Ajaran Hidup dari ‘Hakuna Matata’
  • 76
  • 0
  • 0
  • 0

Leksikon

Foto: (sumber: https://www.pinterest.com/pin/820147782112762533/)


Pernah sangat populer dikenal publik baik lewat lagu maupun film disney berjudul “The Lion King,” frasa ‘Hakuna Matata’ dapat dimaknai mendalam dan jadi penyemangat tersendiri bagi mereka yang tengah berjuang keras atau bahkan yang sedang terpuruk.

 

Frasa ‘Hakuna Matata’ pertama kali diperkenalkan di tahun 1980 melalui sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Grup Band The Mushroom berjudul “Jambo Bwana.” Lagu ini pun sempat menduduki lagu hits dunia di tahun yang sama. ‘Hakuna Matata’ dalam lagu hits ini disebutkan berulang kali di bagian refrain-nya.

 

Sementara dalam film The Lion King (1994), ‘Hakuna Matata’ menjadi salah satu Original Sound Track-nya (OST). Juga dalam salah satu sekuel film ini, The Lion King 1½ memiliki tempat dan lagu dengan nama yang sama. Lagu ini lalu digubah Elton John dan liriknya ditulis Tim Rice. ‘Hakuna Matata’ lalu dinominasikan dalam kategori Lagu Terbaik pada Penghargaan Oscar tahun 1995 dan oleh American Film Institute dinyatakan sebagai lagu terbaik berperingkat ke-99 dalam sejarah perfilman.

 

Menurut alur ceritanya, Film The Lion King bercerita tentang sosok singa bernama Simba yang terpaksa meninggalkan kehiudpannya di Pride Lands sambil membawa serta kesedihan dan rasa bersalahnya. Sedih, karena Ayah Simba yang bernama Musafa yang sangat dicintanya telah mati. Merasa bersalah, karena kematian ayahnya demi menyelamatkan dirinya dari amukan sekawanan banteng yang berlarian dalam panik.

 

Simba kecil pun tidak peduli jika dirinya hampir mati di belantara padang pasir. Jika bukan karena berang-berang Timon dan babi hutan Pumbaa, tubuhnya sudah tercabik dimangsa sekelompok burung Nazar. Timon dan Pumbaa menjadi penyelamatnya dan kemudian mengajaknya pulang bersama mereka di belantara yang indah dengan beragam satwa yang hidup di dalamnya. Sampai di sini, Simba diajarkan tentang filosofi yang mereka genggam erat ‘ Hakuna Matata.’

 

‘Hakuna Matata’ dapat berarti jangan pernah merasa khawatir sepanjang hidup, itulah filosofi Timon, Pumbaa, dan semua penghuni belantara indah yang kini juga menjadi rumah bagi Simba. Di belantara ini, Simba tumbuh dewasa dan melupakan masa lalunya. Dia tumbuh bukan sebagaimana layaknya singa yang menjadikan antelop atau rusa sebagai makanannya tetapi dia tumbuh dengan serangga yang hidup di tanah atau batang kayu sebagai menu hariannya. Itu yang diajarkan semua penghuni belantara, jangan saling memangsa karena kehidupan bukan tentang the circle of life.

 

Hingga tiba waktunya, Nala, singa betina sahabat Simba, datang, Dia meminta Simba, yang kini sudah tumbuh perkasa, untuk pulang. Untuk menyelamatkan Pride Lands tanah kelahirannya yang sekarang kerontang. 

 

Darah singa yang mengalir dalam tubuhnya sudah seharusnya dibiarkan menjelma dalam perilakunya. Dia harus mengambil tempat dalam lingkaran kehidupan (circle of life) yang memang sudah ditetapkan oleh penguasa semesta. Semua sudah ditakdirkan, setiap kita sudah diberikan tempat pada jalur kehidupan yang telah ditetapkan. Tidak perlu berlari atau menghindarinya. Ambil dan tunaikan tanggung jawab yang telah diberikan agar lingkaran kehidupan tetap berjalan. Jika tanggung jawab itu telah dilakukan, sudah ditunaikan, serahkan hasilnya pada Penguasa Semesta. Serahkan semuanya, tanpa rasa khawatir.

 

Dari ‘Hakuna Matata’ ini sesungguhnya tersirat kombinasi ajaran baik kehidupan yang terdiri atas integritas, etos kerja dan gotong royong. Utamanya mengenai etos kerja, yang jika dilaksanakan dan dipahami dengan baik tentu hasilnya akan sesuai dengan nilai ‘Hakuna Matata’ tadi.

 

Etos kerja sendiri dapat dipahami sebagai sebuah semangat kerja yang menjadi ciri khas serta juga keyakinan seseorang atau juga sesuatu kelompok. Etos kerja ini juga merupakan suatu obsesi yang wujudnya adalah kemauan keras untuk mencapai cita-cita yang positif. Etos kerja nyatanya tidak hanya dimiliki oleh individu saja tetapi juga oleh kelompok atau masyarakat dengan semangat dan kesadaran yang serupa.

 

Pada dasarnya, etos kerja dapat berfungsi sebagai pendorong timbulnya perbuatan, pendorong dalam aktivitas dan juga penggerak. Etos kerja dapat bertumbuh baik dalam diri individu atau kelompok jika sudah tiba pada tahapan dan penilaian bahwa suatu pekerjaan itu adalah ibadah, panggilan hati, bentuk aktualisasi diri, seni, kehormatan, bahkan semangat melayani.

 

Simba sang Singa yang semula dianggap tidak berarti telah berhasil tampil sebagai pribadi baru dengan kekuatan yang baru pula. Dengan kekuatan ini pula, Simba, sesuai perannya pula, akhirnya sadar dan mau mengubah diri serta lingkungannya demi kehidupan yang lebih baik. ‘Hakuna Matata!’ (*)

 

Diolah dari berbagai sumber