Antara Manusia Silver, Tertib Keamanan, dan Dalih Nafkah
  • 37
  • 0
  • 0
  • 0

Kabar

Foto: (sumber: Liputan6.com)

Keberadan manusia silver, khususnya bagi warga ibukota Jakarta dan sekitar Jabodetabek, tentu sudah tidak asing. Kesan masyarakat terhadap mereka tentu beragam, mulai dari ancaman tindak kejahatan hingga rasa kasihan.

 

Berdandan seunik mungkin demi menarik perhatian orang, meski sekujur badan dibalur cat minyak berwarna perak atau silver, warga Ibukota Jakarta dan Jabodetabek tentu sudah tidak asing dengan keberadaan Si Manusia Silver yang dapat dengan mudah dijumpai di jalanan atau perempatan lampu merah. Meski kapan resminya kehadiran mereka dimulai, Manusia Silver semula “tampil” untuk meminta sumbangan. Aksi meminta sumbangan itu biasanya dilakukan tanpa bersuara, bahkan ada beberapa pelakunya yang memilih diam tidak bergerak, untuk mengesankan dirinya sebuah patung demi menggerakkan hati orang-orang untuk beramal.

 

Sayangnya, aksi Manusia Silver saat ini tidak lagi murni berbicara tentang amal. Banyak di antaranya yang terang-terangan melakukan kegiatan ini untuk mencari nafkah. Rasa simpati masyarakat pun jadi berkurang, lalu menganggap Manusia Silver sebagaimana pengemis jalanan biasanya. Parahnya lagi, aksi meminta sumbangan bahkan dicurigai hanya “bungkus” dari tindak penipuan.

 

Salah seorang Manusia Silver bernama Saiful Tobing (34 thn) kepada Okezone menuturkan, menjadi Manusia Silver sudah menjadi pilihan Saiful dalam mencari nafkah dan tidak selalu terkait dengan kegiatan akal semacam memungut sumbangan. Selain dapat penghasilan, Saiful mengaku cukup senang karena bisa mengenal komunitas Manusia Silver lainnya, serta berbagi dengan rekan-rekannya yang sedang membutuhkan. Modal jadi Manusia Silver sendiri kuncinya terletak pada riasan, mereka biasanya membeli cat sablon, bedak, dan minyak tanah, sementara untuk membersihkan badan selesai beraksi, mereka biasanya menggunakan sabun pencuci piring.

 

“Sukanya ya kita bisa berbaur sih dengan teman-teman yang lain yang datang dari luar daerah. Kita juga kan kalau di seputaran sini, kita bukan buat sendiri. Kadang ada di pangkalan dari luar kita yang mau minta sumbangan, kita turut bantu. Masalahnya terkadang mereka enggak mau dibantu. Tapi kita dalam arti kata Manusia Silver solidaritas, ya setiap ada yang meminta dana atau bantuan, kita turun tangan membantu,” papar Saiful yang “beraksi” di jembatan Legenda Grandwisata, Tambun, Kab Bekasi, Jawa Barat ini. “Kadang kita kalau di pangkalan, kadang ada motor itu pengemudinya dompetnya ditaro (ditaruh—red) di tengah-tengah, dikirain kita mau ngerampok. Terus kadang di perkampungan kita datang baik-baik, kadang kita dilempar dengan sandal.”

 

Manusia Silver lainnya, Ardian, yang beroperasi di trotoar Jalan Sultan Agung, Manggarai, Jakarta Selatan, mengaku menjadikan aksi Manusia Silver sebagai ajang mengamen sejak sore hingga menjelang magrib. Berbekal gitar kecil, Dia menawarkan suaranya kepada para pengendara kala lampu lalu lintas bernyala merah. Berbeda dengan pengamen lainnya, seluruh tubuh pemuda berusia 18 tahun itu diwarnai cat perak. Meski baru seminggu ini Dia memoles tubuhnya dengan cat perak. Usaha ini, secara tidak langsung diakuinya membawa keberuntungan. Ardian mengatakan, sore hingga malam merupakan waktu yang tepat mengamen di jalanan. Selain tidak terpapar terik matahari, Dia mengaku bisa menghindar dari razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Kalau mereka datang, kita lari aja. Kabur ke rumah warga.” kata Adrian lagi. Selama delapan jam mengamen, cat perak itu menempel di sekujur tubuhnya. Dia mengaku, tidak ada akibat buruk akibat adonan cat itu. “Cuma dingin karena enggak pakai baju,” tuturnya.

 

Tidak jauh dari lokasi Ardian mangkal, lima pemuda lainnya terlihat mendatangi satu persatu pengendara. Berbeda dengan Ardian, mereka hanya meminta-minta bermodal cat perak yang melumuri seluruh tubuh, tanpa bernyanyi dan memetik gitar. Wajah mereka pun ditutup topeng, yang juga berwarna perak. “Biar muka enggak kelihatan,” ujar salah seorang Manusia Silver lainnya bernama Febriansyah (18 thn). Dia mengaku, belum lama menjadi Manusia Silver. Sebelumnya, Dia bekerja menjadi petugas kebersihan di Apartemen Bassura City, Jakarta Timur. Namun, akibat Pandemi Covid-19, Febriansyah masuk ke dalam salah seorang karyawan yang dirumahkan. Karena kesulitan mendapatkan pekerjaan baru, Dia memilih beralih profesi menjadi Manusia Silver. “Saya sempat ngamen, tapi gara-gara Corona ini penghasilan menurun,” ucap warga Manggarai Selatan, Jakarta Selatan itu. Menurut Febri, sebelum Pandemi Covid-19 penghasilan mengamen tak jauh berbeda dengan gaji petugas kebersihan. Sehari, ia mengaku bisa mendapat uang Rp150.000. “Karena Corona (Covid-19) Saya hanya dapat Rp60.000 sekali turun,” kata Dia.

 

Sementara itu, Pemerintah kota Jakarta Timur terus melakukan razia terhadap Manusia Silver yang berkeliling sambil meminta uang. Belakangan, jumlah Manusia Silver semakin banyak sehingga dianggap meresahkan masyarakat. “Sejak Senin kita lakukan giat serentak di seluruh kecamatan dan tingkat kota,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Timur, Budhy Novian.


Ratusan petugas Satpol PP pun dikerahkan untuk melakukan penindakan di beberapa titik. Budhy menilai, warga sudah sejak lama mengaku resah dengan keberadaan manusia silver. Satpol PP juga menerima sejumlah pengaduan warga terkait fenomena perkotaan ini. Pengamen yang mengecat seluruh tubuhnya berwarna silver itu dianggap meresahkan lantaran melakukan tindakan yang mengganggu warga. Beberapa di antaranya meminta-minta uang di persimpangan jalan. “Prinsipnya orang kan tidak boleh memungut atau mengemis di sarana umum, baik di lampu merah maupun di mana pun. Pokoknya sarana umum. Jadi fenomenya menganggu ketertiban,” kata Budhy. Selain itu, dikhawatirkan ada modus kriminal yang mungkin saja dilakukan oleh para Manusia Silver. Walau demikian, Budhy tidak bisa menjelaskan akar permasalahan munculnya fenomena Manusia Silver ini. “Itu dinas sosial yang bisa mengkaji. Kalau kita kan hanya bagian penindakan aja. Kalau akar masalahnya ada di dinas sosial,” katanya lagi. Terkait hasil penindakan, Budhy mengaku belum terima data terkini. Namun, Dia memastikan beberapa Manusia Silver sudah diamankan dan dibawa ke Dinas Sosial untuk dibina.

 

Upaya pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Pemprov DKI Jakarta memang terus dilakukan. Namun, menurut Kepala Satpol PP Jakarta Barat, Tamo Sijabat, kini konsentrasi untuk menertibkan Manusia Silver terpecah karena petugas Satpol PP lebih fokus merazia pelanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. “Karena ini yang paling utama fokus kami, terutama pengguna masker. P3S kan yang tangani, kalau mereka jalan (razia) kami siap bantu, kita dukung,” tuturnya. 


Sementara itu, menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Lidya Triana, Pandemi Covid-19 merupakan salah satu penyebab munculnya banyak Manusia Silver di jalanan. Orang yang terimbas perekonomiannya karena pandemi pun memilih menyambung hidup menjadi Manusia Silver. “Jadi, mengalami eskalasi. Pandemi memberi dampak pada bermunculan banyaknya aksi semacam ini,” kata Lidya lagi. Dia jug amengungkapkan bahwa kemiskinan hanya salah satu penyebab. Banyak faktor yang mendorong seseorang turun ke jalan, seperti kondisi keluarga yang berantakan dan eksploitasi. Lidya lalu mengimbau agar Pemerintah lebih serius menyikapi keberadaan Manusia Silver, terutama mereka yang masih berusia anak-anak dan remaja. Dia menduga, ada pihak yang memanfaatkan mereka untuk mencari keuntungan.

 

Upaya penegakan hukum di jalanan memang jadi bagian tidak terpisahkan dari kerja aparat keamanan. Saat alasan mencari sumbangan atau nafkah demikian mengemuka, simpati pun bermunculan. Di sisi lain, wajah ibukota Jakarta juga harus selalu bersih sebagai cerminan dari bangsa yang besar ini. Membersihkan wajah kota dengan menertibkan warganya tentu butuh upaya penertiban yang baik, lagi persuasif. Semoga upaya penerbitan ini dapat jadi solusi terbaik, Gerakan Indonesia Tertib pun terus berlanjut. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber