Mendongeng Untuk Bangun Karakter Anak Sejak Dini
  • 121
  • 0
  • 1
  • 0

Pendidikan anak tidak selalu harus dilakukan melalui lembaga formal seperti sekolah yang sarat akan peningkatan kompetensi kognitif. Sisi emosional, kreativitas, dan imajinasi dari anak juga perlu dididik dengan baik sehingga anak nantinya dapat memiliki karakter yang unggul tidak hanya secara kognitif tetapi juga memiliki kepekaan emosi. Di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah terdapat sebuah lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang fokus untuk mendidik anak-anak melalui metode yang cukup unik yaitu mendongeng. PKBM ini dikenal sebagai Omah Dongeng Marwah.

Meski bersifat informal, Omah Dongeng yang terletak 60 Km dari Kota Semarang ini memiliki komitmen untuk membangun karakter anak yang kreatif, memiliki imajinasi, dan tentu saja memahami dan mencintai kearifan lokal. “Melalui omah dongeng ini, kami menghadirkan metode pendidikan yang berbeda dengan yang saat ini diselenggarakan melalui lembaga pendidikan formal. Kami bertumpu pada metode mendongeng untuk mendorong imajinasi dan kreativitas anak sehingga mereka nantinya juga memiliki kepekaan emosi” jelas Hasan Aoni pendiri dari Omah Dongeng Marwah ketika diwawancarai.

Selain itu, melalui Omah Dongeng Marwah, Hasan juga ingin melestarikan tradisi mendongeng yang saat ini sudah hampir hilang di tengah-tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Mendongeng menurutnya merupakan salah satu metode pendidikan yang cukup tepat bagi anak-anak. “Terutama ketika yang mendongeng itu adalah orang tua karena mereka memiliki hubungan emosional yang sangat dekat denga sang anak. Oleh karena itu, melalui Omah Dongen Marwah, kami ingin mendorong para orang tua untuk juga ikut aktif mendongeng kepada anak-anaknya” ungkap Hasan.

Selain mendongeng, terdapat berbagai kegiatan lainnya yang bertujuan untuk membangun imajinasi, kreativitas dan kecintaan terhadap seni dan budaya asli Indonesia. Anak-anak yang aktif di rumah dongeng seringkali diajak melakukan berbagai aktivitas menarik dan unik mulai dari kegiatan membuat cerita, bermusik, pembuatan film, menggambar dan drama. Hal inilah yang membuat Omah Dongeng sangat unik dalam mendidik anak-anak khususnya usia SD-SMA.

Omah Dongeng Marwah sejatinya juga telah mengimplementasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), terutama dalam upaya mendidik anak untuk lebih ekspresif sehingga mereka menjadi pribadi berintegritas dan memiliki daya saing tinggi.

“Kami ini merupakan bagian aksi nyata revolusi mental dengan cara memberikan ruang alternatif supaya anak-anak lebih ekspresif dan jujur sehingga nantinya mereka dapat tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter dan semakin mencintai tanah airnya” kata Hasan

Tempat Anak Berkreasi

Anak-anak membutuhkan tempat untuk berkreasi dan menyalurkan bakat serta minat yang dimilikinya. Oleh karena itulah, Omah Dongeng Marwah hadir untuk membantu anak tumbuh lebih kreatif dan menjadi sarana mereka menyalurkan bakat yang dimilikinya.

“Omah Dongeng sebagai rumah inspirasi anak-anak untuk bermain, dan melepas kejenuhan di sekolah formal. Di sini pula, nilai utama revolusi mental kami tanamkan dengan cara yang menyenangkan,” kata Hasan Aoni

Hasan berharap nantinya anak-anak yang aktif di Omah Dongeng Marwah dapat terjun ke dalam industri kreatif dan mampu membawa Indonesia semakin kompetitif dalam persaingan global. “Mimpi kami agar nanti anak Indonesia memiliki kualitas daya saing setingkat dengan anak-anak negara maju,” tuturnya.

Dalam bingkai pendidikan yang menyenangkan, Rumah Dongeng Marwah telah melakukan pemetaan potensi minat bakat anak dan memberikan fasilitas sederhana agar minat mereka tersalurkan. “Kami memberikan ruang bagi anak untuk membuat video singkat, membuat film dan berkreasi sesuai dengan minat mereka” kata Hasan.

Selain itu, menurut pria yang dinobatkan sebagai salah satu inspirator Gerakan Nasional Revolusi Mental dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), hasil kreativitas anak-anak di Omah Dongeng Marwah ternyata menghasilkan insentif tambahan “Jika dulu, kami masih anak-anak mendapatkan uang saku, maka di komunitas kami, anak-anak terbukti lebih mandiri,” jelas Hasan.

Lalu Ia berujar bahwa untuk mendidik anak-anak pendidikan kognitif dan kecerdasan emosional harus seimbang.  “Jangan hanya berkonsentrasi pada pelajaran formal di kelas, karena fase bermain dan pengembangan imajinasi yang sehat berkontribusi pada kemampuan anak serta akan membuat kualitas manusia Indonesia lebih maju” pungkasnya.