Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Wujudkan Kemandirian, Pesantren Al-Ittifaq Berdayakan Santri Jalankan Agribisnis

Santri di Pondok Pesantren Al-Ittifaq sedang mengemas komoditas hasil pertanian untuk dijual
  • 22 November 2021
  • 0 Komentar

Wujudkan Kemandirian, Pesantren Al-Ittifaq Berdayakan Santri Jalankan Agribisnis

Tak hanya berkutat dengan Ilmu Agama, Pondok Pesantren Al-Ittifaq menggabungkan pendidikan dengan agribisnis guna mewujudkan kemandirian sekaligus menumbuhkan semangat wirausaha para santri.

 

Jakarta (22/11/2021) Sebagai salah satu institusi pendidikan tertua yang lahir secara swadaya dan berkembang di masyarakat Islam Indonesia, pesantren telah lekat dengan kemandirian. Tak hanya mendalami ilmu agama, para santri yang mondok di pesantren pun dibekali dengan ilmu pengetahuan umum, pendidikan karakter, hingga berbagai keterampilan. Seperti halnya Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang mengembangkan tarekat “sayuriyah”. Di mana para santrinya akan dibekali keterampilan berwirausaha di sektor pertanian atau agribisnis dengan komoditas sayur mayur. Seperti apa? Yuk sobat Revmen, kita cari tahu tentang pesantren inspiratif satu ini lebih jauh!

 

Terletak di dataran tinggi Bandung selatan dengan hawanya yang sejuk dan lahan yang subur, melatarbelakangi Pesantren Al-Ittifaq memasukkan bertani sebagai bagian dari kurikulum pendidikannya. Namun pada mulanya pesantren yang telah berdiri sejak 1934 tersebut hanya mengajarkan pendidikan keagamaan seperti halnya pesantren salafiyah (tradisional) lainnya. Barulah pada 1970-an, ketika pesantren diasuh oleh Kiai Fuad Affandi yang merupakan generasi ketiga pendiri Pesantren Al-Ittifaq membawa pembaharuan dengan mengusung tarekat "sayuriyah", yang melibatkan santri dalam usaha agribisnis. Selain karena potensi alam yang mendukung, inovasinya tersebut berangkat agar para santri bisa lebih mandiri. Sehingga dapat membiayai operasional pesantren sekaligus menampung santri yang tidak mampu.

 



Dengan mengajarkan pertanian, diharapkan pula dapat menumbuhkan jiwa wirausaha para santri yang nantinya dapat diaplikasikan selepas menamatkan pendidikan di pesantren yang terletak di Kampung Ciburial, Alam Endah, Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu. Dengan mengolah lahan seluas 14 hektar, Pesantren Al-Ittifaq mampu memproduksi sebanyak 63 jenis sayur dan buah-buahan, di antaranya tomat, paprika, wortel, kentang, bayam, pakcoy, hingga kale. Adapun per harinya, Pesantren Al-Ittifaq mampu memasok sebanyak 3,2 ton sayuran ke sejumlah pasar tradisional, swalayan, restoran, dan lainnya ___ yang dipasarkan oleh Koperasi Pondok Pesantren (Kapontren) Al-Ittifaq ke wilayah Bandung, Jakarta, hingga Tangerang. Bahkan untuk semakin memperluas jangkauan, kini Kapontren Al-Ittifaq memasarkan pula komoditas hasil taninya secara online di alifmart.id.

 

Tak hanya pertanian, Pesantren Al-Ittifaq pun turut mengembangkan sektor peternakan seperti sapi, ayam, domba, dan ikan. Sehingga memperoleh manfaat yang maksimal sekaligus keseimbangan lingkungan, di mana sayuran sisa panen yang sudah tidak layak konsumsi dijadikan pakan ternak dan kotoran ternak pun diolah menjadi biogas serta pupuk. Untuk menjalankan kegiatan produksi tersebut akan dibagi tugas, ada santri yang bagian menggarap wilayah perkebunan, mengolah pasca-panen yang mencakup pengemasan hingga distribusi, dan ada pula yang mengurus ternak. Hasil agribisnis tersebut nantinya akan digunakan untuk operasional pesantren, biaya kehidupan santri, dan sebagainya ___ yang mana di pesantren yang terletak di daerah Ciwidey itu 30% santrinya berasal dari keluarga tidak mampu sehingga biaya hidup, makan sehari-hari, dan pendidikan ditanggung oleh pondok pesantren.

 

Selain mampu mewujudkan kemandirian bagi lingkup internal, Pesantren Al-Ittifaq juga membina sejumlah kelompok tani di wilayah sekitar Bandung yang memiliki latar belakang sebagai alumni Al-Ittifaq. Mengutip Suara.com, setidaknya ada 9 kelompok tani dengan total berjumlah 270 petani binaan yang rutin mengirim hasil tani dua kali dalam sepekan ke Al-Ittifaq yang bertindak sebagai penjamin pembelian atau penyalur (offtaker) hasil pertanian. Setali tiga uang, Pesantren Al-Ittifaq mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan ikut melibatkan mereka dalam proses produksi suatu komoditi maupun pengembangan kelembagaan koperasi pondok pesantren dan balai mandiri terpadu. Bahkan, Al-Ittifaq menjadi pesantren percontohan bagi pesantren lain dalam mengembangkan pertanian modern dan kerap menjadi tempat magang atau pelatihan agribisnis. 

 

Wah, inspiratif sekali bukan, sobat Revmen? Inovasi menggabungkan pendidikan dengan agribisnis oleh Pesantren Al-Ittifaq di atas kiranya dapat menjadi contoh implementasi best practice Revolusi Mental di lingkup pondok pesantren. Di mana kesuksesan agribisnis Pesantren Al-Ittifaq yang diraih melalui proses tak singkat tersebut menunjukkan bagaimana semangat etos kerja dan gotong royong para santri mampu mewujudkan kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar ___ yang sejalan dengan salah satu gerakan Revolusi Mental yakni Gerakan Indonesia Mandiri. Yuk Sobat Revmen, kita tiru terobosan positif dan semangat para santri Al-Ittifaq dalam mengembangkan potensi lokal yang ada untuk mewujudkan kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat! #AyoBerubah #GerakanIndonesiaMandiri #EtosKerja #GotongRoyong

 

Sumber Foto:

I:https://www.medcom.id/foto/news/MkMGJ4DN-ponpes-al-ittifaq-jadi-percontohan-program-satu-pesantren-satu-produk

II:https://possore.com/2018/08/03/melongok-koperasi-pontren-al-ittifaq-sebagai-pusat-inkubasi-agrobisnis/

 

Referensi:

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.
Suara.com. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Republika.co.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Wartaekonomi.co.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Nu.or.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Bisnis.com. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.  

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: