Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

SUMPAH PEMUDA DAN PARA PEMUDA YANG GELISAH

Seorang pemuda sedang memperhatikan pameran foto pada acara Sumpah Pemuda
  • 14 November 2021
  • 0 Komentar

SUMPAH PEMUDA DAN PARA PEMUDA YANG GELISAH

Para pemuda gelisah terhadap perubahan iklim, sebab di saat kelompok masyarakat lain tidak aware, pemuda meyakini bahwa perubahan iklim adalah nyata dan telah menjadi ancaman global yang dampaknya akan dirasakan seluruh dunia tanpa terkecuali, seperti pandemi Covid-19.

 

Jakarta (14/11/2021) Kaum muda identik sebagai orang-orang yang gampang gelisah. Dari sudut pandang negatif, para pemuda gelisah disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti karena tidak mampu membeli gawai keluaran terbaru, obesitas namun takut diet, atau takut ketinggalan update dari idolanya. Namun dari sudut pandang yang positif, kegelisahan pemuda menunjukan bahwa mereka adalah kaum yang sadar akan perubahan yang terjadi pada lingkungannya, pada negaranya atau pada dunia secara global.

 

Sumpah Pemuda yang tercetus pada 28 Oktober 1928 berawal dari kegelisahan para pemuda tanah air. Sejak rapat pemuda yang pertama, para pemuda yang digerakan oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menunjukan kegelisahannya yang sudah mereka pendam sejak lama. Mereka gelisah akan persatuan, pendidikan, nasionalisme dan demokrasi. Maka lahirlah momen yang sangat bersejarah bernama Sumpah Pemuda.

 

Pada era sekarang, para pemuda juga gelisah. Namun kegelisahan mereka bukan pada penjajajahan bersenjata, bukan pada krisis ekonomi, dan bukan pula pada terorisme. Kegelisahan para pemuda saat ini justru pada masalah perubahan iklim. Survei terbaru yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Cerah menunjukan bahwa kaum muda sangat khawatir dengan fenomena perubahan iklim.

 

Survei tersebut dilakukan secara nasional pada 9-16 September 2021. Jumlah sampel sebanyak 4.020 responden yang terdiri atas 3.216 responden usia 17-26 tahun dan 804 responden usia 27-35 tahun. Dalam survei tersebut ditemukan kecenderungan tingkat kesadaran atau awareness serta kekhawatiran atas berbagai isu krisis iklim yang didominasi oleh responden pemilih Gen-Z dan Milenial dengan latar belakang gender perempuan, pendidikan SLTA dan Kuliah, kalangan profesional, serta tinggal di perkotaan dan mendominasi semua pemilih muda lintas partai pada tahun 2019.

Berikut beberapa fakta yang didapatkan dari survei persepsi anak muda tentang permasalah krisis iklim di Indonesia. Pertama, Kecenderungan masalah serius Indonesia. Berdasarkan survei ini, terungkap bahwa mayoritas (82 persen) responden anak muda di Indonesia mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85 persen responden menyebutkan, korupsi merupakan isu pertama yang paling mereka khawatirkan. Selanjutnya, diikuti dengan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan sebanyak 82 persen responden.  Isu polusi udara dan perubahan iklim tercakup dalam delapan besar isu yang paling dikhawatirkan anak muda.

 

Kedua, Pengetahuan dampak perubahan iklim. Menurut mayoritas responden anak-anak muda ini, perubahan iklim merupakan masalah serius yang dampaknya terhadap Indonesia hingga komunitas dan individu telah mereka rasakan saat ini.  Responden meyakini, masalah serius dampak perubahan iklim ini sudah tergambar jelas dalam sejumlah peristiwa yang terjadi sekarang dibanding lima tahun lalu.  Kemudian, sebanyak 63 persen responden setuju bahwa cuaca yang lebih panas pada musim kemarau adalah dampak yang paling dirasakan.

 

Ketiga, Faktor penyebab perubahan iklim. Hasil survei juga mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi penyebab perubahan iklim di Indonesia, yaitu penggundulan hutan (deforestasi) sebagai faktor terbesar. Tidak hanya itu, sumber emisi gas rumah kaca seperti gas buang sektor transportasi dan PLTU batu bara serta pertambangan termasuk dalam 10 besar penyebab perubahan iklim.  Dampak dari perubahan iklim yang telah dirasakan tersebut, menurut 53 persen responden, telah mendatangkan kerugian bagi warga Indonesia.

 

Keempat, Saran anak muda tentang krisis iklim di Indonesia. Mayoritas responden menyatakan, semua pihak harus ambil bagian dalam mengurangi dampak perubahan iklim, dan menitikberatkan peran pemerintah untuk mendorong upaya mengatasi persoalan ini.  Pemerintah disebut harus berinvestasi mengembangkan sumber energi terbarukan seperti angin dan surya, karena lebih bersih ketimbang batu bara.  Mayoritas responden juga setuju bahwa untuk mengatasi perubahan iklim, emisi dari industri dan perusahaan yang memproduksi bahan bakar fosil harus dikurangi.

 

Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah, Adhityani Putri mengatakan, hasil survei ini diharapkan tidak hanya berhenti sampai pada data persepsi anak muda yang telah berhasil dihimpun, melainkan, seharusnya dijadikan bahan agar para politisi di tanah air bergerak dan benar-benar konsen terhadap isu terkait krisis iklim, terutama bagaimana strategi agar kita bisa menekan risiko dampak serius krisis iklim yang sudah mulai terjadi.

 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman global yang dampaknya akan dirasakan seluruh dunia tanpa terkecuali, seperti pandemi Covid-19.

 

“Climate change adalah global disaster yang magnitudenya diperkirakan akan sama seperti pandemi Covid-19, nanti tidak ada satu negara yang bisa escape atau terbebas dari ancaman climate change. Perubahan iklim adalah ancaman global yang nyata dan sudah dipelajari oleh berbagai ilmuwan yang menggambarkan bahwa dunia ini mengalami pemanasan global,” kata Menkeu Sri Mulyani.

 

Pembangunan yang terjadi di semua negara akan membuat semakin sejahtera, mobilitas semakin tinggi, penggunaan energi semakin besar, dan tekanan terhadap sumber daya alam menjadi sangat sangat nyata. Saat ini, dunia sedang berlomba-lomba untuk menghindarkan kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat sehingga implikasi katastropik tidak terjadi.

 

“Seluruh dunia sekarang berikhtiar untuk menghindarkan dampak katastropik dari climate change ini dan momentum ini sekarang meningkat di dalam beberapa pertemuan para pemimpin-pemimpin dunia,” kata Menkeu.

 

Apa yang terjadi jika suhu mencapai 1,5 derajat celcius? Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA), ika suhu mencapai 1,5 derajat atau bahkan 2 derajat, maka dampaknya akan sangat berbahaya. Menurut NASA setidaknya terdapat 5 dampak jika suhu mencapai angka 1,5 derajat celcius, yaitu terjadinya suhu panas ekstrim, suhu dingin ekstrim, kekeringan, kelangkaan air, dan curah hujan yang tinggi.

 

Maka kegelisahan para pemuda di Indonesia mengenai perubahan iklim bukan sebuah kegelisahan yang tidak beralasan. Oleh karena itu tidak sedikit komunitas pemuda yang mulai melakukan langkah nyata dalam mengurangi efek gas rumah kaca, menjaga kelestarian hutan, diet sampah, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, dan mengurangi penggunaan pupuk penyubur nitrogen ke dalam tanah.

 

Sobat Revmen, kaum muda tempo dulu dengan kaum muda zaman now tentu berbeda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan era dan tantangan. Namun mereka tetap memiliki kesamaan, yakni sama-sama selalu gelisah ketika melihat ketidakadilan, kerusakan dan penindasan. Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun ini, mari bergotong royong menjaga bumi kita. Kita dapat memberikan kontribusi nyata untuk mencegah perubahan iklim dengan cara mengurangi penggunaan barang sekali pakai, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. #AyoBerubah #HariSumpahPemuda #GotongRoyong #Integritas #EtosKerja #PerubahanIklim

 

 

Referensi:

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

Kemenkeu.go.id. (2021). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

Menlhk.go.id. (2021). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: