Berbagi, Berhasil meski dengan Cara Tidak Lazim
  • 72
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: warunkupnormal.com)

Banyak cara dilakukan pengusaha yang baru memulai usahanya untuk menjajakan produknya. Usaha kuliner, awalnya cukup bayar dengan doa. Bukan uang yang diharap jadi pendapatan tapi justru untaian doa yang tidak jarang malah diragukan kekuatannya. Buktinya? Sukses kok.

 

Kisah sukses itu bermula dari unggahan di akun media sosial, Facebook tertanggal 17 Juni 2018. Sejak diunggah, postingan ini sudah dibagikan hingga 9,9 ribu kali dan berhasil menuai sampai sekitar 900 komentar. Akun Facebook atas nama Fauzi Amalia itu secara keseluruhan berbagi tentang kisah sukses menjadi pengusaha baru jasa kuliner dengan metode pemasaran yang dinilai tidak lazim. Sesederhana memanjatkan doa, pelanggan tidak perlu membayar, pengusaha hanya berharap cara ini makin melanggengkan keberlanjutan usaha yang baru saja dirintisnya.

 

Namun, justru dari cara yang tidak biasa ini, usaha itu terus berkembang bahkan dalam hituangan waktu yang tidak begitu lama. Dalam ceritanya, pemilik akun mengaku bertemu Si Pengusaha dan mengakui bahwa usahanya di masa awal berdiri memang tidak sebesar sekarang. “Doa 1.000 orang lah yang disebut menjadi dorongan luar biasa sehingga bisnis yang dikelola berkembang pesat,” tulis akun Fauzi Amalia.


Fauzi menambahkan, Si Pemilik Usaha mulanya membuat 1.000 porsi nasi goreng dan tentu saja, pembeli tidak diwajibkan membayar. Pembeli hanya diberi kertas putih lalu diminta membaca bertuliskan: "Ya Allah, semoga usaha nasi goreng ini berkah, laris, dan bermanfaat."  Maka, semua pembeli pun membacanya.

 

Metode ini, menurut Si Pemilik Usaha, diyakini lebih baik ketimbang menggunakan pinjaman bank. Rex Marindo, Si Pemilik Usaha sekaligus salah satu Pendiri pusat kuliner bernama ‘Warunk Upnormal’ itu kini telah punya 78 cabang dalam waktu lima tahun. Dengan menyasar Kaum Muda dan menu makanan merakyat, warung itu terus ramai dikunjungi baik siang maupun malam. Bahkan, dengan jaringan brand lainnya seperti Nasi Goreng Mafia dan Bakso Boedjangan tembus 120 an cabang di seluruh Indonesia, dengan 4000 karyawannya.

 

Saya bertemu Rex di salah satu cabang Upnormal di Jalan Kaliurang Jogja, mengejutkan bahwa semua usahanya tidak melibatkan utang bank. Bahkan dulu diawal mereka mau ekspansi, ada usulan untuk utang bank dan Rex memilih untuk mundur jika itu dilakukan. Akhirnya mereka memilih menggaet investor untuk dapat membuka banyak cabang, dengan akad kerjasama usaha, tanpa pernah membuka akad riba. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menggaet merek mie instan terkenal untuk berinvestasi di warung yang menu dan harganya akrab dengan kantong anak muda ini. Singkatnya, tidak ada merek mie instan lain yang dimasak di warunk Upnormal kecuali mie instan merek sang investor.


“Ada cerita dari Rex yang membuat saya terpana. Ketika ‘ngobrol dengan kawan-kawan di Upnormal, kami seperti diingatkan.. ‘Apa iya kami bisa melejit seperti sekarang karena 1000 doa yang dulu dibacakan orang-orang?’” tulis Fauzi lagi. “Iya mas, ketika 2013 kami memulai Nasi Goreng Mafia di Bandung, hari pertama kami bikin pengumuman.. GRATIS 1000 PORSI NASI GORENG, CUKUP DIBAYAR DENGAN DOA. Jadi, kami siapkan 1000 porsi untuk sedekah di depan, dan setiap orang yang makan kami beri kertas, dan kami minta mereka membacanya.”

 

Metode pemasaran tidak lazim ini, menurut Creasionbrand I Creative Sales & Brand Partner, dapat jauh lebih efektif dijalankan daripada hanya sekadar pasang billboard, baliho dan sejenisnya. Metode ini memang awalnya dapat dinilai sebagai langkah coba-coba. Namun, karena sifatnya yang aktif, urusan “ketagihan atau suka” pembeli jadi tidak terlalu penting. Dengan coba-coab ini, justru tercipta “peluang” pembeli yang akan siap membeli karena rasa makanan yang enak dan awalnya gratis dengan doa tadi, bahkan siap “mengiklankan” makanan itu ke orang lain. Suatu metode yang mustahil bagi metode pemasaran yang mengandalkan baliho atau model iklan lainnya. Selain rasa yang enak dan terjaga mutunya terutama untuk usaha kuliner yang baru saja mulai, upaya ini memang harus selalu dilestarikan demi kelanjutan usaha.


Metode “Bayar Pake Doa” ini juga terhitung berdampak besar tetapi berongkos rendah. Efek viral yang didegungkan cukup dengan berdoa itu sangat mungkin jadi bahan pembicaraan yang menarik apalagi jika sampai ke telinga media pemberitaan. Jika 1000 porsi nasi goreng enak yang dibagikan kemudian di waktu berikutnya juga berhasil menjaring 1000 Pembeli, tentu metode pemasaran ini sangat sukses dilakukan.  
Setelah semakin berkembang, Warunk Upnormal yang makin diterima masyarakat memang tidak lagi mempergunakan metode pemasaran “Bayar Pake Doa” lagi. Warung ini mengekspansi bisnisnya dengan sistem franchise dan hingga kini tercatat memiliki 112 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Layaknya metode pemasaran pada umumnya, Warunk Upnormal misalnya banyak “menebar” promo potongan harga bekerja sama dengan jasa layanan antar dari ojek daring.

 

Semangat berbagi Pemilik Usaha sungguh patut diapresiasi. Di banyak pengakuannya saat wawancara media, Si Pengusaha mengaku selalu ingin terus melestarikan budaya berbagi ini. Dia ingin apa yang diusahakannya ini dapat juga “kembali” ke banyak orang sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME demi menarik “kembali” pembeli produk kulinernya lebih banyak lagi.

 

Cerita sukses dalam menjalani bisnis sekaligus ingin menunjukkan adanya kekuatan sedekah ini semoga bukan lagi sebagai barang langka di tengah situasi terkini Bangsa Indonesia di tengah krisis akibat Wabah Covid-19. Berbagi, apapun agama dan siapa pun pelakunya, tetap harus jadi salah satu ciri kepribadian bangsa Indonesia yang beretos kerja tinggi, berintegritas dan bergotong royong sesuai dengan semangat Gerakan Nasional Revolusi Mental. (*)