Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Tradisi Ngejot di Bali, Rawat Toleransi dengan Berbagi Makanan

Tradisi Ngejot, saling mengirimkan makanan antarumat beragama di Bali
  • 08 Desember 2021
  • 0 Komentar

Tradisi Ngejot di Bali, Rawat Toleransi dengan Berbagi Makanan

Tradisi Ngejot menjadi wujud toleransi serta kerukunan antarumat beragama di Pulau Bali, yang menunjukkan bahwa perbedaan bukan halangan untuk bersatu dan hidup berdampingan dengan damai.

 

Jakarta (8/12/2021) Bali dengan kekayaan budayanya yang kental dijuluki sebagai Pulau Seribu Pura karena sebagian besar masyarakatnya merupakan pemeluk agama Hindu. Meski demikian toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata ini juga amat tinggi, salah satunya tergambar dalam tradisi Ngejot yang dilakukan oleh umat Hindu dan Islam. Tradisi saling mengirimkan makanan ketika peringatan Hari Raya besar keagamaan ini menunjukkan kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama sekaligus bukti indahnya keberagaman di Indonesia. Seperti apa? Yuk sobat Revmen kita cari tahu tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun berikut ini!

 

Ngejot merupakan istilah dalam bahasa Bali yang berarti "memberi’. Sesuai artinya tersebut, tradisi ini dilakukan dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Tradisi Ngejot dilakukan umat Hindu ketika Hari Raya Galungan, Nyepi, dan Kuningan, sedangkan umat Islam melakukan tradisi ini menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun makanan yang diberikan kepada tetangga bisa berupa makanan matang siap saji, kue atau jajanan, hingga buah-buahan. Seperti umat Islam misalnya, akan memberikan makanan khas Lebaran seperti opor dan ketupat, sedangkan umat Hindu akan memberikan makanan khusus yang halal apabila ditujukan untuk tetangganya yang muslim. Tradisi Ngejot berlaku pula bagi umat Kristiani di Bali ketika perayaan Hari Raya Natal tiba.

 

Meski bingkisan ejotan (sebutan makanan yang diberikan dalam tradisi Ngejot) secara ekonomi nilainya tak seberapa, namun tradisi ini memiliki makna simbolik yang sangat besar lho, sobat Revmen! Di mana tradisi Ngejot juga menjadi simbol kerukunan, kekeluargaan dan tali persaudaraan antarumat beragama di Bali, yang hidup berdampingan dengan harmonis. Mengutip Okezone.com, selain sebagai bentuk rasa terima kasih, tradisi ini dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan hubungan silaturahmi, mengenal tetangga sekitar, membangun hubungan masyarakat menjadi lebih baik, dan menumbuhkan rasa toleransi serta menciptakan kedamaian antarumat beragama di Bali. Atau dengan kata lain, tradisi ini dapat memupuk kekuatan modal sosial antar tetangga dan kerabat meski berbeda agama.

 

Tradisi Ngejot diwariskan secara turun temurun dari leluhur dan dipercaya sudah hadir sejak ratusan tahun silam. Di mana penyebaran agama Islam di Bali sendiri seperti dilansir Antaranews.com, masuk pada zaman kerajaan abad XIV yang berasal dari sejumlah daerah di Nusantara, antara lain Jawa, Madura, Lombok, dan Bugis. Mengutip Tirto.id, tidak ada raja di Bali kala itu yang menekan umat Islam agar mengganti keyakinannya menjadi penganut Hindu. Hal tersebut membuat eksistensi kehadiran Islam di Bali pun semakin kokoh, sekaligus menjadikan masyarakat Hindu di Bali terbuka serta bersahabat terhadap muslim. Hubungan dekat ini di Bali disebut sebagai nyama selam yang artinya "saudara Islam". Untuk saling menjaga kerukunan antara pengikut kedua agama tersebut, masyarakat pun berusaha membangun toleransi dengan saling membantu dan berbagi makanan ketika Hari Raya keagamaan masing-masing tiba. Tradisi ini lah yang kemudian diistilahkan dengan nama Ngejot  dan masih terus dilestarikan hingga saat ini.

 

Sobat Revmen, tradisi Ngejot menjadi contoh nyata bahwa dengan mengedepankan toleransi, kesetaraan dan kerjasama antarumat beragama dapat diwujudkan tanpa harus saling meniadakan. Setali tiga uang, perbedaan bukan menjadi halangan untuk mampu hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Tradisi Ngejot ini juga menjadi salah satu wujud best practice di tengah masyarakat lokal Indonesia yang sejalan dengan salah satu gerakan Revolusi Mental yakni Gerakan Indonesia Bersatu. Memperingati momentum Hari Toleransi Internasional yang jatuh tanggal 16 November setiap tahunnya, kiranya kita dapat mereplikasi semangat toleransi dan persatuan sebagaimana tradisi Ngejot dalam berbagai wujud mediumnya lainnya yha, sobat Revmen! #AyoBerubah #RevolusiMental #HariToleransiInternasional #GerakanIndonesiaBersatu

 

 

Sumber Foto:

https://www.antaranews.com/foto/2152826/toleransi-beragama-dalam-tradisi-ngejot-di-bali/2

 

Referensi:

Okezone.com. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

Antaranews.com. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

Tirto.id. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

Bisnis.com. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

Goodnewsfromindonesia.id. (2021). Diakses tanggal 16 November 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: