Belajar dari Korsel untuk Tekan Kasus Covid-19
  • 51
  • 0
  • 0
  • 0


 

Banyak cara dilakukan suatu negara untuk mengatasi wabah Covid-19. Disadari bukan hanya kerja pemerintah saja, wabah ini “menagih” pula kesadaran publik. Korea Selatan (Korsel) punya cara yang baik.

 

Sejak resmi dilanda wabah Covid-19 di akhir Februari 2020 lalu, Korsel mengumumkan terus meningkatnya jumlah kasus yang terjadi terhadap warganya. Bahkan, dalam satu hari pernah dilaporkan terjadi 909 kasus dan selanjutnya angka kasus terus merangkak hingga mencapai ribuan.

 

Hanya dalam waktu sebulan saja, Korsel terbukti berhasil menekan jumlah kasus yang besar itu. Di akhir Maret 2020 Negeri Ginseng ini melaporkan kasus Covid-19 hanya tersisa 78 kasus saja. Adapun angka kematian akibat COVID-19 di Korsel cuma 158 orang, sementara pasien yang sembuh 5.228 orang.

 

Selain aksi cepat tanggap; menggelar tes massal; pelacakan kontak, isolasi, dan pengawasan; Korsel juga melaksanakan strategi komunikasi risiko yang sangat baik. Melalui sejumlah pendekatan, pihak berwenang dengan sungguh-sungguh meminta kesadaran publik untuk mengatasi merebaknya wabah yang menyerang saluran pernafasan manusia ini.

 

Pemerintah Korsel menyadari betul bahwa jumlah petugas kesehatan atau pemindai suhu tubuh tidak akan cukup untuk melacak semua warganya. Oleh karena itu, mereka meminta warga untuk dengan kesadaran penuh dan sukarela melaporkan diri sendiri ke berbagai pusat kesehatan.


Pemerintah Korsel tidak putus-putusnya mengimbau warga melalui siaran televisi, pengumuman di stasiun kereta bawah tanah, dan mengirim peringatan melalui telepon pintar. Imbauan itu berisi pesan peringatan untuk memakai masker, menjaga jarak, dan warga diminta mengirim data kesehatannya setiap hari. “Kepercayaan publik ini telah menghasilkan tingkat kesadaran kewarganegaraan yang sangat tinggi dan kerjasama sukarela yang memperkuat upaya kolektif kita,” kata Wakil Menteri Urusan Luar Negeri, Lee Tae-ho, dalam keterangan resminya kepada wartawan. Lebih lanjut, Pemerintah Korsel juga meminta agar warganya yang tidak memiliki gejala untuk dites. Selain itu, ada juga aturan khusus dalam biaya perawatan terkait Covid-19 ini.


Namun demikian, para ahli banyak menilai kalau strategi baik ini akan cukup sulit bagi negara lain untuk meniru Korea Selatan. Sebab, ada tiga hal utama yang menjadi kendala umum terjadi di negara lain yaitu urusan politik; kemauan publik berupa kepercayaan sosial yang dimiliki Rakyat Korsel itu lebih tinggi dibandingkan rakyat negara lain; dan terakhir adalah masalah lambatnya penanganan sementara kasus yang terjadi terus meningkat pesat. “Mungkin sudah terlambat bagi negara-negara yang sudah diserang epidemi itu untuk mengendalikan wabah secepat atau seefisien Korea Selatan,” ujar salah satu dokter ahli epidemiologi di Korsel, Ki Mo-ran sebagaimana dikutip  dari the New York Times.

 

Nah, jika Korsel dapat menggugah kesadaran warganya seperti itu, Indonesia juga sebenarnya dapat melakukan hal yang sama. Cara boleh berbeda tetapi larangan untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah, serta mengatur dan menjaga jarak baik fisik maupun sosial sejauh ini bisa berjalan dengan baik. Perilaku disiplin dan tertib serta berempati untuk bersama menjaga kesehatan memang harus terus selalu diasah dan diamalkan jika ingin wabah ini segera berakhir. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber