Dialog Kebangsaan untuk Tangkal Paham Radikalisme
  • 21
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: CDku.com)

Dialog kebangsaan dapat menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Lewat dialog dengan para tokoh masyarakat dan pemuka agama, paham radikalisme yang berujung pada terancamnya keberagaman Indonesia dan terpecahnya generasi bangsa semoga dapat dicegah.

 

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada penghujung Agustus 2020 lalu menggelar dialog kebangsaan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah dan Tokoh Agama di Kab Wonogiri, Jawa Tengah, tepatnya di di Pondok Pesantren Al Ih’yaul Qur’an, Wonogiri, Jawa Tengah. Dialog ini, menurut Kepala BNPT, Boy Rafli Amar, bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan keawasan seluruh komponen masyarakat agar waspada terhadap perkembangan paham radikal terorisme. Dalam dialog kebangsaan yang digelar oleh Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, peserta yang hadir diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi, kondisi dan dukungan terhadap penguatan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat Wonogiri Jawa Tengah.

 

“Kami mengajak semua agar kita meningkatkan kesiapsiagaan generasi kita, menyelamatkan generasi muda agar terhindar dari ideologi-ideologi berbahaya, terhindar dari bibit-bibit konflik yang dapat mengoyak keharmonisan kehidupan masyarakat yang selama ini terbina,” ujarnya seperti dikutip dari situs resmi bnpt.go.id

 

Kepala BNPT dalam dialog ini selanjutnya mengajak hadirin untuk memupuk semangat bersatu, semangat hormat-menghormati dan semangat toleransi, mengingat ancaman bahaya intoleransi dari paham radikalisme yang jika dibiarkan dapat memecah belah persatuan bangsa serta keberagaman Indonesia. Boy mengingatkan bahwa saat ini kelompok-kelompok radikal intoleran yang tidak bertanggung jawab itu telah merasuki ruang dunia maya dengan sejumlah berita atau informasi yang kerap tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya tetapi justru sangat digemari oleh masyarakat pengguna telepon pintar.

 

“Propaganda mereka banyak di media sosial, perlu bijak dalam menggunakannya, Kita bimbing dan berikan literasi serta edukasi karena isinya tidak semuanya positif. Kepada tokoh agama dan pimpinan pesantren kita imbau agar kita membentuk generasi yang berakhlak unggul dan cinta tanah air karena cinta kepada negeri merupakan sebagian dari iman,” ujar Kepala BNPT lagi. BNPT sejauh ini terus melakukan upaya kolektif pencegahan terorisme yang melibatkan segenap elemen masyarakat dirasa penting agar reduksi nilai-nilai radikal terorisme dapat berjalan efektif dan menyeluruh seperti menggelar dialog kebangsaan, dan sebagainya. Dengan demikian, ke depan pemahaman masyarakat terhadap ancaman radikal terorisme akan tumbuh menguat seiring dengan dorongan agar setiap elemen masyarakat bisa langsung terlibat menyebarkan narasi perdamaian, cinta tanah air dan pemahaman agama yang benar sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam membendung propaganda kelompok radikal teroris.

 

Sebagai bagian penting dari terjadinya bonus demografi hingga tahun 2045 mendatang, generasi muda yang tentu saja produktif juga sebagai pengguna media sosial terbesar, perlu mendapatkan bimbingan yang dilakukan dengan langkah-langkah literasi maupun edukasi. “Karena tidak semua isi informasi yang ada di media sosial itu adalah bersifat positif. Karena ada yang sifatnya menyebarkan paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita. Ada yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, ada yang mempromosikan cara-cara kekerasan atau destruktif dengan menyikapi suatu keadaan,” tambah Kepala BNPT.

 

Media sosial, menurut Kepala BNPT, dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah dalam menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Maka, generasi muda ini diharapkan dapat memanfaatkan media sosial untuk menyerap ilmu dan pengetahuan agar tidak mudah termakan berita hoaks. “Kami juga berusaha untuk terus mempromosikan hal-hal yang bersifat membangun semangat toleransi membangun semangat hidup rukun di antara perbedaan yang kita miliki. Semoga dengan pemanfaatan media sosial ini bisa mendatangkan hal-hal yang bersifat positif kepada kita semuanya. Kita tahu bahwa misi pondok pesantren adalah mendidik para santri dan santriawati, yang tentunya mereka kelak diharapkan menjadi generasi yang sukses, memiliki akhlak yang baik dan kemudian kelak bisa menjadi insan yang memiliki daya saing untuk mengisi alam pembangunan di Indonesia ini.”

 

Pimpinan Pondok Pesantren Al Ihya’ul Quran, Ust. Adriansyah mengungkapkan bahwa pesantren akan terus melindungi para santrinya agar tidak mudah terpapar paham radikal. “Al Quran juga mengajarkan kita untuk saling peduli, empati dan saling menjaga serta dilarang untuk melakukan tindakan kedzaliman. Itu merupakan salah satu bentuk asas yang sangat mendasar sekali sebagai suatu tindakan untuk menangkal perilaku-perilaku yang intoleran tadi,” ujarnya. Dialog kebangsaan ini, tambahnya, dapat membangun jalinan komunikasi yang baik ke depannya. “Jadi sesuatu yang menjadi sebuah ganjalan dan jarak, ternyata ada hal yang bisa dikomunikasikan. Sehingga banyak persoalan-persoalan yang bisa terselesaikan. Kata kuncinya adalah komunikasi tadi. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah media penghubung bagi kita kedepan bisa lebih kondusif lagi.”

 

Menjaga kerukunan dan hidup harmonis dalam keberagaman memang harus terus dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia sambal terus gencar melaksanakan program dan kegiatan moderasi agama. Nilai-nilai kebaikan semacam itu juga harus terus ditularkan kepada generasi muda dengan tren kehidupan saat ini yang cenderung individualistis. Pentingnya kebersamaan dan cerdas informasi adalah hal penting yang sangat dibutuhkan saat ini, bahkan bila perlu berlomba dengan derasnya berita hoaks di dunia maya. Mengamalkan dan menghayati Gerakan Indonesia Bersatu dari Gerakan Nasional Revolusi Mental memang harus jadi upaya berkelanjutan bukan? (*)

 

Diolah dari berbagai sumber