Mudahnya Cetak Dokumen Kependudukan dengan ADM
  • 29
  • 0
  • 0
  • 0

Inovasi

Foto: (sumber: Indonesia.go.id)


Inovasi layanan publik terus dilakukan tentu dengan tujuan makin memudahkan akses masyaralat terhadap dokumen kependudukan. “Memangkas” juga celah korupsi dan pungli, [i-[1] kata Presiden Jokowi.

 

Memasuki tahun 2020, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berinovasi berupa Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) yang serupa dengan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) pada tahun 2020. ATM Dukcapil ini nantinya akan mengeluarkan hasil cetakan dokumen yang dibutuhkan pemohon seperti e-KTP, KK, atau akta kelahiran. ADM Dukcapil ini lahir dari banyaknya keluhan masyarakat mengenai proses pencetakan e-KTP yang membutuhkan waktu sangat lama di beberapa daerah.

 

Beberapa waktu lalu, proses pencetakan dokumen kependudukan semacam e-KTP, dimanfaatkan oleh oknum PNS dalam bentuk pungli dengan janji cepatnya waktu proses pembuatan e-KTP. Dalam video yang berdurasi 57 detik, oknum PNS perempuan itu terekam sedang menyortir KTP di tangannya. Dia kemudian menanyakan nama lalu menawarkan pilihan pengurusan KTP. “Mau yang cepat atau mengantre?” tanyanya seperti dikutip dari idntimes.com. Jika mau cepat, katanya, masyarakat biasanya membayar Rp100 ribu. Lama pengurusannya berkisar satu sampai dua minggu. Jika jalur normal, maka KTP selesai lebih lama. “Kayak ginilah dia, bisa sebulan atau dua bulan,” katanya lagi sambil menunjukkan tumpukan KTP dalam plastik.

 

Meski setelah dimintai keterangan video itu hanya main-main, Camat Batangkuis, Avro Wibowo akhirnya melakukan tindakan tegas. Avro mengaku sudah memindahkan oknum pegawai dari bidang pelayanan KTP. Dia sudah bersurat dengan Bupati Deli Serdang untuk tindak lanjut dugaan pungli itu. Avro juga menunggu sanksi yang akan diberlakukan dari inspektorat sementara masih menelusuri kebenaran video itu. Lantaran di dalam video oknum pegawai tidak terekam menerima uang.

 

Praktik pungli seperti di atas, tentu tidak akan terjadi lagi jika ADM sudah banyak tersedia dan siapa melayani masyarakat secara mandiri. ADM dapat dimanfaatkan masyarakat tentu dengan memenuhi sejumlah prosedur. Pertama-tama, masyarakat diminta mendaftar untuk membuat e-KTP dan dokumen lain yang tetap dilakukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) sementara proses pencetakan dokumen dapat dilakukan dengan bantuan mesin ADM. Untuk melakukan pencetakan, pemohon akan mendapatkan PIN yang dikirim ke nomor ponsel setelah mendaftar ke Kantor Dukcapil. Ada dua PIN yang akan diterima pemohon, yakni PIN untuk masuk ke mesin ADM dan untuk mencetak. PIN ini hanya bisa digunakan untuk sekali pencetakan.

 

Makan waktu hanya sekitar 2-3 menit, berikut cara mencetak e-KTP dengan mesin ADM:[i-[2] 

 

  1. Datangi kantor Dukcapil yang ada di kota Anda. Ajukan permohonan untuk membuat dokumen kependudukan seperti e-KTP, KK, atau akta kelahiran. Anda akan dimintai nomor ponsel yang berguna untuk proses pencetakan dokumen.
  2. Kemudian Anda akan mendapatkan nomor PIN yang dikirim melalui SMS ke nomor ponsel. Tiap pemohon akan mendapatkan PIN untuk masuk ke ADM dan PIN untuk mencetak dokumen masing-masing satu.
  3. Ada QR Code juga yang akan dikirimkan ke email yang Anda daftarkan ke Dukcapil. QR Code ini berfungsi sebagai alternatif jika tak bisa menggunakan PIN.
  4. Pergi ke mesin ADM untuk melakukan pencetakan. Masukkan PIN untuk mengaktifkan mesin.
  5. Ada tiga pilihan yang akan Anda dapatkan yakni menggunakan sidik jari, Nomor Induk Kependudukan (NIK), atau QR Code. Pilih salah satu dari tiga opsi tersebut.
  6. Ikuti alur yang diminta oleh sistem, isi semua data yang dibutuhkan hingga muncul perintah Silakan Cetak. Bersama menu tersebut Anda akan diberi pilihan untuk menggunakan PIN atau QR Code. Pilih salah satu metode yang Anda inginkan.
  7. Tunggu beberapa saat hingga fisik dokumen yang Anda inginkan keluar dari mesin ADM. Proses pencetakan dokumen kependudukan pun telah selesai.
  8. PIN rencananya akan diaktifkan selama dua tahun agar tak disalahgunakan oleh orang lain. Anda bisa meminta PIN baru andai masa aktif telah habis.
  9. Proses pencetakan dokumen tak memerlukan biaya sepeser pun. Waktu yang dihabiskan untuk mencetak pun tak sampai dua menit sejak mengaktifkan mesin ADM.
  10. Mesin ADM rencananya akan disebar di tempat-tempat umum seperti mall, kantor pemerintahan, pasar, stasiun, terminal, dan bandara.

 

Tidak lama setelah diluncurkan, ADM oleh Presiden Jokowi dinyatakan sebagai salah langkah maju dalam mencegah praktik korupsi dan pungutan liar yang selama ini sering terjadi. Hal ini disampaikan oleh Jokowi saat menghadiri kegiatan Kenduri Kebangsaan di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, pada Februari 2020 lalu. Presiden Jokowi sangat mengapresiasi inovasi layanan publik semacam ini dan langsung melakukan simulasi pencetakan dokumen kependudukan di Stand Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) Dukcapil Kemendagri pada kesempatan kunker itu. “Saya kagum dengan inovasi yang dibuat, saya juga bangga Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) sudah ada di provinsi paling ujung Indonesia di Kabupaten Bireuen,” [i-[3] kata Presiden Jokowi lagi seperti dikutip dari indonews.id

 

Sejak pertama diluncurkan, ADM rencananya akan terpasang di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia. Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakhrulloh, mengatakan ADM akan dipasang di lokasi keramaian, seperti di pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, stasiun kereta, dan lain-lain. Dengan demikian, layanan dokumen kependudukan ini dapat semakin dekat dengan masyarakat, terlebih lagi tidak makan banyak waktu karena mesin ini akan melayani 24 jam penuh.


Meningkatnya kualitas pelayanan publik merupakan salah satu capaian keberhasilan pelaksanaan Gerakan Indonesia Melayani yang mana jadi salah satu fokus Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama kecanggihan teknologi, semoga semakin banyak dan berkembang lagi inovasi layanan publik seperti ADM ini. Tujuannya tentu saja mempermudah akses masyarakat, menghemat waktu dan energi, terlebih lagi uang. Jika sudah demikian, praktik “kecil” korupsi atau pungutan liar yang sulit diberantas itu juga jadi setingkat lebih maju upayanya, paling tidak mengurangi angkanya!
(*)

 

Diolah dari berbagai sumber