Gemar Berbagi, Itu Indonesia
  • 71
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: jeda.id)

Budaya bangsa Indonesia selain gotong royong adalah gemar memberi. Lewat sebuah survey, hal itu terbukti.

 

Survey global tentang sikap kedermawanan atau kebiasaan memberi diadakan oleh Charity Aid Foundation (CAF) yang berpusat di Inggris dan dilakukan selama 10 tahun berturut-turut, dari tahun 2009-2018 di 128 negara, dengan responden sekitar 1.3 juta orang, akhirnya merilis hasil surveynya dalam World Giving Index. Selama rentang 10 tahun terakhir, responden mendapatkan pertanyaan antara lain tentang menyumbangkan uang untuk amal; bekerja secara sukarela dalam suatu organisasi; dan membantu orang yang tidak dikenal yang membutuhkan bantuan.

 

Berdasarkan buku laporan CAF World Giving Index 2018, A Global View of Giving Trends, yang dipublikasikan pada Oktober 2018, menyebutkan Indonesia berada di peringkat pertama dengan skor 59 persen. ”Indonesia berada di puncak CAF World Giving Index untuk pertama kalinya. Skor sebagian besar tidak berubah sejak tahun lalu ketika [Indonesia] berada di peringkat kedua karena Myanmar turun ke posisi sembilan setelah empat tahun di peringkat pertama,” sebagaimana tertulis di pembuka laporan itu.

 

Dalam laporan itu disebutkan skor Indonesia untuk membantu orang lain sebesar 46 persen, berdonasi materi 78 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 53 persen. Di bawah Indonesia ada Australia dengan skor 59 persen; Selandia Baru 58 persen; Amerika Serikat 58 persen; Irlandia 56 persen, dan Inggris 55 persen. Kemudian Singapura, Kenya, Myanmar berturut-turut di urutan berikutnya dengan skor sama 54 persen. Di urutan ke-10 ada Bahrain dengan skor 53 persen.

 

”Laporan tahun 2018 sangat menggembirakan bahwa jutaan orang membantu orang lain dan menyumbangkan waktu mereka menjadi sukarelawan. Beberapa negara memang menunjukkan, penurunan tajam dalam tingkat pemberian donasi. Kita harus melihat dengan cermat untuk menganalisis alasan yang mungkin terjadi,” tulis Direktur Eksekutif Charities Aid Foundation, John Low.

 

Bila membandingkan antara data tahun 2018 dengan 2016 dan 2017, skor komponen yang diperoleh Indonesia tidak terlalu banyak berubah. Pada 2017 lalu, Indonesia berada di peringkat kedua CAF World Giving Index 2018 dengan skor 60 persen. Indonesia saat itu kalah dari Myanmar yang mendapatkan skor 65 persen. Dilihat dari komponennya, skor Indonesia untuk membantu orang lain sebesar 47 persen, berdonasi materi 79 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 55 persen. Angka ini di bawah Myanmar yang untuk komponen membantu orang lain sebesar 53 persen, berdonasi materi 91 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 51 persen.

 

Dua tahun sebelumnya, Indonesia berada di urutan ketujuh CAF World Giving Index 2018. Meski peringkat Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun, tetapi Indonesia berada di urutan ke tujuh untuk peringkat lima tahunan. CAF mencatat dalam indeks lima tahunan, Indonesia mendapatkan skor 55 persen dengan perincian komponen membantu orang lain sebesar 44 persen, berdonasi materi 73 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 47 persen.

 

 

Sejarah Mendarah daging

 

Filantropi atau kegiatan yang didasari semangat kedermawanan ini nyatanya memiliki akar kuat di Indonesia. Semula berwujud berbagi tenaga kasar. Biasanya gotong-royong untuk membangun rumah atau membuka pertanian dengan semangat menjaga hubungan komunal. Lalu agama Hindu-Buddha masuk dan mengganti semangat filantropi sesuai keyakinan pemberinya.

 

Leona Anderson dalam “Contextualizing Philanthrophy in South Asia: a Textual Analysis of Sanskrit Source” menyebut filantropi materi dalam tradisi Hindu sebagai dana. Ada pula bentuk filantropi Hindu lainnya bernama seva, yaitu kerja bakti untuk membangun dan menghidupkan kegiatan kuil atau pura. Sementara itu dalam konsep Buddha, filantropi menjadi sebuah kelaziman. Filantropi tidak hanya untuk manusia, tapi juga kepada semua makhluk. Tujuannya membuat semua makhluk berbahagia. Demikian catat Leslie S. Kawamura dalam “The Mahayana Buddhist Foundation for Philanthropic Practices.”

 

Seiring kedatangan Islam ke Nusantara, filantropi kembali mempunyai isi dan bentuk baru. Menurut Amelia Fauzia, doktor jebolan University Melbourne, Australia, dalam Filantropi Islam: Sejarah Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia mengungkap tiga bentuk filantropi Islam: zakat, sedekah, dan wakaf.

 

Zakat berarti pembersihan kekayaan dan jiwa seseorang. Bentuknya ada dua: fitrah dan mal. Fitrah biasanya diberikan saat akhir bulan Ramadan dan berbentuk bahan pangan pokok sedangkan mal ialah zakat kekayaan berupa hasil pertanian atau emas. Keduanya memiliki kriteria penerimanya yang setidaknya ada tujuh golongan. Sedekah memiliki bentuk mirip dengan sumbangan, hadiah, dan hibah. Wakaf merujuk pada cara pengelolaan sedekah berkelanjutan berupa aset tidak bergerak seperti tanah dan bangunan.

 

Para penguasa kesultanan mempunyai sikap berbeda dalam memperlakukan filantropi. Sebagian mereka membentuk pengumpul resmi untuk filantropi Islam. “Para penguasa dengan orientasi keagamaan yang ortodoks cenderung menggunakan institusi zakat sebagai alat penguasa untuk memaksa,” catat Amelia. Namun, mayoritas penguasa kesultanan memperlakukan zakat tidak sebagai peraturan penguasa. Mereka membiarkan orang mempraktikannya secara sukarela.

 

Memasuki abad ke-19, pengaruh kesultanan Islam surut. Kekuasaan kolonial Belanda mulai pasang tetapi  filantropi Islam masih berlangsung. Pemerintah kolonial memilih tidak ikut campur urusan filantropi Islam. Ini terejawantah dalam Bijblad No. 407 tahun 1858. Mereka tidak melembagakannya seperti sejumlah kesultanan Islam. “Praktik filantropi menjadi sepenuhnya urusan pribadi,” tulis Amelia.  

 

Kebijakan pemerintah kolonial ternyata membawa perkembangan pesat pada filantropi Islam. Ulama dan pesantren tampil menjadi pusat penggerak filantropi. Banyak orang menyerahkan zakat, sedekah, dan wakafnya langsung kepada para ulama atau pesantren. Dari dua pelaku ini, bentuk-bentuk filantropi ini diteruskan kepada yang membutuhkan.

 

Jejak, bentuk, dan pengelolaan filantropi Islam pada masa kolonial tercatat dengan baik dan berlimpah dalam catatan Snouck Hurgronje, Penasihat Urusan Masyarakat Pribumi dan Muslim untuk Pemerintah Kolonial Belanda (1899–1906). 

 

Snouck bahkan mengisahkan sejumlah orang berupaya memanipulasi latar belakangnya agar berhak menjadi penerima filantropi Islam. Mereka memoles dirinya selaik guru agama. “Banyak orang menyamar sebagai guru, hanya dengan maksud untuk mendapat hak semu atas hadiah-hadiah yang saleh (zakat, fitrah, sedekah) dari jemaah yang baik,” tulis Snouck dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1936.

 

Snouck juga menyoroti masih adanya sejumlah penguasa lokal membebankan zakat harta kepada rakyatnya. “Bahwa ada beberapa orang yang, karena keserakahan pemerintah daerah pribumi, konon diharuskan membayar zakat sampai 5-6 kali dalam musim panen yang sama,” lanjut Snouck. Tapi itu sangat langka terjadi dan tidak mengurangi sedikit pun semangat rakyat untuk melakukan filantropi.

 

Seiring kemajuan teknologi di samping makin banyaknya orang yang ingin melakukan kebaikan tetapi menemui jalan buntu karena kadang bingung di mana harus menyalurkan sumbangannya, kemudian muncul platform digital sumbangan berbasis digital semacam kitabisa.com. Dalam siaran resminya, situs menyatakan dapat menjadi penghubung kebaikan yang mempertemukan para pelaku kegiatan sosial dengan para donatur urunan. Di dunia, ide ini dikenal dengan istilah crowdfunding. Oleh anak-anak muda yang menjalankannya, ide dan semangat kitabisa.com ini dimodifikasi dengan memfasilitasi ide/kegiatan sosial dan mempertemukannya pada orang-orang baik di seluruh penjuru negeri.

 

Bagi pemilik ide/kegiatan sosial, proyek sosial yang diajukan bisa berbentuk apa saja, mulai dari pembangunan/perbaikan ruang sekolah/infrastruktur publik (jembatan, bangunan, jalan, dan sebagainya), pendidikan, rumah baca, kesehatan, kesenian/kebudayaan, kepedulian, kerukunan, kampanye/gerakan sosial, kewirausahaan, komunitas, dan lain sebagainya.

 

Berbagai proyek sosial yang telah dilakukan melalui kitabisa.com, di antaranya pengadaan bus keliling donor darah PMI; pembangunan gedung anak jalanan Master Depok; pengiriman buku untuk anak-anak Papua; donasi pohon TELAPAK di Sulawesi Tenggara; Anak Cibuyutan Jelajah Kampus; pembagian parcel Ramadhan untuk masyarakat mantan penderita kusta di Sitanala Tangerang; perpustakaan keliling di Sumedang; dan pemberdayaan perempuan bersama Dreamdelion Bandung.

 

kitabisa.com juga menegaskan bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dengan memberikan dukungan dalam bentuk apa saja (uang,  informasi, waktu, pikiran, barang-barang, dan sebagainya) melalui halaman profil proyek di website resmi mereka. Setiap donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada pemilik proyek sosial setelah kampanye selesai. kitabisa.com dalam pengelolaan dana sumbangan juga mengedepankan transaparansi, demikian pula dengan laporan pertanggungjawaban kegiatan serta keuangannya. Akhirnya, dari rentetan kisah di atas, jadi dapat jelas terlihat kalau DNA orang Indonesia adalah gemar memberi bukan? (*)

 

Diolah dari berbagai sumber