Setia Bekerja sambil Merawat Toleransi
  • 52
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: solopos.com)


Sosoknya yang setia dengan profesi sebagai sopir gereja telah mengajarkan kita semua bahwa toleransi itu sangat penting untuk dipelihara, d
ari pengalaman ini pula kita diajarkan akan perlunya memupuk terus rasa persatuan karena dalam keberagamannya, Indonesia juga harus selalu bersatu.

 

“Jika Indonesia tidak kondusif, tidak aman, ekonomi pasti kacau. Nah, siapa lagi yang dirugikan kalau bukan kita sendiri, apalagi orang-orang menengah ke bawah, pasti sangat terasa dampaknya. Saya orang biasa, pendidikan rendah tapi paham dengan toleransi karena Saya terlibat langsung, Saya menjalani. Mari Kita semua menjadi toleransi antar umat beragama, Mari Kita jaga NKRI tetap utuh, demi anak cucu Kita kelak.” Demikian penuturan Seorang Sopir Gereja yang akrab disapa Pakde.

 

Pakde memiliki nama asli Sapari. Panggilan Pakde dinobatkan karena dia merupakan perantauan asal Bantul, DI Yogyakarta. Hidup sebagai perantau di Kota Palembang sejak 1983 dan mencari nafkah menjadi buruh bangunan. Pria sederhana ini sangat dikenal para jemaat GPIB Immanuel, Kota Palembang, Sumsel.

 

Melepas profesi sebagai buruh bangunan, tiga tahun kemudian atau di tahun 1987, Pakde resmi bekerja sebagai sopir mobil gereja GBIP Immanuel Palembang. “Saya jadi sopir pertama di gereja itu. Gaji waktu itu sama dengan jadi buruh, kira-kira Rp60 ribu sebulan, tapi jadi sopir lebih santai, pakaian rapi, pakai sepatu, beda saat masih jadi tukang bangunan,” tuturnya. Pakde tidak merasa terganggu antara statusnya sebagai Muslim dengan pekerjaannya sebagai sopir gereja.

 

Tugas utamanya adalah antar jemput pendeta dari kediaman ke gereja, dari gereja ke gereja, dari gereja ke rumah sakit, atau menemui jemaat. Pakde juga kerap diminta mengantar pendeta keluar kota dan provinsi, seperti Prabumulih, Lempuing, Pendopo, Karang Endah, hingga Jambi. “Ya, tugas saya hanya melayani pendeta, ke mana pun dia pergi saya yang antar. Sesekali melayani pengurus gereja kalo ada keperluan,” ujarnya lagi.

 

Selama berhubungan dengan gereja dan pendeta, Pakde mengaku tidak pernah sama sekali bersinggungan dengan keyakinan yang dianutnya. Justru, pendeta sangat toleran terhadap keimanan Pakde. “Misal lagi di jalan dan terdengar adzan, saya diminta mampir ke masjid, pendeta bilang salatlah dulu kalo sudah masuk waktunya. Ya, saya pikir keimanan pendeta itu sudah tinggi, makanya tidak mau bicara soal keimanan saya, saling menghargai,”kata Pakde.

 

Demikian pula saat tiba di gereja, pendeta tidak pernah memintanya masuk mendengarkan khutbahnya, malah kemudian diminta beristirahat saja di mobil atau sekadar mengobrol saja dengan warga sekitar gereja. “Saya tidak pernah meminta dan pendeta juga tidak pernah mengajak masuk ke gereja. Saya kerja profesional, sesuai tugas saya saja, melayani, itu saja,” terang Pakde yang kini telah menjadi sopir senior dan driver satu bagi gereja.

 

Pegawai beragama Islam yang bekerja di gereja itu tidak hanya Pakde, masih ada seorang sopir, dua sekuriti, dan seorang tukang kebun yang turut mencari nafkah di sana. “Bagi kami bekerja di mana pun terserah, yang penting tidak menipu, tidak mencuri, pokoknya yang penting halal. Kami berlima muslim, tapi rukun dengan jemaat-jemaat gereja,” katanya. “Alhamdulillah, keluarga saya harmonis saja, tidak ada cemoohan tetangga walaupun kerja di gereja, ketiga anak saya sekolah semua, ada masih SMP, SMA, dan satu lagi akan diwisuda.”

 

Pakde mengaku kerap mengamati pergolakan politik di Indonesia dan merasa miris dengan isu-isu intoleransi dan ketidakharmonisan antarumat beragama. Baginya, hal itu tidak perlu terjadi jika setiap warga negara memiliki keimanan dan kebangsaan yang tinggi. Intoleransi justru memecah belah persatuan bangsa dan menghancurkan NKRI. “Semua cinta Indonesia, Kita adalah Indonesia, mari jaga NKRI. Terlalu bodoh bangsa hancur karena perbedaan keyakinan. Inilah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, harus dipahami betul,” tegasnya. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber