Indonesia Ditolong ‘Gotong Royong’
  • 80
  • 0
  • 0
  • 0

Foto: (sumber: kurungbuka.com)



Merujuk pada pidato Bung Karno, intisari dari dasar negara Indonesia sesungguhnya adalah gotong royong. Berbuat bersama, demi manfaat bersama. Tentu saja, menyesuaikan juga dengan zamannya.

 

 

“Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, mala dapatlah aku satu perkataan yang tulen, yaitu perkataan gotongroyong. Gotongroyong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat semua. Prinsip Gotongroyong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara Islam dan yang Kristen, anyata uang Indonesia dan yang non-Indonesia. Inilah saudara-saudara, yang kuusulkan kepada saudara-saudara.”  Demikian penggalan pidato dari buah pikiran yang diungkapkan di hadapan peserta sidang umum Dokuritsu Junbi Cosakai, atau badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh Bapak Pendiri Bangsa, Bung Karno. Menurut kesaksian sejarahnya, pidato itu disampaikan tepat pukul 09.00 WIB, Bung Karno beranjak dari tempat duduknya dan dari atas podium yang terbuat dari marmer dengan lantang Bung Karno memaparkan buah pikirannya itu selama berjam-jam.

 

Dengan berapi-api, Bung Karno menyebut lima pemikirannya, yakni Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Buah pikiran ini pula yang hingga kini dikenal dengan nama ‘Pancasila.’ Setelah panjang lebar menjelaskan satu per satu isi dari buah pikirannya, Bung Karno lantas menjelaskan alasannya membuat lima dasar. Di hadapan peserta sidang, Bung Karno akhirnya mengaku suka terhadap sesuatu yang simbolik. “Rukun Islam ada lima. Jari kita ada lima setangan. Kita mempunyai pancaindra. Jumlah pahlawan kita Mahabharata, pendawa, juga lima. Sekarang asas-asas dasar mana kita akan mendirikan negara, lima pula bilangannya,” papar Bung Karno lagi.

 

Dari pidato lahirnya Pancasila itu, ada satu kata kunci yang kiranya masih sangat sakti untuk tetap dilaksanakan, dihayati, dan dilestarikan sampai kapanpun di republik ini oleh bangsanya sendiri. Kata itu adalah ‘gotong royong.’ Sesuai dengan tekad bersama di zamannya, gotong royong terus menampakkan diri dengan gagahnya sebagai jawaban atas berbagai masalah yang tengah dihadapi oleh Bangsa Indonesia.

 

Jika di masa merebut kemerdekaan, gotong royong dilaksanakan dalam suasana perjuangan gerilya dengan hanya bermodalkan semangat untuk segera bebas dari cengkeraman penjajah, gotong royong berikutnya yang dilakukan adalah perjuangan bersama mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tadi. Perlahan dan pasti, Indonesia pun tampil sebagai negara dan bangsa yang besar lengkap dengan segala nilai dan karakter gotong royongnya hingga sekarang.

 

Saat ini, di tengah krisis kehidupan akibat Wabah Covid-19, Presiden Joko Widodo menegaskan kembali bahwa dengan kembali bergotong royong, Indonesia diyakini akan dapat menghadapi dan melalui krisis ini dengan baik.

 

“Saat ini obat ampuh untuk melawan virus corona belum ada, tapi penyebaran corona dapat dicegah dengan kedisiplinan yang kuat dari kita sendiri. Ini harus dilakukan secara bersama-sama dan terus-menerus, tidak boleh sampai terputus. Peran serta seluruh masyarakat sangat penting dalam melawan Pandemi Covid-19 yang terjadi di dunia saat ini. Dia menegaskan, Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian tanpa peran serta masyarakat. Semua ini bukan hal yang mudah untuk kita semua, tetapi saya amat percaya jika kita mampu melalui kesulitan ini bersama, kita justru akan menjadi bangsa yang semakin kuat dan siap menyongsong masa depan yang lebih sejahtera,” kata Presiden Joko Widodo dalam video yang diunggah di akun youtube Sekretariat Presiden, medio April 2020 lalu.

 

Menurut sejarah, gotong royong di Indonesia sudah ada sejak tahun 2000 SM atau tepatnya sekitar tahun 1800-an. Sebagai nilai kehidupan bangsa, gotong royong dikesankan begitu terhormat dan membumi. Di tengah masyarakat, gotong royong sebagai semangat humanisme berasaskan kebersamaan demi satu tujuan bersama, terus berkembang. Aneka kegiatan masyarakat semacam aksi bersih-bersih lingkungan atau memperbaiki fasilitas umum secara bersama-sama masih dapat dengan mudah kita jumpai. Kegiatan itu dapat diselesaikan dengan baik dengan hasil yang baik pula setelah terlebih dulu saling bahu membahu, juga saling membantu.

 

Dengan istilah berbeda sesuai bahasanya tetapi jika ditilik tetap punya satu makna, gotong royong di berbagai daerah di Indonesia terus dilestarikan. Untuk kegiatan yang dilakukan bersama dan ditujukan untuk kepentingan bersama pula, gotong royong di Bali misalnya disebut dengan istilah ‘ngayah’ yang berarti bekerjasama secara sukarela membantu tetangga maupun orang lain seperti membantu saat tetangga kesulitan, saat kegiatan ibadah dan lain-lain. Atau ‘gemohing’ di Nusa Tenggara Timur yang artinya gotong royong membantu warga tetangga kampung dengan sukarela, seperti membangun rumah, memanen, menanam ladang dan lain-lain.

 

Kegiatan semaacam ini oleh Masyarakat Madura juga dikenal dengan istilah ‘Song-osong lombhung’ yang artinya memikul lumbung pangan bersama-sama untuk kepentingan banyak orang. Demikian pula dengan ‘sambatan’ di DI Yogyakarta yaitu membantu sesama untuk membangun rumah, hajatan, panen dan lain-lain. Menyeberang ke Sulawesi, gotong royong oleh Masyarakat Sulawesi Selatan dikenal dengan nama ‘mappalette bola’ yaitu membantu memindahkan rumah dengan diangkat bersama-sama. Contoh terakhir yaitu ‘grebuhan’ berupa kegiatan gotong royong atau kerja bakti Masyarakat Kab Gunung Kidul, DI Yogyakarta dalam membangun jalan atau mendirikan pos keamanan desa, dan sebagainya.

 

Seiring perkembangan teknologi, gotong royong juga tetap eksis dilakukan. Menjadi dasar bagi suatu aksi bersama, gotong royong bahkan telah mampu menggalang dana ratusan hingga miliaran rupiah atau hanya sekadar mengumpulkan massa yang kemudian menyuarakan tuntutan dan imbauan yang sama.

 

Wabah Covid-19 sekarang ini nyatanya kembali mempertegas makna gotong royong menjadi sebuah simbol dari solidaritas sosial. Misalnya, mendukung penuh kerja tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan wabah; menggalang dana membeli Alat Pelindung Diri (APD) yang sangat dibutuhkan; aksi bagi-bagi sembako bagi mereka yang lumpuh nafkah kesehariannya; atau aksi penuh setia kawan berupa pembagian masker dan cairan pembersih tangan.

 

Apapun nama atau istilah dan bagaimana kegiatannya dilaksanakan dalam semangat penuh kebersamaan, begitulah gotong royong, sebuah budaya khas Indonesia sebagai perwujudan harmoni kebersamaan dan kekeluargaan penduduknya. Dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa, gotong royong menjadi perekat sosial paling efektif. Di dalam bergotong royong terjadi sinergi antar partisipator sehingga kegiatan berjalan lancar, lebih hemat biaya dan memberikan kebanggaan khusus bagi yang terlibat.  Selain itu, gotong royong merupakan wujud dari kepedulian dan kepekaan sosial. Untuk itu, gotong royong perlu terus didorong dan dilaksanakan agar tidak terkikis budaya individulistis yang tidak sensitif terhadap situasi dan kondisi sekitar.

 

Maka, jadi sangat pasti bila kemudian gotong royong masuk dalam salah satu nilai penting dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) selain etos kerja dan integritas. Demi memupuk dan membangkitkan lagi semangat kebersamaan bangsa yang sejak zaman dulu dilakukan dan terbukti berhasil mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan. Mulai dari berhasil merebut kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dengan kerja keras pembangunan, hingga cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar dengan sumber daya manusianya yang unggul, berbudi luhur, dan siap berdaya saing di tingkat dunia. Mari terus pupuk gotong royong sebagai nilai kehidupan Bangsa Indonesia yang harus tetap ada hingga kapan pun!  (*)

 

(dari berbagai sumber)