampilan dasar seperti merapikan dan membersihkan rumah, memasak, mengasuh dan mendidik anak, menjalankan peran suami/istri. Merawat organ reproduksi hingga pengetahuan alat kontrasepsi untuk pengaturan jarak kehamilan juga menjadi keterampilan yang harus dimiliki.

 

10. Kesiapan Intelektual

Dalam berkeluarga, kemampuan intelektual bisa tercermin dari aktivitas pencarian informasi seputar kehidupan keluarga. Jika sudah mencari informasi untuk mendapat pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, pola hidup sehat, dan lainnya, maka dapat dinilai sudah memiliki bekal berharga sebelum menikah.

 

Dari 10 pedoman itu, bagaimana kira-kira kesiapan para pasangan menikah? Untuk lebih lengkapnya dapat mengisi kuisioner yang ada di https://questionnaire.siapnikah.org/. Setelah mengisi kuisioner, website ini akan memberi skor dan rekomendasi.

 

Kata ‘siap’ untuk memasuk babak baru kehidupan berupa pernikahan jadi kata kunci yang kemudian harus diutamakan dan dikedepankan. Dengan berbagai perhitungan dan pemikiran, ‘siap’ tadi dapat menjadi tonggak awal terbentuknya unit kecil kelompok sosial di masyarakat yaitu keluarga. Ke depan, dari keluarga ini pula diharapkan lahir generasi muda bangsa yang unggul karena telah diasuh dari pola pengasuhan bermutu dari orang tua yang tidak hanya ‘siap’ sejak awal tetapi juga kaya akan pengetahuan dan wawasan membangun rumah tangga yang baik.

 

Nilai-nilai baik karakter generasi bangsa dapat dipupuk dari keluarga. Anak yang hingga dewasanya nanti punya integritas, kepekaaan sosial semisal kuatnya jiwa gotong royong, dan beretos kerja tinggi, secara tidak langsung telah menunjukkan semangat dari nilai Gerakan Nasional Revolusi Mental sesuai dengan cita-cita pembangunan karakter bangsa Indonesia. Website www.siapnikah.org lantas hadir untuk memulai segalanya, agar para calon orang tua itu juga ‘siap’ dengan pasti.

 

BKKBN dalam rapat Kerja Nasional dan Rakornis Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (BANGGAKENCANA) untuk Tahun 2020 pada Februari lalu menegaskan bahwa akan terus mendukung dua agenda sekaligus dalam program kerjanya. Kedua agenda itu adalah pertama, pembangunan/Prioritas Nasional dalam rangka meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing serta Revolusi Mental; dan kedua, pembinaan Ideologi Pancasila untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa dan membentuk mentalitas bangsa yang maju, modern dan berkarakter.


Khusus dalam agenda prioritas nasional untuk meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing, BKKBN memiliki peran untuk melakukan pengendalian penduduk dan penguatan tata kelola kependudukan, dengan penekanan pada penguatan koordinasi, kolaborasi, dan sinkronisasi antar-kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota. Tidak hanya itu, para pemangku kepentingan dalam pengendalian penduduk dan tata kelola kependudukan juga dilibatkan. BKKBN juga masuk pada kegiatan prioritas pemaduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian penduduk.


BKKBN diketahui ambil bagian dalam kegiatan prioritas Peningkatan Kesehatan Ibu Anak, KB dan Kesehatan Reproduksi. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka prioritas nasional Revolusi Mental dan Pembinaan Ideologi Pancasila, dengan penekanan pada upaya untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa untuk membentuk mentalitas bangsa yang maju, modern, dan berkarakter. BKKBN dalam kegiatan ini berperan untuk fokus pada kegiatan proritas revolusi mental dalam sistem sosial yang sasarannya adalah pada penguatan ketahanan keluarga.
(*)



Diolah dari berbagai sumber