Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

TAMAN INGAS: TEMPAT SAMPAH YANG DISULAP MENJADI DESTINASI WISATA

Salah satu angle Taman Ingas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta
  • 28 September 2021
  • 0 Komentar

TAMAN INGAS: TEMPAT SAMPAH YANG DISULAP MENJADI DESTINASI WISATA

Berbekal ide untuk menghentikan orang membuang sampah sembarangan di desa Kwasen, Kecamatan Piyungan, warga kemudian mendirikan Taman Ingas, sebuah taman edukatif dan tempat wisata kuliner di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

 

Jakarta (20/09/2021) Berjalan-jalan sore hari di lingkungan sendiri pun seru. Syaratnya, lingkungan itu harus bersih dan asri. Namun seringkali suasana hati kita menjadi terganggu ketika sedang berjalan menyusuri lingkungan, di beberapa pojok tempat terdapat sampah-sampah liar yang berserakan dan menimbulkan aroma tidak sedap. Padahal, di lokasi tersebut sudah terdapat papan peringatan besar bertuliskan, “Dilarang membuang sampah di sini.” Kita dan sebagian warga di lingkungan kita sudah geram kepada para pembuang sampah sembarangan itu. Terkadang kita bertanya-tanya, kapan mereka membuang sampah-sampah itu. Kok bisa-bisanya sampah sebanyak itu tiba-tiba menggunung tanpa ada seorang warga pun yang melihat pelakunya.

 

Jika kita ingin analisis persoalan ini dengan serius, maka pemaparannya akan sangat panjang. Kita akan memulainya dengan melakukan analisis penyebab, pencegahan, kemudian regulasi, dilanjutkan dengan solusi dan diakhiri dengan rehabilitasi. Terlalu panjang jika dijabarkan di dalam artikel yang singkat ini. Oleh karena itu, kita akan memaparkannya melalui cara “jalan pintas.” Kita bikin semacam “shortcut” untuk melihat bagaimana caranya agar lokasi yang biasa dijadikan tempat pembuangan sampah liar di lingkungan kita, bisa kembali berubah bersih dan asri. Shortcut itu berupa sebuah contoh konkret bernama Taman Ingas.

 

Taman Ingas berlokasi di Kwasen, Bantul, Yogyakarta. Kwasen merupakan nama sebuah dusun di kelurahan Srimartani. Jadi lingkupnya kecil, setingkat kampung atau desa. Pada awalnya lokasi Kwasen sering dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah liar oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Warga, yang dimotori oleh Mudhofar, kemudian berinisiatif untuk mengubah lokasi pembuangan sampah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat RT 05. Bersama para pemuda Karang Taruna RT 05, Mudhofar dan beberapa warga kemudian membersihkan tempat itu, termasuk membersihkan sungai yang ada di tengahnya. Ketika sudah bersih, Mudhofar kemudian mengubah sungai menjadi area pemancingan. Nah, dari tempat pemancingan itulah kemudian muncul sebuah ide brilian untuk mengubah Kwasen menjadi destinasi wisata lokal dan taman edukatif yang indah.

 

Dasar pemikirannya ada tiga. Pertama, warga tidak ingin lokasi Kwasen kembali kumuh dengan banyaknya sampah setelah dibersihkan. Cara untuk mempertahankannya adalah dengan mengubah fungsi lahan. Kedua, dikarenakan pandemi Covid-19, banyak anak-anak yang sulit terkontrol dalam melakukan pembelajaran jarak jauh di rumah. Jika disediakan sebuah lokasi yang bersih dan asri, maka mereka bisa belajar dengan lebih bersemangat di sana. Bahkan warga menyediakan wifi gratis untuk anak-anak belajar. Ketiga, karena pandemi Covid-19 pula beberapa warga terdampak secara ekonomi. Maka dengan “menyulap” Kwasen menjadi destinasi wisata kuliner, warga bisa ambil bagian untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

 

Setelah mendapat lampu hijau dari Kelurahan Srimartani, Mudhofar dan pemuda karang taruna mulai mendirikan saung-saung atau pendopo-pendopo yang berfungsi sebagai lapak tempat berjualan. Awalnya warga tidak ada yang bersedia menempati lapak-lapak tersebut, meski semua lapak disediakan secara gratis. Akhirnya Mudhofar, bersama isteri dan seorang rekannya, yang memulai. Berdirilah warung nasi, warung bakso dan warung soto. Para pesepeda yang melalui Kwasen mulai berdatangan untuk jajan. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu yang berkunjung bisa mencapai 400 orang. Ditambah dengan musik karaoke, Taman Ingas kemudian semakin dikenal. Lokasi itu bukan hanya dijadikan sebagai tempat wisata kuliner, melainkan juga untuk pelatihan dan resepsi perkawinan. Harga sewa tempat untuk pelatihan dan resepsi tidak dipatok dan semua profit yang masuk ke Taman Ingas akan diperuntukan bagi warga setempat. 

 

Berbekal dana patungan dari kantong pribadi Mudhofar dan uang kas karang taruna sebagai modal awal, Taman Ingas didirikan. Kemudian pada perkembangannya mulai banyak sumbangan datang, seperti dari Lurah, Bupati dan individu dinas yang lain. Donasi juga datang dari pengunjung yang ingin memberikan dukungan kepada niat baik warga Kwasen. Saat ini, jika Sobat Revmen Googling dengan keyword “Taman Ingas,” maka akan muncul sekitar 65.700 berita terkait. Itu artinya, popularitas Taman Ingas tidak hanya di Bantul, melainkan sudah merambah secara nasional.

 

Rencana ke depan, Taman Ingas akan mengembangkan homestay, kolam renang dan menyediakan aneka souvenir. Namun konsepnya akan tetap dipertahankan untuk kemasyarakatan. Mudhofar berharap Taman Ingas dapat membuka lapangan kerja bagi warga setempat serta memberdayakan UMKM.

 

Sobat Revmen, sebagai sebuah contoh, apa yang dilakukan warga Kwasen dalam mendirikan Taman Ingas patut diacungi jempol. Mereka berhasil mengubah lahan yang sebelumnya dijadikan tempat pembuangan sampah, menjadi lahan produktif dan menghasilkan. Mungkin ini sebuah bentuk nyata dari cara berpikir “out of the box.” Dibanding hanya menuliskan papan peringatan untuk tidak membuah sampah sembarangan, warga Kwasen sekalian mengubahnya menjadi lokasi yang bermanfaat bagi lingkungan, sekaligus mewujudkan revolusi mental dalam menjalankan Kegiatan Prioritas 5, yakni pembangunan dan pembudayaan sistem ekonomi kerakyatan, utamanya pada Program Prioritas 2 berupa peningkatan etos kerja dan kewirausahaan berlandaskan semangat gotong royong. #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaMandiri #GotongRoyong #SelamatkanLingkungan

 

Referensi:

Agroindonesia.co.id. (2021). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Gatra.com. (2021). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Harianjogja.com. (2021). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: