Menyamar, Kampanye Baik demi Kedisiplinan
  • 12
  • 0
  • 0
  • 0

Praktik baik

Foto: (sumber: video.tribunnews.com)

Kepala daerah harus terjun langsung dalam rangka kampanye kedisiplinan perilaku warganya dari penyebaran Covid-19.

 

Melakukan penyamaran di kluster yang berpotensi besar terjadinya penyebaran Covid-19 semacam pasar tradisional dilakukan oleh Bupati Bengkulu Selatan, Gusnan Mulyadi. Orang nomor satu di Kab Bengkulu Selatan ini dinilai sukses dalam penyamaran itu meskipun sebelumnya membuat geger warganya. Tidak ada yang menyangka, pria dengan tampilan pedagang sayur kebanyakan di tengah pasar itu, duduk menjajakan sayuran di depan lapaknya ternyata seorang bupati.


Usai terbongkar aksinya, sang bupati kepada wartawan akhirnya mengaku punya misi khusus dalam penyamaran ini. Aksi Bupati Gusnan ini pun viral di jagat facebook
dengan akun @GusnanGundul lewat unggahan video tentang seorang pedagang sayur mengenakan masker dan face shield di Pasar Ampera, Bengkulu Selatan. Pedagang itu berteriak menawarkan dagangannya. Beberapa pembeli mendatangi lapaknya dan menawar beberapa sayuran yang dijajakan. Saat asyik melayani pembeli, pedagang lain terlihat menghampiri lapak yang sedang terjadi transaksi jual beli itu. Pedagang yang datang tanpa mengenakan masker itu terlihat protes menggunakan bahasa daerah dan heran mengapa pembeli tidak belanja di lapaknya.


Namun, para pembeli tidak menggubris pedagang yang protes tadi. Pembeli justru mengingatkan pedagang itu agar mengenakan 
masker saat berdagang selama Wabah Covid-19. Transaksi jual beli pun selesai. Pedagang mengenakan masker dan face shield itu berhasil menjual satu kilogram sayuran. Penyamaran Bupati Gusnan ini sempat menarik perhatian baik pedagang maupun pembeli di Pasar Ampera. Sejumlah orang terlihat berdiri di sekitar lapaknya.


Saat dikonfirmasi, Gusnan menjelaskan, video itu merupakan aksi sosial dalam rangka pembuatan kampanye protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di 
pasar tradisional. “Ini sebenarnya salah satu kampanye kita kepada pedagang dan pembeli untuk mematuhi protokol Covid-19. Pedagang yang tidak pakai masker atau face shield kita minta pada pembeli jangan dibeli dagangannya,” kata Gusnan saat dihubungi Kompas.com


Lewat aksi ini, menurut Gusnan, Pemerintah Kabupaten 
Bengkulu Selatan ingin mengajak masyarakat dan pedagang mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak saat bertransaksi di pasar tradisional. Dia pun mengingatkan masyarakat agar tidak membeli dagangan pedagang yang tidak memakai masker dan pelindung wajah.

 

Sementara itu, menurut Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ferry Juliantono, realisasi pelaksanaan protokol kenormalan baru di pasar tradisional tidak mudah. Sebab, tambahnya, keterbatasan lahan pasar menjadi kendala utama untuk protokol kesehatan seperti menjaga jarak antarpedagang bisa dijalankan.


“Masing-masing pedagang itu mereka terlalu berdempet. Kita sudah usul supaya lahan parkir itu jadi penambahan lapak atau kios. Supaya jarak antara pedagang bisa terjaga,” ujar Ferry saat diskusi virtual di Jakarta. Ferry menyebut diperlukan regulasi dan struktur baru agar penerapan new normal bisa efektif di lapangan.


“Saya sudah menyampaikan ke Menteri Koperasi dan UKM (Teten Masduki--red), saya bilang Pak kita harus memberikan contoh penerapan protokol kesehatan di 
pasar,” ungkapnya lagi. APPSI juga menyayangkan pemerintah tidak benar-benar memberi perhatian serius untuk pasar tradisional padahal berpotensi menjadi klaster baru Covid-19.


Ferry mencontohkan di DKI Jakarta misalnya dari 140 
pasar yang ada hanya 10 sampai 20 pasar yang dilakukan penyemprotan disinfektan. “Sisanya 120 pasar tidak ada tindakan dan alat yang memadai. Walhasil, kita APSSI dan paguyuban pasar melakukan persiapan secara mandiri. Kita sedih juga satu sisi punya kewajiban buka tapi sisi lain kita tidak dilengkapi dengan alat yang memadai,” paparnya. APPSI berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada pasar agar protokol kesehatan bisa dilaksanakan jauh lebih ketat. “Faktanya kesadaran itu kalah oleh tuntutan orang yang mau berdagang dan orang yang mau beli/belanja.”


Aksi penyamaran kepala daerah demi mencontohkan kedisiplinan bagi warganya dapat menjadi pelajaran bagi daerah lain di tanah air. Sikap taat dan patuh terhadap nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawabnya sebagaimana makna dari disiplin saat terjadinya Wabah Covid-19 ini tentu sangat dituntut. Dengan kata lain, disiplin adalah patuh terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian, sedangkan pendisiplinan adalah sebuah usaha yang dilaksanakan untuk menanamkan nilai atau pemaksaan supaya subjek mentaati sebuah peraturan. Sikap disiplin yang diharapkan nanti semakin membudaya merupakan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Gerakan Indonesia Tertib
sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Program-program Gerakan Indonesia Tertib nantinya akan mengacu pada cita-cita revolusi mental. Selain itu, aksi penyamaran Bupati Gusnan dapat juga menjadi contoh Gerakan Indonesia Melayani sekaligus imbauan melaksanakan Gerakan Indonesia Bersih yang menampakkan layanan publik seorang kepala daerah terhadap warganya. Penyamaran yang dapat juga dianggap sebagai kampanye publik dari gerakan sosial untuk tetap menjaga kebersihan demi pencegahan meluasnya wabah Covid-19 ini. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber