Habis Pak Ogah, Terbit RELASI
  • 30
  • 0
  • 0
  • 0

Praktik Baik

Foto: pribadi


Problem kemacetan atau ketidaklancaran arus lalu lintas telah lama memunculkan sosok Polisi Cepek. Keterbatasan jumlah personil kepolisian lalu dijawab dengan relawan pengatur lalu lintas lainnya. Relawan demi uang recehan dan sekarang ada relawan resmi yang menyasar kaum muda demi mewujudkan Gerakan Indonesia Tertib.

 

Polisi ‘cepek’ atau Pak Ogah telah lama dikenal sebagai sosok yang muncul entah darimana dan kerap bekerja sebagai orang yang berusaha 'mengatur' lalu lintas dengan imbalan uang seikhlasnya dari pengguna jalan. Mereka yang umumnya dari kalangan masyarakat kelas bawah ini memiliki motif yang beragam, mulai dari murni membantu kelancaran lalu lintas dan pengguna jalan hingga justru sebagai “pengacau” aturan lalu lintas yang ada demi imbalan uang yang nilainya tidak seberapa.

 

“Polisi” semacam ini biasanya dapat ditemui di perempatan, pertigaan, jalan satu arah yang sangat sempit, jembatan yang hanya dapat dilalui satu mobil atau jalan berlubang. Polisi cepek adalah frase dari polisi dan cepek. Disebut polisi, karena mereka bertugas layaknya seorang polisi lalu lintas, sedangkan cepek adalah istilah untuk Rp100, walaupun jumlah yang diberikan pada kenyataannya bervariasi (umumnya Rp1000 sampai Rp2000) Istilah cepek ini dipopulerkan oleh Pak Ogah, tokoh fiktif dalam serial televisi nasional (TVRI) Si Unyil yang pernah tayang di era tahun 1990-an.

 

Polisi cepek muncul secara spontan seiring dengan perkembangan wilayah perkotaan di Indonesia, khususnya di Jakarta, di mana kota metropolitan ini menjadi kota dengan arus kemacetan terpanjang dan terlama di Indonesia. Selain itu, faktor ekonomi masyarakat yang masih minim turut memicu timbul dan berkembangnya polisi cepek ini. Sebutan ini sesungguhnya mengarah kepada aparat polisi dan institusi kepolisian, khususnya polisi lalu lintas. Hal ini membuktikan bahwa kinerja aparat dan institusi bidang lalu lintas ini masih sangat minim dan tidak efektif. Ini berdampak pada kepercayaan masyarakat. Menurut Keith Hart, Antropolog asal Inggris, mengelompokkan sektor pekerjaan di kota, yaitu formal, informal sah, dan informal tidak sah. “Pak ogah” dalam konteks ini masuk ke dalam kategori informal sah.

 

Masalah lama ini kemudian perlahan mulai terjawab. Adalah hasil kolaborasi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan dengan Polri untuk mewujudkan gerakan tertib berlalu lintas. Kerjasama antara pihak Perkumpulan Gerakan Kebangsaan dan Polri yang dimulai sejak tahun 2017 ini dilakukan dengan cara membukakan pendaftaran Relawan Lalu Lintas Indonesia atau RELASI. Pendaftaran sebagai RELASI ini diperuntukkan untuk umum, yang khususnya ditargetkan untuk kaum milenial. Dengan RELASI, diharapkan terbentuk sebuah komunitas yang dapat sadarkan masyarakat pengguna jalan dalam berlalu lintas. Karena sifatnya yang sukarela, para relawan RELASI nanti akan diberikan pelatihan dan pengetahuan tentang peraturan lalu lintas dan bagi mantan ‘Pak Ogah” yang bersedia bergabung menjadi RELASI diberi rompi khusus.


Korlantas Polri melalui program Millennial Road Safety Festival pada 2 Februari-31 Maret 2019 lalu diketahui menargetkan dua juta relawan lalu lintas dari generasi milenial untuk berkampanye keselamatan lalu lintas. Seperti dilansir dari Antara, program yang akan dilakukan di seluruh polda di Indonesia ini memiliki tujuan untuk berdayakan kaum milenial untuk wujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.


"Ini yang menjadi target kami. Target rasional, sebelumnya muncul diskusi dengan kawan muda, mahasiswa, pelajar, orang tua, semua elemen sehingga itu target yang sangat rasional," ujar Kakorlantas Polri Irjen Pol Refdi Andri di Kantor NTMC, Jakarta.

 

Kaum milenial dipilih menjadi mitra, menurut Refdi, karena sebanyak 57 persen korban kecelakaan lalu lintas berusia 16-38 tahun dan 25 persen korban kecelakaan lalu lintas berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia pada 2011 mencapai 32 ribu orang yang ditargetkan menurun hingga separuhnya pada 2020. Data kecelakaan pada tahun 2014 hingga 2018, rata-rata korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 30 ribu orang per tahun atau sekitar 80 orang per hari.

 

Kaum milenial yang memiliki produktivitas tinggi bila terlibat kecelakaan dapat kehilangan potensinya sehingga pihak kepolisian menilai kampanye kesadaran berlalu lintas harus dilakukan secara masif, terstruktur, dan berkelanjutan.

 

Refdi mengatakan, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa persatuan dan kesatuan harus selalu dijaga. Masyarakat Indonesia juga harus menyadari bahwa perbedaan merupakan sebuah anugerah. “Kegiatan ini momentum, lihat bagaimana kita merekatkan anak bangsa sehingga persatuan dan kesatuan yang menjadi tenaga bagi kita semua bisa terjaga sampai akhir zaman,”  katanya lagi.


Refdi melanjutkan, kegiatan ini juga menjadi momen untuk mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu menjaga keselamatan berlalulintas. Polri berkomitmen untuk mewujudkan zero accident di masa mendatang.
(*)