Saat Kebersamaan Begitu Dibutuhkan
  • 87
  • 0
  • 0
  • 0

Foto: (sumber: liputan6.com)


 

Nilai Kegotongroyongan khas Bangsa Indonesia kembali diperkuat. Wabah Covid-19 dianggap sebagai musibah dunia tapi di sisi lain justru jadi pembangkit lahirnya empati sosial.

 

Terus meningkatnya jumlah kasus akibat Wabah Covid-19 membawa keresahan tersendiri bagi masyarakat, belum lagi dengan segala dampak yang ditimbulkan. Semua kegiatan nyaris berhenti dan apapun kalau bisa dilakukan cukup dari dalam rumah saja.

 

Selain proses penanganan yang terus dapat dipantau, di tengah masyarakat yang justru muncul adalah ketakutan yang akhirnya berujung penolakan terhadap mereka yang dipastikan positif Covid-19 atau bahkan mereka yang sudah menjadi jenazah atau meninggal dunia karena Covid-19 ini.

 

Salah satu yang disorot adalah penolakan jenazah di tempat pemakaman umum (TPU) di Makassar dan Gowa, Sulawesi Selatan, akhir Maret 2020 lalu. Warga di sekitar TPU Baki Nipa-nipa, Kelurahan Antang, Manggala, Makassar, ramai menolak prosesi pemakaman jenazah yang diketahui meninggal dunia akibat terjangkit Covid-19. Masih di Manggala, penolakan juga datang dari warga sekitar TPU Pannara.

 

Tidak lama berselang, penolakan serupa juga datang dari warga Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. Warga memblokade jalan masuk desa yang berbatasan dengan Desa Karangtengah sejak dini hari. Menurut penuturan seorang warga, penolakan tersebut lantaran warga resah dengan berita adanya pemakaman warga yang terinfeksi Covid-19.

 

Dalam unggahan di akun lain milik warganet bernama Cella @AkuDiyem dijelaskan bahwa Dinas Kesehatan Banyumas menguburkan dua jenazah tanpa izin warga terlebih dahulu. Belakangan diketahui, kedua jenazah itu bukan warga desa setempat melainkan warga Purwokerto dan sebelumnya sudah mengalami penolakan. Akhirnya, Bupati Banyumas, Ahmad Husein turun tangan dan ikut menggali kembali kuburan itu.

 

Kasus penolakan terbaru di minggu kedua April 2020 terjadi terkait rencana pemakaman seorang perawat asal Kab Semarang, Jateng yang meninggal dunia karena positif Covid-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sewakul, Ungaran Timur. Lokasi pemakaman yang sebelumnya sudah ditetapkan akhirnya berubah sebab ada penolakan sebagian warga. Makam sudah digali tetapi tiba-tiba ada penolakan oleh sekelompok masyarakat. Padahal, informasi awal dari RT setempat sudah tidak ada masalah. Atas penolakan ini, akhirnya tempat pemakaman dipindah. Oleh keluarganya, jenazah perawat itu dimakamkan di Bergota makam keluarga RS Kariadi Semarang atau sesuai dengan tempat bertugasnya selama ini. Sangat disayangkan kalau sebenarnya secara medis proses pemulasaran dan pemakaman jenazah sudah aman karena dilakukan oleh petugas khusus. Jadi, masyarakat seharusnya tidak perlu kuatir berlebihan.

 

Menanggapi adanya penolakan jenazah di Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan sampai melibatkan aparat TNI-Polri untuk mengawal proses pemakaman jenazah yang terinfeksi Covid-19 di tempat Pekuburan umum yang selama ini mendapat penolakan warga. “Jadi telah dibagi tugas, soal kasus adanya penolakan-penolakan (jenazah di pekuburan) dikawal petugas. Jadi nanti tidak ada lagi penolakan di masyarakat,” tegas Pejabat (Pj) Wali Kota Makassar, M Iqbal Suhaeb seperti dikutip Antara.

 

Iqbal mengemukakan, saat ini masyarakat masih belum paham benar tentang penanganan Wabah Covid-19. Bahkan, satu hal yang sering mendapat penolakan dari warga adalah pemakaman jenazah pasien yang terjangkit, hingga keluarganya ikut dikucilkan atau ditolak tinggal di permukimannya. Menanggapi persoalan itu, tambahnya, tim gugus tugas yang telah dibentuk untuk segera melakukan langkah sosialisasi secara masif. Mengingat dalam waktu dekat mulai diberlakukan karantina parsial di wilayah pemukiman-pemukiman warga.

 

Aparat keamanan wilayah seperti Dandim dan Polrestabes beserta jajaran Polsek menurut Iqbal dapat bergerak memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat soal Covid-19 termasuk pencegahannya untuk sementara tinggal di rumah sampai wabah ini berakhir.

 

Sementara itu, menurut Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah meminta agar kepala daerah lebih intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemakaman korban Covid-19 agar tidak mendapatkan penolakan warga saat dikuburkan. Nurdin mengatakan kepala daerah harus mensosialisasikan jika semua yang positif tidak lagi diperkenankan kembali ke rumah karena rumah sakit sudah memberikan semua pelayanan hingga pemakaman. “Dan masyarakat perlu memaklumi, bahwa ini sudah tidak ada pengaruh apa-apa, apa lagi ada penularan dan sebagainya. Saya sedih sekali melihat ada yang akan dimakamkan harus ditolak, padahal ini bukan sebuah kejahatan, ini adalah sebuah cobaan,” ungkapnya.

 

Menanggapi polemik ini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir angkat bicara. Dia meminta masyarakat tidak menolak penguburan jenazah pasien positif Covid-19 di lingkungannya. “Jika pemerintah dan para pihak telah menetapkan kuburan bagi jenazah Covid-19 sesuai protokol, maka tidak sebaiknya warga masyarakat menolak penguburan. Apalagi sampai meminta jenazah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali dan dipindahkan,” katanya seperti dikutip dari tirto.id.

 

Haedar selanjutnya mengimbau agar pasien yang meninggal akibat Covid-19 dapat diperlakukan sebagai sesama saudara yang harus diperlakukan dengan penghormatan yang baik. Bahkan, pasien Covid-19 meninggal dunia yang sebelumnya telah berikhtiar dengan penuh keimanan untuk mencegah dan atau mengobatinya, akan mendapat pahala seperti pahala orang mati syahid. Selain itu, Haedar meminta agar mereka yang dinyatakan positif Covid-19 dapat disikapi dengan baik sehingga apabila pasien itu dikarantina di satu lokasi atau menempuh karantina sendiri di kediamannya jangan sampai warga menolak.

 

Haedar juga meminta semua pihak berkorban dan menunjukkan keluhuran sikap kemanusiaan dan kebersamaan. Warga yang menolak, menurutnya, agar diberi pemahaman karena mungkin terlalu panik dan belum mengerti. Dalam hal ini, menurut dia, peran tokoh dan pemuka agama setempat sangat penting. Haedar berharap semua pihak bisa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar berjiwa sosial, gotong royong, dan religius terhadap sesama, apalagi kepada korban Covid-19 dan keluarganya. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber