Cerita Kerukunan dari Desa Compang Ndejing
  • 29
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: jateng.tribunnews.com)

Menjadikan pemimpin dari kalangan minoritas justru bukan jadi ancaman akan terjadinya perpecahan. Dengan kepercayaan penuh, tonggak kepemimpinan dipegang. Karena memang semangatnya melestarikan toleransi dan kerukunan, sekaligus pendidikan politik bagi warganya.

 

Sejak terpilih di tahun 2017 lalu, kisah menarik seorang Kepala Desa (Kades) beda agama dengan warganya hingga kini terus menarik untuk disimak. Kades Muslim itu diketahui  bernama Ahmad Jabur (50 th) dan masih jadi orang nomor satu di Desa Compang Ndejing, Kec Borong, Kab Manggarai Timur, NTT. Desa ini diketahui dihuni oleh warga yang mayoritas beragama Katolik. Meski pada awal cerita mencalonkan diri jadi Kades Dirinya mengaku sempat ragu, Ahmad akhirnya terpilih berkat dukungan warga yang percaya penuh akan kemampuannya memimpin desa.

 

Kepada Kompas Dia menuturkan, Dirinya terpilih karena tingkat kesadaran masyarakat sangat luar biasa dalam hal toleransi hidup beragama. Mereka yang beragama Katolik tidak pernah membedakan calon pemimpin dari agama lain. Saat pelantikan, Ahmad lalu mengajak warga untuk terus menjaga toleransi. “Saat Saya dilantik, Saya imbau kepada warga, Kita ini urus negara, bukan agama. Kita harus kompak membangun Desa Compang Ndejing agar terus maju,” katanya.

 

Dilansir dari katoliknews.com, per Juli 2020, warga penganut Katolik di Desa Compang Ndejing berjumlah 2.227 orang; Islam, 108 orang; dan Kristen Protestan, 2 orang. Sementara itu, pada Pilkades 2017, kata Ahmad, hanya ada 52 orang atau lima persen wajib pilih di desa itu yang beragama Islam. Adapun sisanya beragama Katolik.

 

Menurut salah seorang Warga Desa, Edi Dahal, Ahmad Bajur terpilih karena warga lebih melihat pada kepribadiannya yang selama ini diketahui dekat dengan warga, bahkan dalam suasana perbedaan itu Dia mampu merangkul warga tanpa melihat latar belakang agama. “Kami pilih pemimpin desa, bukan pemimpin agama, sehingga kami tidak pandang dia dari agama apa. Kami nilai Dia layak jadi pemimpin desa,” kata Edi lagi.[i-[1] 

 

Ahmad yang diketahui sangat akrab dengan Pemuka Agama dan gereja kerap meminta masukan yang dapat dilihat saat Dirinya memutuskan mencalonkan diri dalam Pilkades. Begitu juga dengan perilakunya yang tidak membedakan warga yang tidak hanya berbeda agama tetapi juga beda pilihan politik.

 

Kades Ahmad Bajur di saat pencalonan waktu itu memang melibatkan pastor dan tokoh agama di desanya untuk mendapatkan pencerahan. Hasil diskusi itu akhirnya memantapkan diri Ahmad maju jadi Kades. Para tokoh agama dan masyarakat itu memastikan bahwa agama bukanlah halangan untuk menjadi pemimpin. Akhirnya, pada tahun 2017 Ahmad pun terpilih setelah mengalahkan tiga kandidatnya yang beragama Katolik. “Jika dilihat jumlah penduduk, secara logika memang saya tidak terpilih sebagai kepala desa. Saya unggul 82 suara dari tiga orang calon,” ungkap Ahmad.

 

Sikap penuh toleransi ini, menurut Edi Dahal, adalah kekuatan sekaligus modal utama Ahmad menang dalam Pilkades. Desa Compang Ndejing sendiri selama ini diketahui sangat menjaga dan merawat toleransi dan kerukunan dalam kesehariannya. Bentrok karena kasus berlatar belakang agama di desa ini pun tidak pernah terjadi. “Kami hidup berdampingan dengan baik. Kami di sini tidak pernah membedakan siapa mereka dan kita,” kata Edi lagi.

 

Selain beda agama dengan pemimpin desa, Edi mengaku sikap Ahmad terhadapnya juga telah memberikan pendidikan politik yang baik bagi warga desa pada umumnya. Edi sendiri memang tidak memilih Ahmad saat Pilkades ketika itu tetapi pascaterpilih menjadi Kades, Ahmad melibatkan Edi dalam pembentukan perangkat desa. Oleh Ahmad, Edi diminta turut berpartisipasi dan bekerja sama demi memajukan desa Compang Ndejing. “Tentu, ini merupakan pendidikan politik yang baik,” ujar Edi.

 

Usai terpilih, Ahmad mengakui memang ada sedikit “riak” sebelum roda kepemimpinan desa siap dijalankan. Isu SARA dan agama sempat santer terdengar bahkan setelah pemilihan masih ada suara-suara kekecewaan dari warga yang tidak puas dengan hasil Pilkades. Kades terpilih, Ahmad Bajur pun menilainya sebagai pembelajaran bagi iklim demokrasi di desanya. Pendekatan dan tekad merangkul seluruh warga lantas jadi solusi terbaik bagi masalah ini.

 

Selain itu, dukungan warga mayoritas kepada Ahmad diketahui memang tidak pernah surut. “Riak” tadi akhirnya dapat diredam. Ahmad mengatakan, isu ini berhasil dipatahkan lewat gencarnya sosialisasi kerukunan dan toleransi dari organisasi Berkat Komunitas Doa (KBG) di kampungnya dan pastor paroki yang selalu mendidik warga dalam berbagai acara gereja perihal agama yang bukan menjadi sebuah hambatan bagi seseorang untuk menjadi pemimpin.

 

“Kami di sini, tidak pernah omong agama, suku atau ras. Di kampung ini, kami hidup sebagai sesama saudara yang selalu bersama dalam suka dan duka,” kata Ahmad. Terjaganya kerukunan antarumat beragama ini, menurut salah satu Tokoh Masyarakat Desa, Florianus Sujanjono, memang telah ada sejak dulu. Belum pernah terjadi gesekan antara umat Islam dan Katolik di Purang Mese, meskipun mereka hidup berdampingan. “Kami di sini, selalu di kenal dengan toleransinya yang kuat. Belum pernah ada konflik antara umat Islam dan Katolik di kampung kami,” ungkapnya lagi.

 

Agama, kata Florianus, adalah urusan pribadi yang tidak boleh dibawa dalam hubungan atau pergaulan di masyarakat. “Itu kunci kerukunan kami di (wilayah desa—red) Purang Mese ini. Walaupun Kami beda agama tapi kami tidak pernah omong agama saat duduk atau obrol bersama,” pungkasnya.

 

Cerita kerukunan dan toleransi dari Desa Compang Ndejing di Kab Manggarai Timur ini kembali menegaskan bahwa cita-cita yang sama yaitu memajukan desa dan hidup dalam ketentraman adalah impian semua warga untuk segera diwujudkan. Tanpa melihat latar belakang, apalagi agama, hidup keseharian di desa jadi terasa damai dan aman. Meski dari desa kecil, inilah potret kerukunan Indonesia dalam keberagaman yang sesungguhnya, potret sejati dari Gerakan Indonesia Bersatu pula! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber