Harapan Besar dari Kampung Tangguh “Revolusi Mental”
  • 14
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: jatimtimes.com)

Muncul dari inisiasi dan konsep mitigasi bencana, kampung tangguh hadir untuk keberlanjutan hidup masyarakat terutama yang tengah ditempa musibah. Tidak hanya bencana alam tetapi juga wabah penyakit. Seperti sekarang ini!

 

Kapan berakhirnya Wabah Covid-19 memang sulit diprediksi, begitu pula dengan penemuan obat dan vaksin sebagai jawaban dari bencana nonalam ini. Dampak yang dirasakan di seluruh sendi kehidupan warga dunia akibat wabah ini tentu sangat dalam, utamanya soal kebutuhan sehari-hari atau nafkah hidup yang tetap harus dipenuhi. Untuk mencari nafkah, manusia harus bergerak sementara begitu adanya Wabah Covid-19, aktivitas pergerakan begitu dibatasi. Hal terburuk yang terjadi adalah gelombang PHK atau pengurangan jumlah orang bekerja. Dengan demikian, kebutuhan sehari-hari semisal pangan juga ikut terbatas, bahkan lumpuh. Mereka yang merasakan dampak ini akhirnya mengaku sangat terbantu dengan aneka bantuan baik dari tetangga maupun tangan para dermawan. Bantuan sosial dari pemerintah dan aparat terkait nyatanya juga punya keterbatasan.

 

Hikmah yang dapat diambil dari hantaman Wabah Covid-19 ini adalah munculnya gerakan baik di tengah masyarakat bernama ‘Solidaritas Sosial’ yang keberadaannya kemudian memulihkan kembali makna kegotongroyongan, empati bersama, dan pastinya rasa persatuan dan persaudaraan sesama bangsa. Sebagai masalah bersama dan dicita-citakan tampil sebagai pemenang, maka Wabah Covid-19 harus dihadapi dengan semangat kebersamaan dan ditangani dengan sikap gotong royong tadi, bila perlu tidak hanya dari pusat saja tetapi juga hingga ke level akar rumput seperti dalam lingkup kampung.

 

Kampung yang disiapkan menjadi lingkungan tempat tinggal itu bernama ‘Kampung Tangguh.’ Syarat berdirinya Kampung Tangguh ini terdiri atas tujuh kriteria ketangguhan antara lain tangguh logistik;  tangguh sumber daya manusia (SDM); tangguh informasi; tangguh kesehatan; tangguh keamanan dan ketertiban; tangguh budaya; dan tangguh psikologis. Ketujuh kriteria ini diberlakukan begitu suatu kampung siap dibentuk menjadi kampung tangguh, seperti yang diterapkan di Kelurahan Nangkaan, Kab Bondowoso, Jawa Timur.

 

Sebagaimana dilansir dari Kompas, setiap warga dari luar Kelurahan Nangkaan akan menjalani protokol pemeriksaan di setiap portal yang telah di pasang di masing-masing perbatasan kelurahan. Jika ada warga luar kelurahan yang masuk, akan dijelaskan bagaimana tata tertib yang ada. Selain itu, juga ada pula kawasan physical distancing yang ditempatkan di Gang Masjid Perumahan Rinjani serta Perumahan Bondowoso Indah. Kampung Tangguh juga menyiapkan ruangan untuk karantina di SD Nangkaan 01.

 

Kampung Tangguh di Kelurahan Nangkaan ini juga menyiapkan lumbung pangan untuk warga sekitar. Bahan-bahan yang disiapkan di lumbung pangan ini dikumpulkan dari warga sekitar secara swadaya. Warga jadi tidak perlu khawatir kekurangan makanan karena sudah disiapkan lumbung pangan. Bila stok makanan habis, warga dapat datang ke lumbung pangan.

 

Kampung Tangguh dapat dinilai sebagai contoh implementasi dari revolusi mental karena mengusung semangat gotong royong. Kampung Tangguh yang baru saja dikunjungi Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy adalah Kampung Tangguh Mandiri (KTM) RW 5, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur. Menko PMK dalam kunjungannya itu menekankan kembali bahwa semangat gotong-royong yang ditunjukkan warga KTM Kelurahan Purwantoro ini sebagai contoh warga kampung dalam menjalankan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

 

“Tadi saya lihat di sini ada 'mlijo' gratis atau pasar gratis. Masyarakat siapa saja yang membutuhkan bisa ambil beras di sini, yang mampu juga bisa ikut menyumbang. Saya kira inilah bentuk revolusi mental yang bisa kita jadikan contoh,” ujarnya seperti dikutip dari Surabaya.bisnis.com usai meninjau Kehidupan Normal Baru di KTM, Kota Malang, Rabu (3/6/2020). Menko PMK mengapresiasi langkah yang dilakukan KTM RW 5, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang dalam menyiapkan rumah isolasi bagi ODP/PDP/pun masyarakat yang disinyalir terinfeksi Covid-19. “Sudah tepat, rumah isolasinya jangan bagus-bagus. Kalau terlalu bagus, malah kerasan di sana,” katanya lagi.

 

Dalam keterangannya, Menko PMK kembali menjelaskan tentang kehidupan normal baru. Menurutnya, masyarakat dapat hidup normal kembali dengan tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Tidak cukup memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak, atau menghindari kerumunan tetapi lebih spesifik mematuhi aturan selama berada di area publik. “Sebetulnya yang dimaksud normal kembali itu ya menuju normal. Tetapi memang masih belum bisa penuh karena masih harus bersama-sama Covid-19 maka normalnya itu harus dengan syarat-syarat tertentu antara lain mematuhi protokol kesehatan,” paparnya lagi.

 

Asal Kampung Tangguh

 

Konsep sebuah kampung yang secara holistik disiapkan begitu handal dalam menghadapi bencana yang tengah dihadapi utamanya saat meluasnya Wabah covid-19 ini sebenarnya berasal dari lingkungan kampus negeri di Jawa Timur. Konsep baru yang kemudian diterjemahkan dengan baik ini lantas menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai inisiator berdirinya Kampung Tangguh dan hingga kini telah menyebar ke seluruh wilayah kab/kota di Jawa Timur dan beberapa kampung lain di luar Pulau Jawa. 

 

Salah seorang Anggota Tim Satgas Covid-19 dari Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur,  bernama Mangku Purnomo awalnya hanya diberi tugas  meracik hand sanitizer untuk Universitas Brawijaya (UB). Keprihatinan Mangku atas merebaknya Covid-19 beserta dampak yang ditimbulkan kian meluas, menggerakkan pria yang saat ini menjabat Wakil Dekan II FP UB ini untuk membuat semacam kerangka konseptual. Kerangka yang di dalamnya melibatkan para ahli UB di bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ekonomi, politik juga hukum, dan pertahanan keamanan.

 

Setelah konsep itu jadi, lalu diujicobakan ke beberapa wilayah, seperti kampung lingkar kampus dan Kampung Cempluk. “Di Cempluk itu dihadiri Danrem, Bupati Malang, Dandim dan Kapolres. Setelah simulasi, disusunlah buku manual PSBB kampung tangguh,” ungkap Mangku seperti dikutip dari Kompas.

 

Saat ini ada 100 kampung (RW) mendapat pelatihan bagaimana menangani dan mengatasi dampak penyebaran Covid-19. Dalam proses penyempurnaan Kampung Tangguh, untuk memperkuat konsep, SOP-SOP yang ada diujikan di Kota Malang setelah sebelumnya di Kabupaten Malang yakni Kampung Putih Klojen dan Kampung Narubuk, Sukun. “Sambil uji coba itu, Satgas UB dan Malang Bersatu Lawan Corona (MBLC) menginstal kampung-kampung tangguh di Kota Malang hingga 60 kampung tangguh. Setelah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi kunjungan di Narubuk dan akhirnya menjadi program Malang Raya dan Jawa Timur,” tambah Mangku.

 

Meskipun saat ini, Kampung Tangguh menjadi percontohan Jawa Timur Mangku Purnomo dan Satgas Covid UB terus bergerak mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat dalam mengatasi dan melawan Covid-19. Dia dan Tim Satgas Covid UB mengedukasi warga kampung lingkar UB tentang pemulasaran jenazah pasien terinfeksi corona di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Karena keberhasilannya, warga kampung lain mengikuti program Kampung Tangguh dalam melawan Covid-19.

 

Saat ini, program Kampung Tangguh Malang Raya diadopsi oleh Gubernur Jawa Timur untuk diterapkan di seluruh kampung (RW) di Jawa Timur. Bahkan, Gubernur beberapa kali hadir di Malang meresmikan Kampung Tangguh, antara lain di Sukun (Kampung Narubuk) dan Kampung Tangguh di Singosari, Kabupaten Malang. Hadirnya Kampung Tangguh di Malang Raya dan di Jawa Timur, diharapkan dapat mengatasi dampak yang diakibatkan Covid-19. (*) Diolah dari berbagai sumber