Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Tak Tertib, Ini Dia Beberapa Sanksi Unik Bagi Para Pelanggar Prokes!

Sanksi unik agar masyarakat mentaati protokol kesehatan demi hentikan penyebaran Covid-19
  • 27 April 2021
  • 0 Komentar

Tak Tertib, Ini Dia Beberapa Sanksi Unik Bagi Para Pelanggar Prokes!

Tertib di ruang publik adalah kewajiban setiap warga negara. Beberapa sanksi unik ini kiranya dapat mengedukasi masyarakat agar lebih tertib menaati protokol kesehatan demi menghentikan penyebaran Covid-19.

Jakarta (18/04/2021) Sobat Revmen, pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal 2020 membawa perubahan terhadap bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Pemberlakuan sosial berskala besar pun diterapkan demi menekan angka penyebaran virus. Bagi masyarakat yang terpaksa keluar rumah pun harus benar-benar menaati protokol kesehatan (prokes), salah satunya ialah wajib mengenakan masker. Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat kita yang tidak tertib dan disiplin mengenakan masker saat keluar rumah. Berbagai sanksi pun lantas diterapkan demi menimbulkan efek jera dan membangun kesadaran masyarakat agar lebih taat prokes. Berikut beberapa sanksi unik namun tetap edukatif yang diterapkan di beberapa daerah!

Pada September 2020 lalu, lebih dari tujuh puluh warga yang terjaring operasi tertib masker (Tibmask) di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dijatuhi sanksi untuk mengecat pembatas trotoar atau kantin yang ada di sepanjang Jalan KS Tubun, Petamburan. Sebelumnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tanah Abang hanya menerapkan sanksi berupa menyapu jalan, namun agar lebih memberikan efek jera ditambahkan mengecat kantin atau pembatas antara badan jalan dengan trotoar yang mana cat dan kuasnya telah disediakan. Selain sanksi sosial berupa menyapu jalan dan mengecat pembatas trotoar, Satpol PP juga memberikan sanksi berupa denda yang nominalnya Rp 250 ribu setiap terjadi pelanggaran. Wah, kalau kayak gini enggak lagi-lagi deh lalai prokes!

 

Sementara itu, di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur, lebih dari 100 orang terjaring razia karena melanggar pemberlakuan jam malam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Mei 2020 lalu. Mereka diberi sanksi untuk menyanyikan lagu ‘Bagimu Negeri’ dan bersih-bersih atau menyapu di halaman Mapolresta Sidoarjo dengan mengenakan rompi oranye bertuliskan ‘pelanggar PSBB’. Nah, hukuman tersebut diberikan bagi warga yang baru sekali melanggar aturan PSBB. Bila kembali melanggar aturan PSBB dan tertangkap petugas, maka sanksi yang diberikan akan lebih berat lagi lho, sobat Revmen! Mereka akan dijatuhi hukuman untuk membantu di dapur umum hingga ikut memakamkan korban Covid-19.

Selain itu ada pula sanksi edukatif lainnya yakni melafalkan Pancasila. Sanksi sosial tersebut diberlakukan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bekasi, Gorontalo, Demak, hingga Aceh. Seperti di bilangan Palmerah, Jakarta Barat, seorang pelajar SMK yang terjaring razia karena tidak mengenakan masker pada Oktober 2020 lalu kedapatan tidak hafal Pancasila saat diminta menyebutkannya di hadapan petugas aparat gabungan TNI-Polri dan Satpol PP. Oleh karenanya, selain memberikan efek jera agar tertib mematuhi protokol kesehatan, dengan memberikan sanksi melafalkan Pancasila diharapkan para warga pun tak melupakan falsafah negara sendiri ya, sobat Revmen!

Mengutip Merdeka.com, Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Riant Nugroho menyebut sanksi yang dipandang unik atau nyeleneh terhadap para pelanggar prokes selama pandemi merupakan bentuk kreativitas pejabat lapangan dalam upaya memberi peringatan. Sanksi tersebut diberikan terhadap mereka yang tak tertib prokes guna mengingatkan warga masyarakat dengan cara sedemikian rupa yang cukup menghukum namun tanpa menyakiti masyarakat. Atau dengan kata lain sejenis small treatment agar mereka lebih sadar terhadap prokes serta dampak Covid-19.

Oleh karenanya, yuk sobat Revmen kita tertib patuhi prokes demi menghentikan rantai penyebaran virus Covid-19. Dengan tertib menerapkan 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta membatasi mobilitas dan interaksi, kita sekaligus mewujudkan aksi nyata revolusi mental yakni Indonesia Tertib! Karena dengan tertib prokes kita telah menyelamatkan diri sendiri dan juga orang lain. #AyoBerubah #IndonesiaTertib

 

Sumber Foto:

I: https://www.validnews.id/Tak-Gunakan-Makser--Warga-Diberi-Sanksi-Cat-Trotoar-qTk

II: https://regional.kompas.com

 

Referensi:

Merdeka.com, 09/09/20

Suara.com, 21/10/20

Lliputan6.com, 18/05/20

Republika.co.id, 09/09/20

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: