Patut Berbangga, Indonesia Punya Jumlah Relawan Terbanyak di Dunia
  • 98
  • 0
  • 0
  • 0

Sesuatu yang baik lagi membudaya, diyakini dapat mempengaruhi perilaku suatu bangsa.Indeks kebahagiaan mereka pun akan mengikuti.

 

Kebiasaan berbagi, hidup gotong rotong, dan siap terjun langsung jika ada musibah atau bencana, adalah sedikit dari budaya memelihara kebersamaan di tanah air kita. Sudah diamalkan sejak zaman nenek moyang, perilaku baik tadi saat sekarang justru jadi catatan tersendiri.

 

Secara legal, perilaku baik ini telah dikukuhkan kembali dalam suatu gerakan nasional yaitu Gerakan Indonesi Bersatu. Melalui gerakan ini, bangsa Indonesia diharapkan terus mengedepankan ajaran nilai-nilai luhur nenek moyang kita. Maka, tidak heran bahwa sesungguhnya nilai ajaran baik itu terus diamalkan hingga kini dan menjadi prestasi berarti di tengah pergaulan masyarakat dunia.

 

Ketika negara lain diterpa konflik bersaudara, Indonesia diapresiasi sebagai negara dengan jumlah relawan terbanyak di dunia. Sebut saja dalam aksi bersih-bersih laut pada September 2018 lalu misalnya, dalam Clean World Conference yang dilaksanakan di Tallin, Estonia, 24-27 Januari 2019, Indonesia diumumkan menjadi negara pertama yang memimpin aksi cleanup terbesar di dunia dengan melibatkan 7,6 juta relawan.

 

Relawan untuk kegiatan positif yang biasanya mengasah jiwa untuk berbagi, beramal, dan berempati ini, menurut rilis resmi di awal tahun 2020 Lembaga Statistik semacam Gallup, menyatakan bahwa sekitar 53% dari total relawan di seluruh dunia itu berada di Indonesia. Indonesia mengungguli Liberia yang mencatatkan angka 47% relawan, disusul Kenya (45%), Sri Lanka (45%), dan Australia (40%).

 

Aksi kerelawanan ini kembali dibuktikan kekuatannya ketika Indonesia menghadapi meluasnya wabah Covid-19 seperti saat ini. Melalui pendaftaran yang dibuka secara daring mulai 25-28 Maret 2020 lalu, relawan yang mendaftar diketahui mencapai 5.816 orang. Pendaftaran selam tiga hari itu diketahui berhasil menjaring relawan yang justru kebanyakan bukanlah tenaga medis sebagaimana kebutuhan saat ini. Dari 5.816 orang yang telah mendaftar itu, kebanyakan relawan untuk tenaga nonmedis, yakni 4.008 orang; sedangkan untuk relawan medis dan tenaga medis sebanyak 1.808 orang.

 

Para relawan itu yang terbanyak adalah mereka berusia produktif yaitu 19-30 tahun. Mereka adalah 2.364 orang laki-laki dan 1.856 orang perempuan. Kelompok usia terbanyak kedua, yakni dari 31 tahun sampai dengan 30 tahun, sebanyak 636 laki-laki dan 225 perempuan. Selanjutnya kelompok usia 41-50 tahun, sebanyak 275 laki-laki dan 68 perempuan. Kelompok usia 51-60 tahun sebanyak 75 orang laki-laki dan 25 perempuan. Terakhir, kelompok usia di atas 60 tahun berjumlah lima orang.

 

Keberadaan para relawan ini, menurut Kepala BNPB sekaligus Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo, punya peran penting dalam mengatasi wabah virus corona. “Tim relawan penting bagi kami hari ini karena konsepsi dalam penanganan wabah Covid-19 ini pemerintah tidak mungkin berdiri sendiri,” katanya.

 

 

 

 

Gallup dalam surveinya bertanya kepada para respondennya apakah mereka menyumbangkan uang untuk amal kemanusiaan, menjadi relawan untuk sebuah organisasi, atau membantu orang asing. Gallup juga mengungkapkan tinggi-rendahnya jumlah amal dan relawan suatu negara dapat mempengaruhi indeks kebahagiaan warganya.

 

Akhirnya, Gallup  menegaskan kalau budaya di suatu negara dapat sangat mempengaruhi perilaku warganya. Myanmar misalnya, negara ini memiliki angka sumbangan dana kemanusiaan tertinggi di dunia karena warganya teguh mengamalkan ajaran Budha Theravada. Sementara untuk negara-negara seperti Yaman, Palestina, dan Yunani, jumlah relawan atau dana amal mereka tidak terlalu tinggi lantaran negaranya diterpa konflik atau krisis finansial yang dahsyat.

 

Pada dasarnya pula, sebenarnya siapa saja boleh jadi relawan. Secara umum, kerelawanan adalah segala bentuk bantuan yang diberikan secara sukarela untuk membantu atau menolong sesama, sedangkan relawan adalah seseorang yang sukarela meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan keahliannya untuk menolong sesama yang sedang membutuhkan.

 

Sifat kerelawanan itu sejatinya sudah dimiliki oleh setiap manusia, terlebih bagi Bangsa Indonesia yang terkenal dengan sifat ramah, santun serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Semua itu bahkan telah diajarkan sedini mungkin baik di rumah maupun sekolah dengan harapan dapat menjadi bekal kehidupan. Meski demikian, jangan karena kerja sukarela, siapa pun yang siap jadi relawan harus punya sejumlah kriteria penting antara lain visioner, loyalitas, karakter, kapabilitas, kapasitas, kreativitas, kredibilitas, komitmen, dan kompatiblitas. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber