Kebumen: Berjaya Inovasi dari Kampung Garam
  • 38
  • 0
  • 0
  • 0

Inovasi

Foto: (sumber: kkp.go.id)


Potensi yang selama ini ada nyatanya memang harus dengan jeli dan cermat dimanfaatkan. Hasilnya? Selain penghargaan karena inovasinya, potensi tadi juga jadi gairah baru bernilai ekonomi tinggi.

 

Dengan garis pantai yang membentang sepanjang 57 kilometer di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa, Kab Kebumen, Jawa tengah, diketahui sangat potensial akan pengembangan usaha garam rakyat sekaligus potensi pariwisata dan perikanan laut. Garam dari usaha garam rakyat di Kebumen ini juga memiliki kandungan NaCL mencapai 97,73 persen yang artinya sudah layak konsumsi, punya izin edar dari Badan POM, bersertifikat SNI, dan yang terpenting adalah berkualitas sangat bagus untuk garam konsumsi beryodium, spa, serta produk kecantikan lainnya.


Perkembangan usaha garam rakyat di Kab Kebumen yang sangat potensial ini mampu memproduksi garam hingga 36 ton. Bupati Kebumen, KH Yazid Mahfudz pun antusias dengan perkembangan usaha garam rakyat di Kebumen. Dia mendorong agar secara perlahan  produksi garam di pantai selatan  ini dapat memenuhi kebutuhan garam konsumsi dan garam industri di Kebumen. Apalagi air laut sebagai bahan baku garam Kebumen masih jauh lebih bersih dibanding dengan air laut di kawasan Pantai Utara Jawa.

 

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Kebumen, Laode Haslan, sebenarnya usaha garam rakyat di Kebumen baru dimulai secara resmi sejak 2018. Kala itu 16 Februari 2018 pihaknya bersama beberapa kelompok petambak garam diundangi acara penyuluhan perikanan pemanfaatan tunnel pengolah garam rakyat  di Pantai Bunton, Adipala, Cilacap bersama Balai Pendidikan, Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Tegal, di bawah  Kementerian Kelautan dan Perikanan.  Sejak itu, dengan melibatkan sekitar 30  orang petambak, usaha garam rakyat di pesisir Kebumen pun dimulai.

 

Menurut Laode, sejak itu para petani petambak garam di Kebumen semakin bergairah, mereka bahkan tidak segan bergotong royong membeli peralatan pengolahan garam sampai puluhan juta rupiah. Mereka lalu membeli peralatan demplot tunnel dari berbagai bahan, sepert pipa paralon, mesin pompa, plastik dan lainnya. Pembuatan garam dengan sistem tunnel adalah membuat bak-bak penguapan yang dilapisi plastik HDPE di bagian bawah, ditutup plastik UV di bagian atas dan di desain seperti terowongan. Dengan hasil produksi yang mencapai mencapai 36 ton, usaha garam rakyat itu berasal dari 12 kelompok petambak garam di Desa Mirit Petikusan, Kec Mirit; Desa Kaibon, Kec Ambal; Desa Tanggulangin, Kec Klirong; dan Desa Surorejan, Waluyorejo dan Sidoharjo, Kec Puring.

 

Dinas  Kelautan dan Perikanan Kab Kebumen juga memperoleh bantuan dari APBD Provinsi Jateng senilai Rp200 juta serta dari APBD kabupaten Rp140 juta untuk bantuan pembuatan demplot sistem tunnel usaha garam rakyat. Kabid Usaha Perikanan Sigit Dwi Purnomo menambahkan, target produksi petambak garam rakyat di Kebumen saat ini yakni 7-8 ton per bulan, sedangkan potensi maksimal dari 12 kelompok petambak garam rakyat di Kebumen mencapai 200 ton/bulan. Hal itu berdasar perhitungan konsultan dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

 

Kebutuhan garam konsumsi untuk masyarakat Kab Kebumen sejak lama memang masih bergantung dari luar daerah. Dengan jumlah penduduk 1,3 juta jiwa, kebutuhan garam konsumsi Kab Kebumen per tahunnya mencapai 4.191 ton. Impor garam dari daerah luar itu lantas menyebabkan defisit perdagangan. Kampung Garam yang telah dirintis itu kemudian dinilai sebagai inovasi tersendiri untuk memenuhi kebutuhan garam warga, di samping tekad untuk mencapai ketahanan pangan (swasembada) produksi garam mentah dan olahan garam (garam konsumsi, garam kesehatan, dan garam industri). Di sisi lain juga mendorong penumbuhan destinasi wisata kampung garam dan pemberdayaan masyarakat pesisir dengan pendampingan penguatan kelembagaan kelompok dan koperasi.

 

Menurut Bupati Kebumen, Kampung Garam Kebumen dibangun melalui tiga tahapan. Pertama, tahap perencanaan dengan membentuk tim inovasi, penyusunan masterplan usaha garam, dan penyusunan riset unggulan daerah kelayakan usaha garam. Kedua, adalah pelaksanaan  di antaranya melakukan koordinasi dengan stakeholder internal dan eksternal, pelatihan dan pemberian akses teknologi, pengembangan kelembagaan kelompok dan koperasi, pembuatan demplot produksi dan pengolahan garam, pengadaan sarpras produksi dan pengolahan dengan pembiayaan swadaya masyarakat, pemerintah dan CSR BUMN serta swasta. Tahap ketiga, langkah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh tim inovasi internal secara periodik setiap bulannya. Mereka adalah Aparatur Pengawas Internal Pemerintah (APIP) Kabupaten Kebumen dan Inspektorat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Kampung Garam Kebumen telah direplikasi daerah lain dengan mengembangkan kampung garam di wilayahnya di antaranya Kab Cilacap, Kab Bontang Kaltim, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi Lampung. Kampung Garam Kebumen juga menjadi tempat belajar, praktik dan study tour bagi dosen, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat untuk mengedukasi pengetahuan dan teknologi usaha garam.

 

Kampung Garam ini secara tidak langsung juga mendukung Gerakan Indonesia Mandiri yang semangatnya menghidupkan selalu geliat ekonomi masyarakat agar dapat terus berdaya. Dengan potensi yang sebenarnya sangat besar, kemauan untuk terus belajar, usaha garam rakyat ini perlahan mengantarkan masyarakat nelayan menjadi mandiri secara ekonomi. Kampung Garam di tahun 2020 ini juga telah meraih penghargaan sebagai Top 99 Inovasi kategori Kab/Kota dalam ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020 oleh Kemen PAN RB. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber