Media Massa dan Media Sosial Harus Jadi Sarana Pemersatu Bangsa
  • 87
  • 0
  • 1
  • 0

Jakarta (10/12)- Media massa seperti cetak, elektronik dan siber atau juga media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter, Instagram dan sejenisnya harus mampu jadi sarana pemersatu bangsa. Pasalnya, kemajuan teknologi informasi seperti sekarang sangat rawan disusupi oleh berita bohong (Hoaks) dan narasi pemecah persatuan Indonesia.

 

Oleh sebab itu, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Nyoman Shuida meminta bagi para pegiat media massa dan media sosial agar terus mengambil peran sebagai penyebar berita atau informasi yang memberi manfaat pada kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam menjaga persatuan masyarakat di Indonesia.

 

“Posisi strategis media massa dan media sosial di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara sangat rawan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang hobi menyebarkan berita bohong, malah ada juga yang tidak ingin indonesia jadi bangsa yang satu, negara yang maju dan kuat, jadi ayo insan pers dan pagiat medsos jaga ikatan persatuan kita sebagai bangsa,” kata Nyoman di Jakarta, Jumat (07/12).

 

Berkaca dengan kondisi media massa saat ini, menurut Nyoman, media massa saat ini sudah berada pada jalur yang tepat yakni lebih sering memberikan informasi yang berimbang, terpercaya, terverifikasi dan berbasis pada fakta yang ada, “Hampir semua media massa dan pegiatnya tunduk dan patuh pada kode etik jurnalistik dan juga mengikuti pedoman pemberitaan media siber,” terang Nyoman.

 

Lebih dari itu, Nyoman pun mengapresiasi banyaknya media massa yang aktif terlibat memverifikasi berita bohong yang berkembang di masyarakat dalam platform cekfakta.com “Mereka itu jadi teladan bagi masyarakat kita, bahwa semuanya harus dikroscek dengan hati-hati dan sesuai fakta yang ada,” kata pegiat Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) ini.

 

Sebaliknya, Nyoman merasa prihatin dengan keadaan di media sosial, karena menurutnya, masih banyak berita-berita bohong dan narasi pemecah persatuan kebangsaan kita yang mudah viral di media sosial, menurut Nyoman prinsip berbasis pengguna (user based) dan konten yang tidak terbatas di media sosial sering ditunggangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, “Karena tidak adanya lembaga sensor di medsos, tanpa adanya gatekeeper, bisa anonim dan cepat viral, media sosial ini jadi ruang yang mudah disusupi oknum jahat, padahal medsos itu diciptakan untuk tujuan yang positif kok,” kata Nyoman menambahkan.

 

Menurut hemat Nyoman, media sosial sebenarnya sarana berkomunikasi dan bersosialisasi yang murah yang mengundang sejuta manfaat bagi penggunanya, malahan, sambungnya dengan media sosial, penggunanya bisa jadi agen perubahan yang mampu mendorong bangsa ini lebih tertib, mandiri, bersih, bersatu, “kita pun bisa memberikan pelayanan bagi yang lain lewat media sosial, memang pengguna media sosial itu harusnya berintegritas, bijak dan arif dalam memanfaatkan medsos,” tutur Nyoman lagi.