Mahasiswa Relawan Covid-19: Bela kuliah, Bela Negara
  • 55
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: monitor.co.id)


Merayakan Hari Pendidikan Nasional dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mereka yang tengah bergelut dengan tugas kuliah, ada yang terpanggil jadi relawan dan siap jadi garda terdepan penanganan Wabah Covid-19. Kesadaran nilai kemanusiaan yang kemudian diapresiasi Mas Menteri Dikbud!

 

Berjalannya perkuliahan di tengah serba keterbatasan gerak akibat imbauan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi mencegah penyebaran Covid-19 bagi dua mahasiswa magister keperawatan Universitas Indonesia (UI), Sri Agustin dan Sofina tetap harus dilakoni. Sementara di sisi lain, keduanya merasa terpanggil lalu memutuskan bergabung menjadi Relawan Covid-19. Namun, menjalankan aktivitas relawan bukan berarti membuat mereka meninggalkan kuliahnya di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI.

 
Bagi Sri, dua kegiatan ini sama pentingnya. Sri menyebut harus mampu mengatur jadwal antara relawan sekaligus mahasiswa yang tengah menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau kuliah daring. "Sejauh ini saya belum mengalami kendala berarti, saat harus kuliah sambil menjadi relawan. Tugas kuliah dapat saya kerjakan di saat free,” tutur Sri kepada medcom medio April 2020 lalu.

 

Mencari waktu saat free di sela jadwal kerja sebagai relawan yang sangat padat tiap minggunya diakui Sri sebagai upaya yang cukup menantang. “Relawan itu lima sampai enam hari kerja di mana per harinya menjalani satu shift selama tujuh hingga 12 jam,” ujarnya lagi.


Demikian pula dengan Sofina yang ceritanya tidak jauh berbeda dengan Sri. Keduanya mendaftarkan diri sebagai relawan ketika mengetahui Rumah Sakit UI membuka panggilan sebagai volunteers dan mulai bekerja pada awal April lalu. Berhadapan dengan pasien secara langsung tidak membuatnya gentar. Di sinilah keduanya merasa sedang berbuat sesuatu bagi bangsa ini. “Tidak ada kekhawatiran dalam menangani Pasien Covid-19, mengingat kami telah diperlengkapi Alat Pelindung Diri (APD),” ungkapnya dan mengaku setiap harinya bekerja selama enam hari dalam seminggu dengan shift kerja sebanyak delapan jam.

 
Terkait pembagian waktu, Sofiana mengaku mendapat kemudahan dari pihak kampus UI, bahkan pihak kampus mengapresiasi kegiatan menjadi relawan ini dengan mengonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS). “Sebab para dosen sangat menghargai kami yang sudah mau menjadi relawan,” tambah Sofiana.
 
Menurut Rektor UI, Ari Kuncoro mengapresiasi aksi nyata yang dilakukan para mahasiswanya. Apa yang dilakukan mahasiswa UI ini adalah bentuk implementasi pembelajaran semasa perkuliahan. “Diharapkan gerakan ini mampu memotivasi mahasiswa lainnya sebangsa dan setanah air untuk bersama-sama bergotong-royong memberikan kontribusi secara sukarela bagi masyarakat demi memerangi pandemi ini,” ujar Ari.

 

Sri dan Sofiana merupakan dua dari total 105 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UI yang terjun dalam aksi relawan Covid-19. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) sendiri memang telah ditunjuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa barat sebagai rumah sakit rujukan untuk wilayah Kota Depok, Jawa Barat.

 

Untuk itu, RSUI membuka pendaftaran tenaga relawan dalam rangka penanganan pandemi covid-19. Pendaftaran relawan terbuka untuk umum dan dilakukan secara online melalui laman resmi RSUI ataupun melalui pusat-pusat krisis yang bekerja sama dengan UI.

 

RSUI telah menyiapkan 24 ruang perawatan intensif bagi pasien Covid-19 baik dewasa maupun anak. Tercatat, Hingga Rabu (06/05), pelayanan rawat jalan maupun pelayanan rawat inap, RSUI telah melayani total 498 pasien. Jumlah itu terdiri atas 55 pasien positif Covid-19; 136 pasien dalam pengawasan (PDP); 283 orang dalam pemantauan (ODP); serta 24 orang tanpa gejala (OTG). Adapun jumlah pasien yang telah dirawat inap di RSUI sebanyak 87 pasien yang terdiri atas 68 pasien yang telah diperbolehkan pulang.


Sebanyak 12 pasien masih dalam perawatan hari ini dan 7 pasien telah meninggal dunia. Sementara itu, Secara keseluruhan di Kota Depok, menurut data terbaru per Selasa (05/05), sudah terdapat 316 kasus positif Covid-19. 47 orang di antaranya dinyatakan sembuh, sementara 20 orang lainnya meninggal dunia. Angka kematian itu belum menghitung kematian 55 suspect/PDP (pasien dalam pengawasan) yang sejak 18 Maret 2020 diketahui tidak kunjung dikonfirmasi positif atau negatif Covid-19 oleh Kementerian Kesehatan RI.

 

Selanjutnya, selain menempuh tahapan seleksi dan screening kesehatan berupa rapid test Covid-19, para calon relawan juga akan dibekali orientasi berupa pengenalan RSUI. Selain itu mereka mendapat pelatihan penanganan kasus, dan pembagian tugas sesuai pengalaman kerja sebelumnya atau sesuai posisi yang dipilih.

 

Demi menggugah aksi kepahlawanan generasi muda yang tengah berkuliah khususnya di bidang kesehatan lebih banyak lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengundang para mahasiswa tingkat akhir di bidang kesehatan untuk mengambil berperan dalam mencegah penyebaran Covid-19. Nadiem mengatakan, keterlibatan para relawan mahasiswa adalah bagian dari upaya gotong royong dan gerakan masyarakat secara sukarela untuk mencegah penyebaran Covid-19.

 

“Kita dalam situasi yang belum pernah dialami sebelumnya dan membutuhkan upaya sekuat tenaga untuk menangani situasi ini. Kami paham betul bahwa risiko terkait hal ini cukup besar, namun upaya ini tidaklah akan berhasil tanpa dukungan seluruh masyarakat, terutama bagi generasi muda yang memiliki talenta-talenta yang tepat. Tidak ada paksaan. Ini adalah gerakan sukarela,” papar Mendikbud seperti dalam keterangan pers Kemendikbud RI.

 

Para relawan, tambah Mendikbud, tidak serta merta langsung menangani pasien, melainkan akan membantu program-program komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat, melayani call center, dan menyiapkan diri sebagai tenaga bantuan dalam kondisi darurat sesuai kompetensi dan kewenangannya. Untuk keselamatan diri, setiap relawan akan diberikan pelatihan, pendampingan, pemenuhan nutrisi selama bertugas dan disiapkan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Kerelawanan mahasiswa ini, nantinya oleh Kemendikbud akan diberikan sertifikat pengabdian kepada masyarakat, serta penyetaraan pembelajaran sebagai bagian dari Satuan Kredit Semester (SKS) atau bagian dari co-as untuk mencapai kompetensi yang dapat ditetapkan oleh Perguruan Tinggi masing-masing, misalnya 1 bulan relawan akan mendapat 3 - 4 SKS. Keputusan ini diperkuat dengan Surat Edaran Surat Dirjen Dikti Nomor: 254/E/DT/2020 tentang Mobilisasi Relawan Mahasiswa untuk Penanganan Covid-19.

 

“Kepada mahasiswa yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan ini akan diberikan pelatihan dan pendampingan, disiapkan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), insentif dari Kemendikbud, dan sertifikat pengabdian kepada masyarakat yang dapat disesuaikan oleh universitas masing-masing untuk menjadi bagian dari penilaian kinerja dalam program Co-As atau sebagai satuan kredit semester,” papar Mendikbud. Maka, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud mengharapkan dukungan dari para ketua asosiasi institusi pendidikan untuk mengoordinasikan Perguruan Tinggi di tiap wilayah untuk menjaring relawan, dan mengisi borang dalam tautan http://bit.ly/RelawanKemdikbud


Program Kemendikbud ini juga mendukung Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/0883/2020 tentang Jejaring Pelayanan Covid-19 di Rumah Sakit Pemberi Pelayanan Non-Rujukan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Surat Edaran ini meminta Rumah Sakit milik sepuluh universitas di Indonesia untuk dapat merawat Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Pasien Covid-19. Kesepuluh universitas tersebut adalah Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Padjadjaran (Bandung), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Diponegoro (Semarang), Universitas Brawijaya (Malang), Universitas Udayana (Bali), Universitas Hasanuddin (Makassar), Universitas Sumatera Utara (Medan), dan Universitas Tanjungpura (Pontianak).


Dari imbauan Mendikbud tadi, diketahui sekitar 15.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia siap menjadi relawan penanganan Covid-19. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam. “Saat ini sudah ada kurang lebih 15.000 relawan mahasiswa, terutama bidang kesehatan, yang sudah siap hadapi pandemi Covid-19. Tidak hanya menambah kompetensi mahasiswa, namun sekaligus dapat menjadi karya nyata untuk masyarakat dan bangsa,” kata Nizam dalam siaran persnya. Nizam mendorong kampus untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan bergotong royong dengan elemen-elemen lain di masyarakat dalam memerangi dan mencegah perluasan dampak Wabah Covid-19.

 

Semangat gotong royong dan pengabdian masyarakat seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa bidang kesehatan itu dapat menunjukkan kepada publik bahwa siapapun dapat berperan dalam melakukan aksi bela negara di tengah hantaman Wabah Covid-19. Karakter asli bangsa Indonesia yang suka bergotong royong dan kuatnya panggilan kemanusiaan ini secara tidak langsung juga mencontohkan sikap baik dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kerelawanan yang baik dan patut untuk dicontoh, Bela negara di saat negara sedang “berperang” dengan wabah lalu tampil sebagai yang terdepan dalam penanganannya.

 

Jika pintu kerelawanan ini dibuka untuk mahasiswa bidang kesehatan, apakah dimungkinkan untuk mahasiswa fakultas lainnya? Masih dari UI, sekalipun bukan mahasiswa program studi rumpun ilmu kesehatan tetapi niat tulus Javas Rizqi Ramadhan, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), untuk menjadi relawan di Rumah Sakit UI (RSUI), Depok, tidak bisa dibendung. Javas bergabung menjadi relawan RSUI sejak 1 April 2020 dan ditempatkan di unit Health Care Assistant (HCA) RSUI untuk membantu para perawat dalam menangani pasien Covid-19.

 

“Ilmu Kesejahteraan Sosial yang selama ini saya tempuh semasa kuliah menjadi pendorong saya untuk bisa turun menjadi volunteer. Praktik kesejahteraan sosial yang menekankan empati dalam setiap penyelesaian permasalahan, menguatkan saya untuk bisa turun langsung menjadi relawan,” katanya seperti dikutip dari www.ui.ac.id. Javas yang resmi menjadi relawan itu kini bekerja selama 4-5 hari kerja dengan hitungan satu shift  atau sekitar 6-7 jam per hari. Adapun tugas yang harus dilakukan Javas di antaranya membantu perawat mengambil resep obat ke unit farmasi; mengantarkan sampel darah ke unit laboratorium; menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis; dan menyiapkan pakaian bagi para tenaga medis yang bertugas di unit HCA Covid-19.

 

Sri Agustin, Sofina, bahkan Javas diharapkan dapat menjadi inspirasi mahasiswa lainnya di tanah air. Sosok penuh cinta akan kemanusiaan seperti mereka, selain menunjukkan aksi bela negara sesuai kemampuan yang ada dalam diri mereka, kerelawanan ini juga menegaskan kepada kita sebagai warga negara bahwa Indonesia memang negara yang gemar bergotong royong membantu sesama, selagi berpredikat juga sebagai negara dengan jumlah relawan terbanyak di seluruh dunia.  (*)