Medsos dan Pekerja: Gangguan?
  • 40
  • 0
  • 0
  • 0

Praktik Baik

Foto: (sumber: pribadi)



Aktivitas di media sosial saat bekerja diketahui dapat menganggu kinerja seseorang. Kalau saja dapat dengan bijak dilakukan, bermedsos bukan lagi dinilai sebagai dilema antara gangguan dengan nilai etos kerja yang dianut.

 

Terdapat berbagai gangguan yang mungkin muncul ketika sedang bekerja mulai dari melamun terlalu lama, berbicara dengan teman sejawat, atau sekadar membuka media sosial di ponsel. Seluruh gangguan itu, terutama yang berkaitan dengan teknologi, ternyata dapat berpengaruh terhadap kondisi tempat kerja serta cara berpikir pekerjanya. Baik saat bekerja di rumah saja akibat Wabah Covid-19 maupun di tempat bekerja lainnya, “gangguan” aktif semacam itu memang terasa begitu menggoda. Pekerjaan yang seharusnya dapat selesai lebih cepat jadi harus tertunda beberapa saat dan akhirnya berpengaruh juga pada kegiatan berikutnya yang harus segera dilakukan.

 

Gangguan yang sangat besar pada diri pekerja itu muncul karena terlalu banyaknya informasi yang masuk dan keputusan yang harus segera dibuat. Lazimnya, keinginan untuk membalas email dan tanggapan di media sosial secara cepat dapat membuat pikiran dan konsentrasi seorang pekerja menjadi terpecah sehingga akhirnya mereka diharuskan berpikir dua hal dalam satu waktu sekaligus.  Seperti dilansir dari Medical Daily, University of California dalam sebuah penelitiannya di tahun 2016 lalu, menyimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk kembali fokus pada pekerjaannya adalah sekitar 23 menit. Lamanya waktu ini dinilai para peneliti dapat mengganggu produktivitas para pekerja secara drastis.

 

Ponsel pintar dalam penelitian itu juga diketahui sebagai gangguan terbesar pada produktivitas kerja seseorang. Jika dibandingkan dengan masa sebelum begitu booming seperti sekarang, ponsel pintar saat ini dapat menghabiskan waktu penggunanya dua kali lebih lama. Lama kelamaan, banyak pekerja yang kian hari merasa semakin sulit membedakan antara kehidupan pribadi dan profesional. Banyaknya pekerja yang menghabiskan waktu mengakses berbagai akun jejaring media sosialnya di sela-sela jam kerja kemudian jadi dianggap hal biasa, ditambah lagi dengan tanpa pengawasan karena memang ponsel merupakan barang pribadi pemiliknya. Singkatnya, waktu produktif terbuang percuma hanya untuk mengakses media sosial demi memenuhi rasa keingintahuan akan kegiatan orang lain.

 

Untuk Indonesia, sebuah survei yang dilakukan oleh situs lowongan kerja, JobStreet.com di tahun 2015 silam juga menyimpulkan, sekitar 81%  pekerja di Indonesia diketahui mengakses sosial media saat bekerja. Survei terhadap 14,000 koresponden itu mengungkapkan sejumlah fakta antara lain banyaknya pekerja yang punya akun media sosial mulai dari hanya satu akun hingga 4-5 akun sekaligus. Kepemilikan banyaknya akun ini diiringi dengan semakin variatifnya jenis media sosial yang menyediakan konten berbagi mulai dari hanya foto, cerita harian, teks hingga video dengan durasi pendek serta panjang.

 

Survei juga mengungkapkan, para pekerja ada yag mengaku mengakses akun media sosial mereka untuk mengetahui perkembangan terbaru apa saja yang terjadi di akun pribadi itu rata-rata selama 2-3 jam dalam sehari dan ada juga yang hanya  sejam. Kalau pekerjaan mereka berhubungan langsung dengan media sosial, waktu yang dibutuhkan untuk mengakses pun jadi lebih lama bahkan ada yang di atas 4 jam dalam sehari.

Salah satu jenis media sosial seperti Facebook Indonesia, berdasarkan demografi penggunanya, mencatat bahwa Indonesia merupakan negara dengan pengguna terbanyak atau mencapai 150 Juta akun, sementara Instagram mencapai 56 juta account atau terbanyak ke-4 di dunia. Salah satu fitur Instagram yaitu Insta Story, saat ini diketahui paling banyak digunakan oleh Netizen Indonesia. Jumlahnya merupakan yang terbesar di kawasan Asia Pasifik, bahkan di dunia.

 

Tingginya angka pengguna media sosial di kalangan pekerja ini menjadikan kehidupan mereka selama di tempat bekerja jadi cerita tersendiri, media sosial pun banyak dimanfaatkan sebagai wadah “curhat” selama mereka membereskan tugas atau pekerjaannya. Misalnya, keluh kesah tentang manajemen kantor, konflik dengan rekan kantor, atau curhat mengenai perilaku atasan.

 

Aktif bermedia sosial di sela-sela waktu bekerja kemudian memunculkan pertanyaan tentang etos kerja seseorang. Sebagai salah satu nilai dari karakter atau mentalitas Bangsa Indonesia, etos kerja menjadi penting dalam mewujudkan manusia Indonesia yang unggul sesuai cita-cita Gerakan Nasional Revolusi Mental. Dalam konteks aktifnya bermedia sosial di sela waktu bekerja ini, etos kerja dapat berarti perasaan keyakinan serta semangat tinggi untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas sehingga hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan dapat maksimal, sesuai yang diharapkan, bahkan sangat berpengaruh baik terhadap penilaian kinerja sebagai pribadi maupun perusahaan atau lembaga.

 

Lewat etos kerja ini pula, semestinya seorang pekerja dapat terus menguatkan niat awalnya untuk melaksanakan segala pekerjaan mulai dari datang ke tempat bekerja tepat waktu hingga pulang di saat semua tugas sudah diselesaikan. Etos kerja juga dapat berfungsi sebagai semangat dan penggerak selama melakukan dan membereskan tugas pekerjaan yang diberikan oleh atasan. Seseorang dengan etos kerja yang baik dapat diketahui dari sikapnya yang berpemikiran ke depan; pekerja keras dan sangat menghargai waktu; bertanggung jawab; tekun dan ulet; dan siap berkompetisi dengan sehat.

 

Dari etos kerja ini pula sesungguhnya mengajarkan nilai kedisiplinan yang tinggi. Sulitnya tugas pekerjaan yang harus diselesaikan dapat diatasi dengan bertanya kepada yang lebih mengerti, membuka komunikasi yang lebih terbuka terhadap rekan, dan bukan mencurahkan segala kesulitan itu di akun media sosial. Ingat, sebagai ajang berbagi, media sosial juga mulai dimanfaatkan oleh para tenaga HRD atau staf kepegawaian di kantor untuk mengikuti “aktivitas” sosial para pekerja dan calon pekerja yang akan mereka rekrut. Baik atau buruk isi konten yang telah diunggah akan sangat menentukan penilaian mereka terhadap penilaian kinerja Si Pekerja dan Calon Pekerja tadi. Maka, mari manfaatkan media sosial dengan bijak dan positif agar tidak jadi bumerang di kemudian hari bagi diri sendiri! (*)