Covid-19 vs Pelaku UMKM
  • 95
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (Sumber: spn.or.id)


Seperti sektor usaha lainnya, UMKM juga mengalami hantaman berat seiring penyebaran Wabah Covid-19. Semangat pantang menyerah sesuai jiwanya, para pelaku UMKM juga diminta cermat beradaptasi, berinovasi, dan jeli memanfaatkan momentum serta teknologi di tengah situasi sulit ini.

 

Adaptasi, inovasi, dan jeli melihat peluang serta cermat memanfaatkan teknologi dapat jadi sejumlah langkah penting yang dapat dilakukan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah situasi sulit akibat Wabah Covid-19. Meskipun, menurut Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M Ikhsan Ingratubun, UMKM sulit bertahan di saat seperti ini dan hanya beberapa sektor usaha saja yang dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada.

 

”Misalnya, UMKM sektor busana dapat memanfaatkan bahan bakunya untuk pembuatan masker, UMKM sektor kuliner memanfaatkan layanan daring untuk berjualan. Namun, ada berapa banyak yang bisa beradaptasi seperti ini? Tidak banyak. Kondisi UMKM saat ini hancur lebur,” kata Ikhsan seperti dilansir dari Kompas. Akumindo juga mencatat, rata-rata pelaku UMKM hanya memperoleh 10-15 persen dari omzet hariannya pada kondisi normal.

 

Sebanyak 6,3 juta pelaku UMKM diketahui terpuruk selama meluasnya Wabah Covid-19. Sejak awal Maret 2020, pendapatan harian mereka merosot drastis sehingga mengancam keberlangsungan usaha. Beberapa dari mereka pun mencari solusi untuk bertahan, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi melalui penjualan daring dan berinovasi dengan produk yang mereka hasilkan.

 

Seperti yang dilakukan oleh Pengusaha Kuliner asal Kota Medan. Masih dikutip dari Kompas, Pengusaha bernama Kania mengaku menutup tempat usahanya meskipun ibukota Sumatera Utara ini tengah mengajukan permohonan perberlakuan PSBB ke Kemenkes RI. Maka, penjualan daring pun dimanfaatkannya agar tetap menarik minat pelanggan. Jika produk kuliner yang biasanya siap saji di restoran miliknya, jadi menu siap antar, bahkan ada beberapa menu yang kemudian disulapnya jadi makanan beku dan siap diantar ke pelanggan jika mereka memesan secara daring lewat jasa GoFood atau GrabFood misalnya.

 

Kania mengatakan, omzet hariannya turun 50-60 persen selama situasi sulit ini. ”Saat kondisi normal, transaksi dari layanan pesan-antar aplikasi daring hanya 30-40 persen dari total penjualan. Persentasenya naik menjadi 65 persen selama pandemi, bahkan dua hari lalu 90 persen pendapatan kami berasal dari layanan pesan-antar,” katanya lagi. Untuk meyakinkan para pelanggannya, Kania mengaku selalu menjamin kebersihan makanan. Juru masak restorannya diwajibkan mengenakan masker dan sarung tangan ketika memasak sementara suhu badan juru masak dan pengemudi ojek yang mengantarkan pesanan juga turut dipantau.

 

Untuk menarik pelanggan, Pelaku UMKM Kuliner asal Kota Depok, Ajeng, juga melakukan inovasi. Selain menjual makanan siap antar memanfaatkan sistem daring, Dia juga mengaku memberikan bonus berupa satu botol cairan pembersih tangan untuk setiap pembelian dua kotak makanan. Inovasi pelaku UMKM semacam ini, menurut Ketua Bidang Kewirausahaan Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor, Beta Sagita, dinilai penting agar UMKM dapat bertahan. Di samping itu, UMKM memang harus terus mampu berinovasi membuat produk unggulan yang berbeda dengan produk di pasar.

 

Secara keseluruhan, UMKM di tanah air berperan besar terhadap perekonomian nasional. Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2014 adalah 51,5 persen dan naik menjadi 57,8 persen pada 2018. Adapun UMKM menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja dan 99 persen dari total lapangan kerja. Oleh karena itu, bantuan pemerintah terhadap UMKM diperlukan terlebih di saat sulit seperti sekarang.

 

Bantuan yang diberikan Pemerintah dilakukan melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan terbitnya Peraturan OJK (POJK) No 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease. Dengan ini, pelaku UMKM dapat mengajukan restrukturisasi kepada perbankan. Hal itu direalisasikan dengan kebijakan penundaan biaya pokok, skemanya untuk para debitur yang memenuhi syarat, terkena dampak wabah COVID-19 serta syarat lainnya yaitu memiliki track record yang baik, selalu bisa bayar kredit dengan kategori lancar kolektibilitas 1-2, NPWP bayar pajak baik, mereka tak masuk daftar hitam OJK. Nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit Ultra Mikro (UMi) hingga Pegadaian bisa mendapatkan relaksasi penundaan pembayaran pokok selama 6 bulan. Pemerintah juga akan menerbitkan surat utang pandemic bonds untuk membiayai penguatan dan pemulihan UMKM yang terdampak pandemi. Nilai pandemic bonds yang akan diterbitkan adalah Rp150 triliun. Pandemic bonds akan diterbitkan dalam denominasi rupiah dan dapat dibeli di Bank Indonesia dan swasta di pasar perdana.

 

Begitu pentingnya UMKM dalam menggerakkan perekonomian nasional diketahui juga telah dimasukkan dalam nilai dan semangat Gerakan Indonesia Mandiri dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Gerakan ini sejatinya berfokus pada peningkatan perilaku yang mendukung tercapainya kemandirian bangsa dalam berbagai sektor kehidupan; peningkatan perilaku yang mendukung tercapainya pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi kreatif; peningkatan peran koperasi dan UMKM terhadap ekonomi nasional; peningkatan apresiasi seni, kreativitas karya budaya dan warisan budaya; peningkatan perilaku yang mendukung tercapainya pemerataan ekonomi dan pengembangan potensi daerah tertinggal; dan  peningkatan perilaku yang mendukung penggunaan produk dan sebesar-besarnya komponen dalam negeri.

 

Namun, perlu diketahui pula bahwa terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM pada umumnya yaitu permodalan, inovasi, dan kemampuan bersaing di pasar nasional. Di sisi lain, permasalahan mendasar yang dihadapi adalah usaha yang tidak berkembang yang secara mental menyebabkan pelaku UMKM kehilangan semangat untuk berkembang. Maka, banyak kementerian dan lembaga Negara, BUMN dan perusahaan besar yang kemudian diminta oleh Pemerintah untuk  memfasilitasi pelatihan-pelatihan yang berguna sebagai penguatan revolusi mental para pelaku dan calon pelaku UMKM. Selain tentang usaha, pelatihan itu juga bermuatan berubahnya paradigma atau pola pikir pelaku serta calon pelaku UMKM supaya mereka siap terhadap berbagai tantangan yang muncul, tidak pantang menyerah, bahkan mampu memanfaatkan peluang dan ide yang ada. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber