Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Tanggalkan Gawai Saat Kembali ke Meja Makan Demi Tingkatkan Kualitas Relasi Keluarga

Meningkatkan kualitas hubungan keluarga dengan menetapkan kesepakatan menanggalkan gawai saat makan bersama di  meja makan
  • 19 Agustus 2021
  • 0 Komentar

Tanggalkan Gawai Saat Kembali ke Meja Makan Demi Tingkatkan Kualitas Relasi Keluarga

Sebagai unit sosial terkecil, penting kiranya untuk merawat kualitas hubungan keluarga yang dapat berimplikasi pada lingkup lebih luas di masyarakat. Salah satunya dengan menetapkan kesepakatan bersama terkait penggunaan gawai di rumah, seperti menanggalkan gawai ketika makan bersama keluarga di meja makan.

 

Jakarta (18/08/2021) Sobat Revmen, dalam sehari berapa lama waktu yang kalian habiskan untuk membuka gawai? Ya, gawai saat ini seolah telah menjadi kebutuhan yang sudah melekat dalam keseharian dan sulit untuk dilepaskan. Namun tanpa disadari saking asyiknya dengan gawai kerap kali berpengaruh pula pada kehidupan sosial. Mabuk gawai bahkan dapat berdampak pada menurunnya kualitas hubungan dalam keluarga karena dapat merampas waktu kebersamaan. Menanggalkan gawai ketika makan bersama keluarga atau Gerakan Kembali ke Meja Makan, dapat menjadi menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas hubungan keluarga lagi, lho! Yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

 

Di era yang serba cepat saat ini, kesibukan seolah menyita waktu. Sayangnya, ketika waktu berkumpul bersama keluarga tiba, kerap kali anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing ___  sehingga seperti ‘menjauhkan’ yang dekat. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah phubbing atau mabuk gawai, yakni sikap mengabaikan seseorang yang berinteraksi dengan kita karena perhatian tertuju pada gawai. Akibatnya komunikasi pun menjadi tak maksimal atau mungkin waktu yang dihabiskan bersama keluarga menjadi kurang berkualitas, merasa asing di rumah sendiri, hingga dapat memicu pertikaian. Mengutip Kompas.com,  anak di bawah udia 14 tahun sebaiknya tidak menggunakan ponsel lebih dari dua jam, karena berpengaruh dengan kemampuan interaksi dan motoriknya. Sedangkan, bagi usia dewasa cenderung lebih fleksibel namun diharapkan mampu mengontrol pemakaian ponselnya sendiri secara wajar.

 

Sebagaimana dilansir Klasika Kompas, phubbing dapat menurunkan kualitas relasi sekaligus kesehatan mental lho, sobat Revmen! Selain dapat membuat keterampilan berinteraksi dengan orang lain menjadi berkurang, orang yang berinteraksi dengan kita pun dapat merasa seperti ditolak, tidak dilibatkan, atau tidak penting. Sementara mengutip Theconversation.com, phubbing terhadap pasangan dapat membuat mereka merasa tidak penting dan bisa menurunkan kepuasaan dalam hubungan. Adapun untuk anak-anak yang berada pada umur rentan, phubbing dapat membuat mereka merasa tidak disayangi sehingga berdampak buruk pada kesejahteraan mereka.

 

Agar hal tersebut tidak terjadi, keluarga bisa membuat kesepakatan dan komitmen bersama. Misalnya, menerapkan aturan pembatasan penggunaan gawai seperti tidak lagi menggunakannya pada jam tertentu setelah malam tiba. Atau, menanggalkan gawai ketika makan malam bersama maupun ketika berkumpul di ruang keluarga, di mana dapat menjadi kesempatan untuk saling bertukar cerita dan kembali terhubung satu sama lain sebagai keluarga. Hal tersebut seperti Gerakan Kembali ke Meja Makan yang dicanangkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Yogyakarta. Gerakan yang bersifat persuasif itu mengajak agar semua anggota keluarga berkumpul untuk melepaskan gawai masing-masing dan saling berkomunikasi di meja makan selama pukul 18.00 hingga 21.00 WIB ___ waktu tiga jam tersebut dimaksudkan untuk kebersamaan keluarga dan membangun interaksi yang berkualitas.

 

Di samping itu, sobat Revmen juga bisa memperbanyak kegiatan bersama keluarga yang kiranya dapat melepaskan sejenak dari penggunaan gawai. Misalnya, memasak atau menyiapkan makan bersama, membersihkan rumah bersama, berolahraga dan berkebun bersama, hingga menghabiskan waktu dengan pergi berlibur bersama. Frekuensi penggunaan gawai yang lebih sedikit tersebut dapat mendorong lebih banyak pelibatan aktivitas fisik dan sosial di dunia nyata, yang baik bagi pengembangan kemampuan interpersonal. Bagi remaja sendiri, menghabiskan lebih banyak waktu terlibat secara aktif dengan orangtua mereka disebut-sebut dapat membuatnya cenderung mampu menetapkan tujuan pendidikan yang lebih tinggi, lho!

 

Keluarga merupakan unit sosial terkecil, sehingga kualitas hubungan dalam keluarga dapat berimplikasi pada lingkup sosial yang lebih besar di masyarakat ___ di mana banyak masalah sosial pada mulanya berakar dari relasi dalam keluarga. Oleh karenanya keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak, mari sama-sama kita rawat ikatan keluarga demi mewujudkan ketahanan keluarga Indonesia yang tangguh, harmonis, dan berkualitas. #AyoBerubah

 

 

Sumber Foto:

https://www.freepik.com/premium-vector/big-happy-family-eating-lunch-together-living-room-cartoon-illustration_5250240.htm

 

Referensi:

Klasika.kompas.id

Verywellfamily.com, 26/02/21

Theconversation.com, 07/01/19

Harianmerapi.com, 24/08/19

Summareconserpong.com, 19/09/17

Hprc-online.org, 19/06/17

Lifestyle.kompas.com, 28/03/19

 

Reporter: Melalusa Susthira K. 

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: