Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Tradisi Ngayah, Menyatukan Krama

ngayah, tradisi, gotong-royong, toleransi, bali
  • 26 Januari 2022
  • 0 Komentar

Tradisi Ngayah, Menyatukan Krama

Umat Muslim dan Hindu di Bali selalu hidup rukun dan harmonis berkat tradisi yang berakar dari kesepakatan bersama. Kerukunan ini membawa kemaslahatan untuk  semua krama atau penduduk.

Jakarta (26/01/2022) Pohon beringin setinggi 25 meter dengan diameter sekitar 1,5 meter tumbang menimpa Pura Melanting di Jaba Pura Bukit kawasan Banjar Bukit Kelod, Desa Bukit, Kecamatan Karangasem,  Februari tahun 2021 lalu. Tidak ada korban dalam bencana ini, karena suasana di Pura Melanting dan sekitarnya sedang sepi. Namun, Pura Melanting mengalami kerusakan akibat tertimpa beringin tumbang. Selain itu, tiga arca (patung) yang ada di Candi Bentar Pura Bukit juga hancur.

Menurut pengurus pura, secara fisik beringin yang roboh ini sebenarnya masih kuat, ditandai daunnya tumbuh subur dan lebat. Namun, ternyata akarnya telah keropos. “Selama ini, masyarakat Hindu di sekitarnya menjadikan pohon beringin yang tumbang tersebut sebagai tempat untuk ritual Ngangget Don Bingin atau Ngalap Don Bingin yakni salah satu bagian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali untuk mensucikan roh-roh orang yang telah meninggal. 

Atas tumbangnya pohon itu, masyarakat sekitar terjun gotong royong untuk membersihkan ranting, dahan, dan batang pohon roboh. Yang menarik, dari gotong royong itu ada 16 krama (penduduk) muslim, laki-perempuan, dari Banjar Kampung Anyar ikut gotong royong membersihkan pura. Mereka antusias menjalani ngayah dengan dikoordinasikan langsung Kelian Banjar. Kelian banjar adalah sebutan untuk ketua adat, Sesepuh adat, atau kepala lingkungan.

“Kami mengajak 16 warga Muslim dari Banjar Kampung Anyar, baik laki maupun perempuan, untuk ngayah bersih-bersih, sebab selama ini ada keterikatan ngayah di Pura Bukit, itu titah Raja Karangasem," papar  Kelian Banjar Kampung Anyar, Burhanudin. Burhanudin menjelaskan bahwa wajib ngayah di Pura Bukit sudah diwarisi warga Muslim Banjar Kampung Anyar secara turun temurun. Ngayah itu untuk semua krama, tidak memandang agamanya.

Hal juga dibenarkan oleh tokoh Puri Karangasem, Anak Agung Kosalia. "Ada keterkaitan antara umat Muslim dengan Pura Bukit. Makanya setiap ada kegiatan di Pura Bukit, entah itu piodalan (hari jadi tempat suci) atau acara bersih-bersih, krama Muslim dari Banjar Kampung Anyar selalu ikut terlibat," terang Gung Kosalia. Paparan senada juga disampaikan Perbekel Bukit, I Wayan Sudana. "Setiap piodalan di Pura Bukit, krama Muslim asal Banjar Kampung Anyar dari awal ikut ngayah. Bahkan, khusus untuk pemukul bende saat upacara melasti, selalu dari krama Muslim," papar Wayan Sudana. 

Dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa ngayah itu bisa disebut saling membantu atau gotong royong. Dikutip dari jurnal Sena, G. M. W. (2017)  berdasarkan Kamus Bali Indonesia, ngayah berarti melakukan pekerjaan tanpa mendapat upah. Hal ini selaras dengan pernyataan I Gusti Made Widya Sena, Dosen Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar, bahwa dalam penerapan ajaran karma marga yang dilakukan dengan gotong royong dilaksanakan dengan hati tulus dan ikhlas tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.   

Ngayah berasal dari kata “ayah, ayahan, pengayah, ngayahang” yang memiliki arti saling berkaitan dalam sebuah satu kesatuan. Ngayah memiliki skala yang lebih besar dari nguopin (hubungan antar sesama manusia), namun ngayah merupakan hubungan vertikal dengan Tuhan. Sejatinya, ngayah merupakan bentuk gotong royong agar dapat mempersatukan umat dengan latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang berbeda.

Dalam kegiatan sehari-hari, ngayah dapat dibagi menjadi tiga jenis ngayah, yaitu ngayah yang berkaitan dengan loyalitas dan dedikasi, kegiatan sosiokultural, dan religius teritorial. Salah satu bentuk implementasi ngayah adalah mengajak umat beragama di Bali yang berlatar belakang berbeda untuk bahu membahu menjadi sebuah kesatuan dengan penuh rasa persaudaraan, keikhlasan, dan membangun kebersamaan.

Dalam penelitian Yantos dan Putriana dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, disebutkan bahwa kearifan lokal masyarakat Bali yakni ngayah, membentuk kerukunan masyarakat Hindu dan Islam. Keduanya melakukan penelitian di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Disebutkan, dalam tradisi ngayah, umat Islam dan Hindu tidak hanya menganggap sekadar kegiatan tolong- menolong untuk kegiatan sosial saja, namun menyakini bahwa ini adalah bagian dari perintah agama masing-masing. Para tokoh agama Islam dan Hindu selalu mengajak umatnya untuk menjalankan prinsip agamanya, baik prinsip Tri Hita Karana (Hindu) maupun prinsip ukhuwah insaniyah (Islam). Kedua prinsip itu dalam penelitian sama-sama mengajak untuk selalu bertoleransi dalam hubungan antar umat beragama.

Selain itu ngayah juga dilakukan untuk saling tolong- menolong serta berbagi dan bersosialisasi di antara umat Islam dan Hindu. Ngayah bisa dilakukan setiap hari dalam menjalin keakraban sosial seperti kebiasaan menyapa, mengobrol dengan tetangga, serta saling membantu pada saat ada hajatan atau acara tertentu. Jika masyarakat memiliki kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan, maka mereka tidak perlu melakukan ngayah namun bisa menggantinya dengan uang atau dikenal dengan istilah dana punia (ngayah dana

Bagaimana sobat Revmen, menarik bukan? Bahwa dalam kesederhaan kita bisa merawat kearifan lokal ini menjadi senjata tangguh untuk menyatukan kita. Semoga sahabat semua ikut serta andil dalam upaya Gerakan Indonesia Bersatu.  #Ayoberubah #GerakanIndonesiaBersatu #RevolusiMental #Gotongroyong #Toleransi

 

Reporter ; PS

Sumber :

1.Bali.Tribunnews.com diakses 25 Januari 2022

2. Travel.tempo.co diakses 25 Januari 2022

3.Researchgate.net dalam jurnal dakwah diakses 26 Januari 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: