Pakta Integritas: Ingat Manfaat, Perbaiki Diri
  • 34
  • 0
  • 0
  • 0

Praktik Baik

Foto: (sumber: radenintan.ac.id)

Menanamkan dan membudayakan karakter baik dipertegas dengan adanya pakta integritas. Khusus bagi generasi muda, penandatanganan pakta integritas diharapkan dapat mencegah tindakan tanpa perikemanusiaan, terlebih mereka adalah calon pemimpin di masa depan. Seberapa perlu?

 

Seperti kampus lain di tanah air, Universitas Indonesia (UI), sesuai kalender akademik yang berlaku akhirnya membuka sesi perkuliahan bagi para mahasiswa baru. Seperti kampus lainnya pula, para mahasiswa baru itu dilaporkan oleh Tempo diminta untuk menandatangani dan mengikuti berbagai poin penting dalam  pakta integritas yang dikeluarkan oleh pihak rektorat UI.

 

Sedikitnya ada 13 aturan yang harus diikuti oleh mahasiswa baru berjumlah 3,934 itu. Perjanjian ini akan terus berlaku selama para mahasiswa menempuh studinya di lingkungan UI. Pakta integritas itu menegaskan sejumlah aturan yang dilarang untuk dijalankan para mahasiswa selama perkuliahan, mulai dari kegiatan keorganisasian tanpa izin dari fakultas dan universitas hingga sanksi yang akan dijatuhkan jika mereka melanggar pakta integritas itu.

 

Ke-13 poin dalam pakta integritas bagi mahasiswa baru UI itu sejatinya adalah upaya menerapkan sembilan nilai-nilai dasar Universtitas Indonesia dalam perilaku sehari-hari, antara lain menaati aturan dan tata tertib yang berlaku di Universitas Indonesia, sebagaimana tercantum dalam peraturan rektor tentang organisasi tata dan laksana kemahasiswaan universitas Indonesia; menerima dan menjalankan sanksi akademik dan non-akademik ketika melakukan pelanggaran selama menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia; menerima dan menjalankan sanksi pidana dan/atau perdata ketika melakukan pelanggaran terhadap hukum positif yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia; menerima dan menjalankan sanksi atas segala tindakan, sikap, perkataan dan aktivitas mahasiswa yang mencoreng nama baik pribadi dan institusi Universitas Indonesia di ruang luring dan daring, sesuai peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; memberikan informasi dan data yang sebenar-benarnya sesuai kebutuhan universitas; menjaga harkat dan martabat pribadi, keluarga, dan institusi Universitas Indonesia; mempersiapkan diri dan menjalankan dengan sungguh-sungguh apabila diminta mewakili Universitas Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam berbagai program akademik dan non akademik; siap menjaga kesehatan fisik dan mental serta bertanggungjawab secara pribadi jika dikemudian hari mengalami gangguan kesehatan fisik dan/atau mental; tidak terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara; tidak melaksanakan dan/atau mengikuti kegiatan yang bersifat kaderisasi/orientasi studi/latihan/pertemuan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang tidak mendapat izin resmi dari pimpinan fakultas dan/atau pimpinan universitas Indonesia; tidak terlibat dalam tindakan kriminal, sebagai pengguna maupun pengedar minuman keras (miras), narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba); dan tidak melakukan aktivitas kekerasan fisik, mental, verbal, non-verbal dan/atau seksual terhadap civitas akademika dan masyarakat baik secara luring dan daring, serta siap menerima sanksi akademik, non-akademik, pidana dan/atau perdata atas pelanggaran yang dilakukan.

 

“Dengan ini, saya telah membaca, memahami isi dari pakta integritas ini, serta setuju secara sadar dan tanpa ada unsur paksaan, untuk menandatanganinya. Jika saya melakukan pelanggaran terhadap pakta integritas ini, maka saya bersedia menerima sanksi dari Universitas, yang setinggi-tingginya yaitu pemberhentian sebagai mahasiswa/i Universitas Indonesia,” demikian kutip Tempo. Menurut Kepala Biro Humas dan KIP UI, Amelita Lusia, secara singkat dijelaskannya bahwa penandatanganan Pakta Integritas itu dilakukan baru tahun ini. “Ya (baru tahun ini),” katanya. 

 

Lazimnya, penandatanganan pakta integritas dilakukan oleh aparat negara demi mencegah tindak pidana korupsi dan di atas semua itu, pakta integritas ini meminta para pejabat negara tadi untuk mau bekerja sesuai dengan aturan, moral kemanusiaan, dan membantu mereka untuk dapat bekerja lebih baik lagi. Meski masalah ke depannya tentu akan lebih berat, tekanan beban kerja diharapkan jadi seolah tidak terlalu memberatkan jika memang selalu mengingat poin apa saja dari pakta integritas yang sudah ditandatangani saat terjadinya pelantikan jabatan.

 

Secara umum, sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pakta berarti  bentuk perjanjian yang merupakan persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu. Integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan atau kejujuran.

 

Secara hukum, pakta integritas bertujuan untuk memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi; menumbuhkembangkan keterbukaan dan kejujuran, serta memperlancar pelaksanaan tugas yang berkualitas, efektif, efisien, dan akuntabel; mewujudkan pemerintah dan masyarakat Indonesia yang maju, mandiri, bertanggung jawab, dan bermartabat dengan dilandasi oleh nilai-nilai luhur budaya bangsa, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Pancasila.

 

Baik pakta integritas yang diberlakukan kepada pejabat negara maupun mahasiswa baru, perjanjian mengikat secara moral ini diharapkan memunculkan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia yang mau berbudi luhur dengan selalu mengingat nilai kebaikan dari proses pembelajaran dan bekerja yang sudah dilakukan. Jika mahasiswa lantas “digembleng” untuk menjadi pribadi dengan budi pekerti yang luhur saat nanti siap terjun ke tengah masyarakat, dengan pakta integritas ini, para pejabat negara diharapkan mengeluarkan kebijakan humanis yang tentu dapat membantu upaya pembangunan dan menyejahterakan masyarakat.

 

Integritas diri dapat digambarkan sebagai seberapa banyak kita menerapkan etika pada diri sendiri mulai dari pertanyaan tentang “apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di hadapan kita adalah hal-hal kecil dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita.” Integritas adalah kualitas keadilan pribadi dan pasti akan berpengaruh terhadap hubungan antarsesama manusia, baik dalam lingkungan hubungan dekat maupun profesional.  Integritas dapat diperoleh dengan cara merekatkan diri sendiri pada landasan moral semisal bicara jujur, menghargai orang lain, atau bersikap penuh ketulusan. Integritas juga dapat muncul jika kita selalu optimis, pikiran dipenuhi dengan kata dan perbuatan positif. Cara lainnya adalah dengan mengasah keterampilan untuk tidak mementingkan diri sendiri, bahkan terus berusaha memperluas hubungan sosial dengan banyak pihak demi memperoleh banyak dukungan dan semangat. Berintegritas itu menguntungkan, percayalah! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber