Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

SOFYAN ADI CAHYONO: YANG MUDA YANG BERTANI

Sofyan Adi Cahyono di kebun pertanian
  • 13 September 2021
  • 0 Komentar

SOFYAN ADI CAHYONO: YANG MUDA YANG BERTANI

Sofyan telah mendirikan SOM sejak tahun 2014 dan kini telah berstandar SNI serta mendapat sertifikasi dari Indonesian Organic Farming Certification (INOFICE). Bukan hanya itu, Sofyan pun didapuk sebagai Duta Petani Milenial pada tahun 2020 oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

 

Jakarta (02/09/2021) Ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas dalam mendukung kesejahteraan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terlihat dapat meningkatkan ketahanan pangan dan produksi pertanian secara masif. Hal ini diambil dari laporan dari The Economist Intelligence Unit, Indeks Ketahanan Pangan Global di Indonesia meningkat dari 50,7 pada tahun 2015 menjadi 62,6 pada tahun 2019. Selain itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukan bahwa pertanian menjadi satu-satunya yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,19 persen pada Agustus 2020. Pertanian bahkan mampu tumbuh dari 5 sektor penyumbang ekonomi nasional yang sedang mengalami kontraksi 5,3 persen.

 

Beberapa anak muda memang muncul pada era ini dan dengan bangga menyatakan diri bahwa mereka adalah petani. Sebut saja salah satunya Sofyan Adi Cahyono, seorang petani milenial asal Semarang yang kini sukses menggerakan pertanian organik dan kemudian menjadi CEO Sayur Organik Merbabu (SOM). Menurut sejarahnya, Sofyan telah mendirikan SOM sejak tahun 2014 dan kini telah berstandar SNI serta mendapat sertifikasi dari Indonesian Organic Farming Certification (INOFICE). Bukan hanya itu, Sofyan pun didapuk sebagai Duta Petani Milenial pada tahun 2020 oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

 

Tentu saja apa yang terjadi pada Sofyan saat ini adalah buah setelah melalui proses yang panjang dan sulit. Sofyan telah menggeluti pertanian sejak kecil, karena orang tuanya juga petani. Namun fokusnya menjadi lebih serius ke sektor pertanian sejak tahun 2014. Uniknya, cita-cita Sofyan sejak SMA adalah menjadi pelaku di bidang teknologi. Oleh karenanya Sofyan pernah berniat kuliah di Teknologi Informasi AMIKOM Yogyakarta. Namun orang tuanya tidak merestui. Sofyan hanya diizinkan kuliah jika mengambil jurusan pertanian. Karena baktinya kepada orang tua, Sofyan menurut dan masuk di Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.

 

Berdasarkan ilmu pertanian yang didapat di kampus dan berdasarkan pengalaman bertani orang tuanya, Sofyan berkesimpulan bahwa kesulitan yang dihadapi petani bukanlah pada budidaya, melainkan pada pemasaran. Hal ini juga yang dialami oleh para petani di wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang. Berdasarkan hal itu, Sofyan mulai membenahi produk pertanian organik milik orang tuanya, termasuk pemasarannya, dengan menggunakan media sosial. Inisiatifnya kemudian membuahkan hasil. Pangsa pasar SOM kemudian berkembang ke luar kota, bahkan hingga ke luar pulau. Volume permintaan dan komoditas SOM meningkat terus setiap tahunnya. Kini kapasitas produksi sayuran organik Sofyan telah mencapai 60 varietas yang ditanam di lahan seluas 10 hektar dengan omset mencapai Rp 300-400 juta perbulan.

 

Selain memiliki reseller dan agen dari beberapa daerah, SOM juga menjadi unit pemasaran bagi kelompok tani dengan sistem jual-beli perdagangan berkeadilan (fairtrade). Melalui sistem perdagangan berkeadilan harga ditentukan oleh petani, bukan oleh tengkulak. Penuh semangat Sofyan menyatakan, “Saya meminta mereka menanam sayur organik. Keuntungannya biaya produksi murah, lebih sehat, harga lebih stabil, sedikit lebih tinggi dibandingkan produk anorganik. Beberapa bersedia dan terbentuk Kelompok Tani Citra Muda (KTCM) yang anggotanya saat ini 30 orang. Semboyan kami #yangmudayangbertani agar bisa menularkan semangat bertani kepada (anak muda) lainnya,”

 

Sobat Revmen, pertanian selalu menjadi sektor potensial dalam memperoleh penghasilan dan menjadi tumpuan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, pertanian berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia dan menjadi fondasi dalam ketahanan pangan. Apa yang dilakukan oleh Sofyan, dan kemudian diapresiasi oleh Menteri Pertanian, merupakan referensi positif bahwa pemuda dapat berkarya dan bekerja di sektor pertanian tanpa ada stigma bahwa pertanian adalah pekerjaan yang tidak keren. Apalagi pada era digital ini, bisnis pertanian dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi.

 

Jika Sobat Revmen tertarik untuk terjun ke bidang pertanian, maka lakukanlah. Sebab pasarnya masih sangat besar. Sebagai contoh, sebagaimana data terverifikasi dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah tahun 2020, petani yang menekuni bisnis pertanian secara online di wilayah Jawa Tengah hingga kini jumlahnya baru mencapai 3% (18.830 petani) dari total petani di Jawa Tengah yang berjumlah 2.930.776 orang. Mari jadi petani-petani muda. Dengan bertani dan memberdayakan petani, Sobat Revmen telah mewujudkan Gerakan Indonesia Mandiri dan revolusi mental. #AyoBerubah #GotongRoyong #SosokInspirasi #GerakanIndonesiaMandiri #YangMudaYangBertani

 

Referensi:

Ekuatorial.com. (2020). Diakses tanggal 13 Agustus 2021.

Republika.com. (2020). Diakses tanggal 13 Agustus 2021.

Sindonews.com. (2020). Diakses tanggal 13 Agustus 2021.

Tabloidsinartani.com. (2019). Diakses tanggal 13 Agustus 2021.


Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: