Cegah Perpecahan dengan Moderasi Agama
  • 31
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: youtube.com)

Kerukunan adalah salah satu modal utama keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia. Sebagai salah satu kekayaan, kerukunan sudah sepatutnya terus dirawat dan dijaga.

 

“Pemerintah, khususnya melalui Kementerian Agama, meyakini bahwa kerukunan adalah faktor penting bagi integrasi nasional dan terwujudnya stabilitas dalam menunjang pembangunan,” kata Menteri Agama, Fachrul Razi seperti dikutip langsung dari lama resmi kemenag, Kemenag.go.id. Menurut Menag, kerukunan dalam pembangunan bangsa sangat penting dimiliki semua orang, terutama demi mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang maju. “Kerukunan nasional merupakan modal utama terwujudnya persatuan dan kesatuan dalam rangka mencapai tujuan dan cita-cita pembangunan,” tambah Menag.

 

Menag mengatakan, di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, keragaman pemahaman keagamaan harus dikelola dengan sangat arif dan adil dan tekad ini bukan hanya menjadi tugas tokoh dan umat beragama tapi juga melibatkan negara sebagai institusi yang memiliki kewenangan menetapkan peraturan. “Mengingat Indonesia bukan negara agama, maka kehadiran negara tidak boleh sampai melanggar kebebasan umat dalam memilih dan menjalankan ritual ibadah yang diyakininya,” ujarnya lagi. “Negara hanya harus hadir dalam hal mengelola dan memfasilitasi agar kebebasan setiap umat beragama dapat terjamin pelaksanaannya. Negara juga harus hadir agar keragaman pemahaman tafsir umat beragama tidak saling mengganggu satu dengan lainnya.”

 

Guna mewujudkan tugas mengelola kerukunan itulah Kemenag mencanangkan program moderasi beragama. Saat ini moderasi beragama telah menjadi bagian dari arah kebijakan dan strategi pemerintah menuju revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Dalam RPJMN 2020-2024, upaya penguatan moderasi beragama ini disandingkan dengan program revolusi mental lainnya, yakni pembinaan ideologi Pancasila.

 

Kemenag sendiri, ungkap Menag, moderasi beragama dipahami sebagai proses memahami dan melaksanakan ajaran agama secara adil dan seimbang agar terhindar dari perilaku ekstrem serta berlebih-lebihan saat menjalankan ajaran agama. “Jika proses memahami dan melaksanakan ajaran agama secara adil dan seimbang ini dapat dipraktikkan oleh seluruh umat beragama, maka proses itu akan menghasilkan situasi yang rukun dan damai.”

 

Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama  (Kemenag) telah menerbitkan modul Moderasi Beragama untuk siswa madrasah dengan judul “Membangun Karakter Moderat: Modul Penguatan Nilai Moderasi Beragama pada RA-MI dan MTs-MA.”  Buku ini disusun bersama oleh para akademisi Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN)-IAIN Surakarta dan guru-guru.

 

Menurut Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, moderasi beragama harus diperkenalkan sejak dini secara terstruktur. Karena itu, menurutnya, modul moderasi beragama terebut diharapkan bisa diajarkan kepada seluruh siswa madrasah di Indonesia. “Moderasi beragama harus diperkenalkan sejak dini secara masif terstruktur dan terukur. Kita berharap madrasah dengan kurikulum dan modul pembelajarannya dapat menjadi wadah mewujudkan cita cita besar itu,” ujar Kamaruddin saat dihubungi Republika.co.id. ditambahkannya, Kemenag menargetkan seluruh siswa di madrasah bisa mempraktikkan apa yang ada di dalam modul moderasi beragama tersebut.  “Moderasi beragama harus diajarkan, diedukasikan dan dicontohkan untuk bisa terinternalisasi kemudian menjadi praktik dari peserta didik.”

 

Kementerian Agama sendiri memang terus aktif mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama. Menurut Nur Solikin, Dosen Pascasarjana IAIN Jember dan Dewan Ahli ISNU Jawa Timur, menjadi moderat dalam beragama bukan berarti menjadi lemah. Dalam tulisannya yang dimuat dalam radarjember, Solikin juga mencatat bahwa menjadi moderat bukan berarti cenderung terbuka dan mengarah kepada kebebasan. “Keliru jika ada anggapan bahwa seseorang yang bersikap moderat dalam beragama berarti tidak memiliki militansi, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh, dalam mengamalkan ajaran agamanya,” tulisanya lagi. “Oleh karena pentingnya keberagamaan yang moderat bagi Kita umat beragama, serta menyebarluaskan gerakan ini. Jangan biarkan Indonesia menjadi bumi yang penuh dengan permusuhan, kebencian, dan pertikaian. Kerukunan baik dalam umat beragama maupun antarumat beragama adalah modal dasar bangsa ini menjadi kondusif dan maju.”

 

Solikin lantas mengimbau agar gerakan pengarusutamaan moderasi beragama ini mestinya tidak cukup bila hanya dipromosikan saja, melainkan perlu didesakkan sebagai aksi dan gerakan bersama seluruh komponen bangsa baik pemerintah maupun kelompok agama agar ekstremisme dan kekerasan atas dasar kebencian kepada agama dan suku yang berbeda bisa ditekan dan dihilangkan menuju beragama yang toleran, damai dan menghargai kemanusia semesta. “Saatnya kita dukung Menag yang baru ini untuk menunjukkan kinerjanya dan mensukseskan gerakan moderasi beragama serta toleransi beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga!” tambah Solikin.

 

Menjadi agama mayoritas di tanah air sejatinya menjadikan Kaum Muslim anti akan perbedaan dan keberagaman bangsa. Menekankan kedamaian dan persatuan memang harus sudah ditanamkan sejak dini. Indonesia tetap ada karena memang telah lama mampu menjaga kerukunan di tengah kehidupan yang serba beragam sejak dulu. Mari hayati semangat dan nilai dari cita-cita Gerakan Indonesia Bersatu yang mengidamkan terus terjaga dan terpeliharanya kehidupan berbangsa dan bernegara dalam harmoni kebersamaan penuh keberagaman. Karena Bangsa Indonesia itu Satu dan Bersatu. Sejak Dulu! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber