Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

SINETRON SI DOEL: KEJUJURAN LAHIR DARI RUMAH

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan scene makan malam keluarga
  • 06 April 2021
  • 0 Komentar

SINETRON SI DOEL: KEJUJURAN LAHIR DARI RUMAH

Banyak nilai kejujuran yang disampaikan dalam sinetron komedi Si Doel Anak Sekolahan. Kejujuran menjadi salah satu pesan moral yang sangat kuat dalam sinetron garapan Rano Karno ini.

 

Jakarta (09/03/21) Popularitas sinteron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS) seperti tidak habis-habisnya. Meskipun sudah 15 tahun berlalu sejak episode terakhirnya, masih banyak masyarakat yang teringat pada alur cerita dan pesan moral dalam sinetron drama komedi ini.

 

Sejak tayang perdana pada tahun 1994, sinetron SDAS sudah memikat masyarakat penonton tanah air. Keberadaan para pemain senior menjadi salah satu daya pikat itu. Namun di samping itu ada daya pikat lain yang membuat sinetron SDAS melekat dalam memori penonton, yaitu selera humor dan pesan moral yang kuat. Pesan moral paling kuat yang dikomunikasikan dalam sinetron ini adalah nilai kejujuran.

 

Sinetron SDAS berkisah mengenai kehidupan si Doel (Rano Karno) dan keluarganya dalam bingkai kultur Betawi yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional di tengah gempuran modernisasi. Doel, yang menjadi pemeran utama dalam sinetron, digambarkan sebagai sosok protagonis yang pendiam, baik hati, rajin beribadah dan patuh pada orang tua. Doel juga merupakan karakter yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan. Sifat jujur melekat dalam citra si Doel.

 

Sifat jujur yang dimiliki si Doel merupakan internalisasi dari pendidikan karakter yang ditanamkan oleh orang tuanya, terutama oleh Babeh (Benyamin Sueb), secara berkelanjutan. Babeh terkenal keras dalam mendidik karakter keluarganya. Dalam beberapa scene sifat kerasnya Babeh dalam menanamkan nilai kejujuran bisa dilihat.

 

Pada scene saat keluarga si Doel sedang makan malam bersama, misalnya, Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) bertanya mengenai proses lamaran kerja Doel di sebuah kantor. Si Doel menjawab bahwa proses lamarannya masih ada di tahap psikotes. Doel menjelaskan bahwa psikotes merupakan tes kejujuran yang harus dilalui oleh setiap calon karyawan. Mendengar itu, Babeh langsung memberi respons ketidaksetujuannya. Menurut Babeh, sudah jadi tradisi turun temurun dalam keluarganya untuk mempertahankan sikap jujur. Jadi tidak perlu dites lagi.

 

Babeh mengatakan, “Sejak bujeg dari zaman nenek moyang kite sampe sekarang, engga pernah gue berbuat engga jujur. Kan gue udah pesen ama elu pade, supaya idup jujur jujur jujur, supaye hidup kite engga ancur. Enak aje. Elu lagi (menunjuk ke si Doel) mau aje dites.”

 

Pada scene lain nilai kejujuran kembali ditampilkan, yaitu ketika Mandra menemukan uang Sarah (Cornelia Agatha) yang terjatuh di opelet. Mandra menyerahkan uang itu kepada Doel. Lalu Babeh yang mendengar soal itu segera meminta Doel untuk mengembalikannya kepada Sarah. Di sini Mandra, Doel, maupun Babeh sama-sama menunjukan adegan kejujuran.

 

Nilai kejujuran yang dikomunikasikan dalam sinetron SDAS melekat kuat dalam banyak scene. Melalui sinteron ini, Rano Karno ingin menitipkan pesan bahwa kejujuran lahir dari diri sendiri, dari keluarga dan berimplikasi kepada bangsa. Nilai kejujuran tersebut harus ditanamkan sejak dini melalui teladan dan kebiasaan-kebiasaan.

 

Sobat Revmen, kejujuran merupakan bagian dari integritas. Sementara integritas merupakan modal penting dalam membangun bangsa dan negara. Ayo kite contoh bang Doel dan keluarganye yang hidup dengan jujur dan berintegritas. Inget ye, idup harus jujur, jujur, jujur biar idu engga ancur. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas

 

Referensi:

Merdeka.com, 14/0720

Youtube.com, 30/09/19

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: