Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Tak Kasat, Apa Itu Disabilitas Mental?

penyandang disabilitas mental
  • 08 Januari 2022
  • 0 Komentar

Tak Kasat, Apa Itu Disabilitas Mental?

Penyandang disabilitas mental mengalami gangguan fungsi pikir, emosi, dan perilaku akibat bawaan atau penyakit sehingga menyebabkan keterbatasan dalam melaksanakan fungsi sosial dan kegiatan sehari-hari.


Jakarta (8/1/2021) Hari Disabilitas Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember tiap tahunnya, dan pada 2021 ini memasuki tahun ke-29. Disabilitas sendiri merupakan istilah umum yang menggambarkan pada keterbatasan individu dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan tertentu. Namun sebagian orang kerap kali memaknai disabilitas hanya menyangkut seputar hal fisik, padahal disabilitas pun dapat pula mencakup perihal yang tak kasat mata yakni kondisi mental. Sehingga keduanya pun patut dipandang dan dipahami sebagai hal yang sejajar. Nah, apa itu disabilitas mental? Yuk sobat Revmen, kita cari tahu lebih lanjut penjelasannya berikut ini!


Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Ragam disabilitas lebih lanjut dijelaskan dalam Pasal 4 UU yang membaginya berdasarkan penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental, dan/atau penyandang disabilitas sensorik. Di mana ragam penyandang disabilitas sebagaimana dimaksud dapat dialami secara tunggal, ganda, atau multi dalam jangka waktu lama yang ditetapkan oleh tenaga medis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Istilah disabilitas mental sendiri kerap kali mendapat salah tafsir dari masyarakat awam yang menyebutnya sebagai orang gila. Padahal disabilitas mental merupakan individu yang mengalami gangguan fungsi pikir, emosi, dan perilaku akibat bawaan atau penyakit sehingga menyebabkan keterbatasan dalam melaksanakan kegiatan. Mengutip Liputan6.com, Peneliti dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Jawa Tengah, Dewantara Damai Nazar, menjelaskan bahwa seseorang disebut memiliki disabilitas mental jika masalah tersebut telah menjadi rintangan atau hambatan untuk melakukan fungsi sosial dalam pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah, dan kegiatan sehari-hari. Berbeda dengan masalah kejiwaan atau psikologis seperti stres, depresi, atau trauma, disabilitas mental dapat diidentifikasi pada intensitas kekambuhannya yang menetap dan gangguan yang terus terjadi dalam jangka waktu yang lama.


Dalam UU No. 8 Tahun 2016, disabilitas mental dibagi dalam dua kelompok yakni disabilitas psikososial dan disabilitas perkembangan yang di dalamnya memiliki beberapa ragam. Dilansir Klobility.id, disabilitas psikososial merupakan individu yang mengalami gangguan pada pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku. Beberapa ragam disabilitas psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian. Sementara disabilitas perkembangan adalah individu yang mengalami gangguan pada perkembangan dan berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial, misalnya autisme atau gangguan autism spectrum disorder (ASD) dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). 


Disabilitas mental biasanya disertai dengan gangguan pada sistem syaraf, sehingga membutuhkan terapi psikofarmakologi, yaitu terapi obat khusus untuk penderita gangguan jiwa dan mental. Disabilitas mental juga terlindung dalam beberapa pasal di Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 di antaranya, Pasal 37 dan 38 tentang layanan disabilitas mental dalam konteks keadilan dan perlindungan hukum, Pasal 71 tentang fasilitas perawatan untuk pasien penyandang disabilitas mental, hingga Pasal 72 tentang tindakan medik bagi penyandang disabilitas yang sesuai dengan standar. Oleh karenanya setelah memahami lebih jauh tentang disabilitas mental, sudah sepatutnya kita hilangkan stigma keliru terhadap disabilitas mental. Mulai dari anggapan bahwa mereka kesurupan roh halus atau jin, mendapat kutukan atau sihir, dianggap berbahaya hingga patut dijauhi bahkan dipasung. 


Dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh tanggal 3 Desember setiap tahunnya, mari sama-sama kita rangkul dan beri dukungan bagi penyandang disabilitas ___  termasuk penyandang disabilitas mental ___ sehingga mereka mampu menjalankan kegiatan harian, memaksimalkan potensi diri, serta turut berkontribusi di dalam masyarakat. Di mana di samping rehabilitasi medik, keluarga dan lingkungan sejatinya memiliki peran penting sebagai rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas mental. Hal tersebut menjadi perwujudan Revolusi Mental dalam sistem sosial untuk memperkuat ketahanan, kualitas, serta peran keluarga dan masyarakat. Bersama-sama wujudkan Indonesia Maju yang inklusif ___ yang ramah dan tak diskriminatif bagi penyandang disabilitas! #AyoBerubah #HariDisabilitasInternasional #IndonesiaInklusif #GerakanIndonesiaBersatu


Sumber Foto:

https://news.uga.edu/mental-health-language-research/


Referensi

Klobility.id. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 

Liputan6.com. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 

Emc.id. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 

Tempo.co. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 

Republika.co.id. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 

Rsud.bontangkota.go.id. (2021). Diakses tanggal 3 Desember 2021. 


Reporter: Melalusa Susthira K.


Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: