Kreasi Pemanfaatan Limbah Koran Untuk Indonesia Bersih
  • 86
  • 0
  • 1
  • 0

“Tak ada rotan, koran bekas pun jadi,” Semboyan itulah yang menjadi pegangan Tri Sugiarti (42), ibu dua anak asal Ulujami, Jakarta Selatan, dalam menjalankan usaha pemanfaatann limbah.  Di tangan Tri, kertas koran bisa dipilin dan dianyam seliat batang rotan.  ‘’Barang apa saja yang biasa dibikin dari batang rotan, saya bisa membuatnya dari kertas koran,’’ ujarnya.

 

Tri tidak sekadar menepuk dada. Ia membuktikan bahwa dari kertas koran bekas ia bisa membuat tempat tisu, nampan, penutup gelas, berbagai bentuk lampu hias, bahkan kursi dan meja. Yang unik, barang-barang buatannya itu dalam sentuhan akhirnya semua dilapisi pelitur warna merah mahoni, serba mengkilat. Sepintas, tak ubahnya dengan rotan asli.

 

Tri tak berniat membusungkan dada. Berbagai barang kerajinan memang mirip dengan barang yang biasaanya dibuat dari kayu atau rotan. Meja yang dibuatnya pun mampu menahan beban 85 kg. Bisa digunakan sebagai meja pelengkap sofa di ruang tamu. Kursi kertas koran buatannya pun sanggup menahan beban orang dewasa.

 

Ruang tamu di rumah Tri kini tak ubahnya sebagai show room. Di situ ada miniatur Monas setinggi satu meter, ada replika lampu petromaks tapi balon pijarnya diganti dengan bohlam listrik, ada rak buku, meja rias, dan sejenisnya. Semua terbuat dari kertas bekas.

 

Dedikasinya untuk memanfaatkan limbah kertas menjadi barang bermanfaat dan punya nilai jual itu mengantarkan Tri Sugiarti meraih berbagai penghargaan seperti Kalpataru, Jawara Jak TV dan lainnya. Nama Tri Sugiarti masuk dalam radar para pemburu barang-barang limbah yang umumnya datang dari kelas menengah yang menjadi bagian dari green community.

 

Dalam pandangan Ahmad Mukhlis Yusuf, Anggota Gugus Tugas Nasional Gerakan Nasional Revolusi Mental, Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), produk buatan Tri Sugiarti itu tak bisa hanya dilihat dari fungsinya. ‘’Justru, karena barang-barang itu dibuat dari bahan bekas, dia punya nilai yang tinggi di kalangan masyarakat yang menghargai kelestarian alam,” tutur Mukhlis di Jakarta, Rabu, (19/12).

 

‘’Jadi, harga barang-barang kreasi milik Ibu Tri, tidak bisa dibandingkan dengan barang dari kayu, rotan apalagi plastik,’’ Mukhlis menambahkan. Menurut Mukhlis lagi, barang-barang olahan dari limbah itu punya pasar tersendiri. Harga barang tak hanya ditentukan oleh tenaga dan bahan baku, juga oleh simpati para anggota green community itu terhadap upaya konservasi lingkungan. Karya yang keluar dari rumah Tri mendapat apresiasi.

 

Kiprah Tri Sugiarti di mulai dari 2013. Mula-mula dia bekerja sendiri. Perlahan, usahanya semakin besar. Lebih banyak pesanan datang. Kedua orang tuanya pun dilibatkan membantu, bahkan tetangga kanan kiri pun kini ikut membantu Tri untuk memilin kertas membuat semacam batang lentur seperti rotan yang menjadi inti struktur karya kerajinan manik-manik milik Tri.

 

“Saya memulai usaha ini setelah mengikuti pelatihan dan denganmodal pinjaman 300 ribu dari PKK. Bagi saya ada ide, langsung eksekusi,” kata Tri.

 

Semakin banyak orang-orang seperti Tri Sugiarti ini terjun mengolah limbah dan membuat karya, berarti berkurang penggunaan bahan alam untuk keperluan yang sama. Di sinilah peran Tri Sugiarti. Sedikit atau banyak ia ikut membatasi eksploitasi alam.

 

Atas nama Kemenko PMK, Mukhlis menyampaikan apresiasinya kepada perajin limbah seperti Tri Sugiarti.  “Sosok seperti Tri Sugiarti ini bisa menjadi model untuk Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang bersandar pada nilai keutamaan etos kerja, integritas dan gotong royong. Ada pun tujuan GNRM itu sendiri adalah mendorong perubahan ke arah Indonesia yang lebih bersih, Indonesia Tertib, Indonesia Bersatu, Mandiri dan Melayani,” kata Mukhlis yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama LKBN Antara.

 

Tri Sugiarti dipandang sebagai kaum perempuan yang telah mengubah pola berfikir dan pola bertindaknya dengan langkah berani, yakni menyulap limbah koran menjadi barang berguna yang diperlukan orang lain. ‘’Dia telah masuk dalam gerakan Indonesia Bersih dan Indonesia Mandiri,’’ kata Mukhlis lagi.