EDAT: Harapan Besar Tuntaskan Malaria
  • 99
  • 0
  • 0
  • 0

Inovasi

Foto: (sumber: indonesiaberinovasi.com)


Malaria kerap jadi masalah tersendiri khususnya bagi wilayah timur Indonesia. Lewat inovasi yang memberdayakan masyarakat dan kerjasama penuh semua pihak, malaria perlahan berhasil diberantas.

 

Secara geografis, Kab Teluk Bintuni, Papua Barat memiliki wilayah yang sebagian besar berupa rawa dan hutan mangrove dan situasi ini jadi endemik subur penyebaran malaria. Banyaknya rawa di Teluk Bintuni membuat area ini memiliki jumlah nyamuk yang sangat banyak dan menjadi penyakit utama yang diderita oleh masyarakatnya. Kasus malaria di Kab Teluk Bintuni pada tahun 2018 hingga bulan Juni hanyalah 0,8 per 1.000 penduduk. Angka ini berbeda jauh dari tahun 2009 yang mencapai 114,9 per 1.000 penduduk.


Pascapemekaran dari Kab Manokwari di tahun 2003, Teluk Bintuni menata segala lini kehidupan masyarakatnya. Salah satu kebijakan yang diambil oleh Pem
erintah kabupaten Teluk Bintuni adalah menggandeng seluruh stakeholder yaitu dunia usaha sebagai pendukung dibuatnya obat dalam kemasan untuk malaria dan Pembina untuk para kader juru malaria baik yang berasal dari kampung maupun perusahaan; Dinas Kesehatan yang memiliki data dan formula obat tentang malaria; dan juga masyarakat Kab Teluk Bintuni yang menjadi sasaran dan fokus pemberantasan malaria.

 

Kerjasama yang terjalin ini sejatinya bertekad ingin mengubah fokus mereka dari pemberantasan nyamuk dan pengobatan kasus-kasus malaria menjadi diagnosis dini dan pemberian pengobatan secara tepat (EDAT) yang menekankan pada kecepatan pelayanan. Jika hanya memusnahkan nyamuk tentu butuh waktu lama, penyebaran malaria pun kemudian “dipotong” di tengah jalan dengan cara memotong transmisi pasien. Dengan demikian, kalaupun nyamuk menggigit, selama yang digigit tidak ada plasmodium-nya, tidak akan ada penyebaran malaria.

 

Metode Early Diagnosis And Treatment (EDAT) dalam pelaksanaannya diperkuat oleh payung hukum berupa Peraturan Bupati (Perbup) tentang Malaria mengenai Akselerasi Eliminasi Malaria (Arema) yang di dalamnya menyebutkan akan melibatkan banyak pihak. Berkat kerjasama antara Pemkab Teluk Bintuni melalui Dinas Kesehatan dengan dunia usaha yaitu dengan Perusahaan BP-LNG Tangguh, maka dibentuklah Juru Malaria Kampung (JMK) dan Juru Malaria Perusahaan (JMP). Para kader yang sebetulnya masyarakat Kab Teluk Bintuni dan berasal dari sekitar 150 kampung dan 11 orang lainnya merupakan kader perusahaan dipilih secara khusus dan dilatih untuk memeriksa darah dan mengobati malaria di bawah pengawasan petugas kesehatan.


Hasil dari kerjasama ini salah satunya adalah para kader yang bertugas dibuatkan kemasan obat
yang berkorespondensi dengan warna pada timbangan. Sebagai contoh, jika jarus timbangan berada di area merah, obat yang diberikan kepada pasien adalah yang berkemasan merah. Dengan demikian, para kader tidak perlu berhitung dahulu untuk mengetahui dosis obat bagi tiap individu.


Ma
sa-masa awal diberlakukan, EDAT mengalami banyak penolakan dan kontroversi. Salah satunya adalah anggapan bahwa yang memeriksa darah seharusnya petugas kesehatan. EDAT dijalankan terus berbenah menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat. Di samping itu, Pemkab Teluk Bintuni juga mendistribusikan kotak malaria ke seluruh puskesmas, dan JMK sembari membatasi penjualan obat malaria secara bebas di apotek, toko obat, dan warung. Seluruh petugas kesehatan yang baru direkrut juga diberi pelatihan malaria sebelum ditempatkan di tempat tugasnya. Lalu, setiap puskesmas, JMK dan JMP dikunjungj secara rutin untuk menjamin kualitas pelaksanaan program malaria di daerahnya.

 

Bumi Cendrawasih atau Tanah Papua selama ini diketahui menempati urutan teratas sebagai penyumbang kasus malaria terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2009, penderita malaria mencapai angka 115 per 1000 penduduk. Setelah diimplementasikan sejak 2010, sistem EDAT berhasil mereduksi wabah malaria. Tahun 2015, kasus malaria ini turun menjadi 2,4 per 1000 penduduk. Pada 2017, EDAT berhasil mereduksi penyebaran malaria dari angka 9,2 persen ke angka 0,02 persen di 12 desa. Selain mengurangi penyebaran, EDAT juga sukses mengurangi tingkat morbiditas malaria dari 115 penderita per 1000 penduduk (2009) menjadi 5 penderita malaria dari 1000 penduduk (2016).

 

Kesuksesan program malaria di Kab Teluk Bintuni ini mendapatkan banyak penghargaan, termasuk Juara Pelayanan Publik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Asia Pasifik. Penghargaan dari PBB ini adalah untuk pemberdayaan masyarakat dalam kesadaran untuk mengobati dirinya sendiri. Kab Teluk Bintuni selanjutnya bertekad untuk dapat mencapai target transmisi lokal 0 selama 3 tahun atau mencapai eliminasi malaria pada 2021-2022.

 

Program tersebut merupakan upaya penyediaan layanan publik yang tepat dan cermat bagi masyarakat nyatanya memang bukan hanya tugas pemerintah daerah semata tetapi sangat memerlukan adanya jalinan kemitraan yang baik dengan semua pihak terutama dunia usaha dan kelompok masyarakat. EDAT dijalankan dengan kerjasama bersama dan saling bergotong royong demi tekad bersama memberantas malaria. Gerakan gotong royong ini lalu berwujud menjadi inovasi layanan dari daerah endemik menjadi wilayah bebas malaria dalam waktu yang tidak lama lagi. Sebagai nilai dan karakter bangsa Indonesia, gotong royong yang menjadi nilai utama Gerakan Nasional Revolusi Mental, kembali bertaji! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber