Antara Nasionalisme dan Cita-cita Hidup
  • 28
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

foto: (sumber: cermati.com)

Mendikbud mengimbau agar para mahasiswa dan alumni sekolah di luar negeri untuk mau kembali ke Indonesia dan mengabdi kepada bangsa. Karena dampaknya dapat sangat besar bagi negara.

Saat ini, masyarakat di seluruh dunia menyadari bahwa kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada sumber daya manusianya, sementara paradigma kebergantungan dunia terhadap sumber daya alam telah bergeser ke arah sumber daya manusia. Namun, hal terpenting yang perlu disadari adalah bahwa tanpa kerja keras, makin sulit mengantarkan bangsa dan negara ini pada kemajuan. Generasi muda yang kelak akan jadi pemimpin bangsa, baik yang tengah menempuh pendidikan di dalam maupun luar negeri, dipercaya akan mampu membawa Indonesia kepada kemajuan tadi.

Khusus untuk mereka yang menempuh pendidikan di luar negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengajak agar seluruh mahasiswa Indonesia yang telah selesai menimba ilmu di luar negeri untuk kembali dan membangun Indonesia. “Mohon kembali ke tanah air, negara Indonesia membutuhkan Anda,” katanya saat memberi sambutan pada Penutupan Simposium Internasional Online Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia 2020 secara daring, akhir Agustus 2020 lalu.

Mendikbud juga mengimbau agar kesempatan belajar di negeri orang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Belajar di luar negeri, tambahnya, adalah kesempatan untuk menimba ilmu, pengalaman, membangun jaringan, dan mengenalkan budaya tentu akan sangat berguna dalam meningkatkan kompetensi diri dan memberikan kontribusi bagi bangsa. Namun, Mendikbud kembali mengingatkan kalau setelah lulus, Dia meminta para lulusan luar negeri itu untuk kembali ke tanah air. “Karena besar sekali dampaknya yang teman-teman bisa lakukan untuk Indonesia,” ujarnya lagi.

Mendikbud dalam pertemuan secara daring ini menyampaikan rasa bangganya terhadap capaian Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia yang telah menjalankan kiprahnya sebagai perhimpunan terbesar yang ada di luar negeri dan berharap PPI dapat menunjukkan kontribusinya bagi kemajuan Indonesia.

Koordinator PPI Dunia periode 2019/2020, Fadlan Muzakki, dalam pertemuan itu lalu mengajak rekan-rekan PPI untuk lebih berkontribusi membangun Indonesia di luar negeri. "Ketika Kita kembali ke Indonesia, Kita bisa berkolaborasi di dunia yang lebih nyata. Masih ada ikrar bagi teman-teman yang aktif berorganisasi untuk (terlibat) organisasi yang bersifat sukarela dan profesional sehingga Kita bisa makin kreatif dan inovatif,” ujarnya. “Mari kita berpikir positif, jangan mencaci-maki, jangan saling benci, mari bergandeng tangan membangun Indonesia dan mendukung koordinator terpilih.”

Situasi Dilematis

Sekolah di luar negeri, lulus, dan memilih untuk lanjut bekerja di negara yang sama  serta tentu dengan tawaran jumlah gaji yang menggiurkan, sudah jadi alasan umum kalau para mahasiswa Indonesia jadi enggan kembali ke tanah air. Bukan kembali ke negara dan bangsa sendiri tetapi impian hidup lebih sejahtera dengan rekening tabungan yang terus bertambah, pliihan mereka untuk tetap di luar negeri adalah karena jurusan yang mereka ambil saat kuliah, nyatanya justru ada yang “tidak terpakai” oleh kebutuhan pasar kerja di tanah air. Situasi inilah yang diakui bahkan sempat membuat banyak lulusan luar negeri yang depresi karena bingung dengan pilihan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan mereka.

Adalah seorang lulusan luar negeri bernama Putri Dwimirnani, Alumni S2 Space Syntax, University College London ini mengakui bahwa jurusan yang diambilnya saya kuliah di luar negeri justru tidak dapat dimanfaatkan saat dirinya pulang dan mencari pekerjaan. Putri sendiri sebelumnya menyelesaikan pendidkan S1 jurusan Desain Interior di Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Di Inggris, saya termasuk manusia langka. Hingga saat ini, saya adalah satu-satunya orang yang berprofesi sebagai lighting designer dan mengambil program tersebut, lalu memadukan ilmu pencahayaan dengan Space Syntax. Andai saya tinggal di negara maju, sudah pasti akan diperebutkan oleh berbagai kampus atau perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Jujur, saya sempat tergoda untuk menetap di sana. Tapi, saya terngiang-ngiang perkataan mantan bos saya kala itu, “Kalau semua orang pintar tinggal di luar negeri, lalu siapa yang mau membangun negara ini?” tulis Putri dalam unggahannya di id.quora.com. “Akhirnya, saya pulang. Tapi, hingga detik ini, ilmu yang susah payah saya pelajari di sana belum bisa digunakan dengan maksimal. Saya sudah berusaha mempresentasikan ilmu ini ke beberapa firma arsitektur, kampus-kampus ternama, hingga sengaja menyisipkan ke dalam proyek-proyek tertentu meski tanpa menerima bayaran tambahan. Tetap saja, saya tidak mampu ‘menggugah’ mereka sebagaimana saya membuat para akademisi dan praktisi di luar negeri terkesima saat menyaksikan hasil penelitian saya.”

Putri yang lulus S2-nya di tahun 2016 lalu ini mencatat beberapa hal penting tentang situasi yang dialaminya ini. Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sendiri, Putri melihat bahwa ada yang aneh dengan sistem pendidikan kita. Di negara-negara maju, jurusan yang ditawarkan untuk program master biasanya justru lebih mengerucut.  Misalnya, untuk jurusan Arsitektur, program pascasarjana yang ditawarkan akan mengerucut menjadi lebih detail, seperti Architecture History, Urban Design, atau jurusan yang saya ambil: Space Syntax. “Sementara, di ITB program yang ditawarkan justru ‘melebar/meluas’. Contohnya, jika di jenjang sarjana ada macam-macam jurusan desain seperti Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Produk, maka untuk jenjang pascasarjana hanya ada satu: Desain. Dari sini, bisa dilihat bahwa pendidikan di luar negeri memiliki kecenderungan untuk semakin fokus, sementara di Indonesia ilmunya justru semakin meluas,” tulis Putri lagi.

Keadaan serupa, diakui Putri, juga dirasakan oleh teman-teman ‘senasib’ yang lulus dari jurusan lain di kampus-kampus luar negeri. Banyak yang mengeluh kesulitan mendapat kerja setelah kembali ke negara ini, padahal di luar negeri mereka bisa dihargai sangat tinggi karena kompetensinya.

“Bayangkan. Semasa kuliah, kepala kami dipenuhi inspirasi dan harapan untuk membangun negeri. Ketika kembali, kami dihadapkan pada kenyataan pahit yang mengharuskan kami untuk memilih antara menerima pekerjaan yang tidak sesuai keahlian/kompetensi atau bertahan dengan idealisme, dengan konsekuensi harus terbelit dalam jeratan ekonomi. Percaya atau tidak, banyak lulusan luar negeri yang terkena depresi akibat dilema ini, termasuk saya. Sebab, di saat kami harus merelakan ilmu yang sudah susah payah dipelajari, teman-teman dari negara lain justru sedang memetik kesuksesan. Mereka yang dulu tidak lebih pandai dibandingkan kami, kini bekerja di perusahaan-perusahaan internasional ternama dan mengisi posisi penting. Sementara, kami yang lulus cumlaude kini terpaksa bekerja di perusahaan yang terkadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang dulu dipelajari. Mengapa tidak membuka perusahaan sendiri? Karena tidak semua orang memiliki modal atau kemampuan untuk mengelola perusahaan. Sesederhana itu!” tulis Putri.

Akhirnya, menurut Putri, masalah dilematis ini dapat kembali berpulang kepada diri masing-masing para lulusan luar negeri. “Kembali lagi kepada tujuan awal, mengapa kita kuliah di luar negeri? Jika sekadar ingin meraih gelar demi mendapatkan kenaikan gaji, maka bekerja di bidang apa pun tidak menjadi masalah. Tapi, mereka yang memang pada dasarnya ingin fokus pada bidang ilmu tertentu dan menjadi seorang tenaga ahli akan merasa bahwa kembali ke Indonesia merupakan pilihan yang sangat berat untuk dijalani,” tutup Putri dalam tulisannya.

Ketika nasionalisme dipertanyakan, sementara kebutuhan dan cita-cita pribadi begitu besar, mana yang kemudian harus didahulukan? Mengabdi kepada negara dengan segala usaha dan kemampuan terbaik akan jadi panggilan jiwa tersendiri bagi mereka yang terpilih. Namun, bila kemudian memilih tetap tinggal di luar negeri dan mengadu nasib, itu adalah hal hidup mendasar yang dimiliki semua orang. Meski saat ditanya seberapa nasionalis, jawaban sederhana yang muncul adalah tetap di luar negeri tanpa pernah melepaskan status WNI itu. Itu sudah cukup katanya!”

(*)diolah dari berbagai sumber