Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Sikap Mental Jaga Mapalus

gotong royong, mapalus, etos kerja
  • 08 Mei 2022
  • 0 Komentar

Sikap Mental Jaga Mapalus

Mapalus mengangkat harkat dan martabat manusia Minahasa sehingga memiliki peradaban yang tinggi. Mapalus pun mengakar dan menjadi sikap mental yang kuat.

Jakarta (8/05/2022), Masyarakat Minahasa memiliki tradisi gotong royong sejak masa lampau yakni mapalus. Walaupun masyarakat Minahasa secara administratif sudah dimekarkan hingga menjadi beberapa Kabupaten yakni Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara serta Minahasa, namun mapalus tetap dipertahankan.

Lebih luas, mapalus tidak hanya sekedar kegiatan gotong royong. Dikutip dari dgraft.com, mapalus disebutkan sebagai seperangkat nilai dan organisasi sosial masyarakat Minahasa. Sebagai nilai, mapalus setidaknya meliputi tiga prinsip, yakni memerdekakan, menyejahterakan, memanusiakan.

Sebagai organisasi, mapalus adalah persatuan masyarakat yang terbentuk atau dibentuk atas dasar berbagai kepentingan bersama, dengan asas partisipatif, resiprokal, disiplin, leadership, solidaritas, responsibilitas, percaya, kerja keras, gotong royong, dan transparansi.

Dasar kata dari mapalus ialah palus, yang artinya antara lain menuangkan dan mengerahkan, sehingga mapalus mengandung makna suatu sikap dan tindakan yang didasarkan pada kesadaran akan keharusan untuk beraktivitas dengan menghimpun (mempersatukan) daya  setiap personil masyarakat, untuk memperoleh suatu hasil yang optimal sesuai tujuan yang telah disepakati sebelumnya.

Mapalus merupakan suatu budaya dari gagasan sitou timou tumou tou yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan orang lain. Dilansir dari Indonesia-menalar.com, mapalus menjadi identitas diri dari masyarakat Minahasa. Dalam buku Teori Dan Praktek Mapalus (1989), yang dikemukakan oleh J.Turang, bahwa hakikat manusia adalah makhluk kerja bersama bukan bekerja sendiri.

Hakekatnya, kerja bersama itu atas nama Tuhan. Bukan bekerja bersama mengandalkan atau untuk kepentingan hidup material tetapi bekerja bersama atas amanat Tuhan atau dalam bahasa Minahasa disebut Opo Empung, Opo Rengan, Opo Wailan. Oleh karenanya setiap memulai dan menyelesaikan/memperoleh hasil pekerjaan harus dilakukan upacara sakral dipimpin oleh Walian (pemimpin keagamaan).

Seperti dilansir dari Liputan6.com, Denni Pinontoan, teolog dan budayawan dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Tomohon mengatakan, mapalus merupakan praktik tua yang melembaga di Minahasa sejak sebelum Kekristenan diterima secara masif dan sejak tanam paksa kopi diberlakukan awal abad 19.

Mapalus dari segi istilah artinya saling mencurahkan tenaga dan sumber daya atau saling membagikan apa yang dimiliki masing-masing pihak atau orang," ujar Denni. Sebagai sebuah praktik kerja, ungkap Deni, mapalus berarti kerja bersama atau bergiliran dengan kesepakatan-kesepakatan yang diterima bersama untuk menyelesaikan suatu kerja (bertani) demi tujuan yang diharapkan bersama.

"Mapalus kini sudah bertransformasi pada banyak bidang kehidupan, baik dalam keluarga besar, komunitas atau antara kelompok masyarakat, dalam suka maupun duka. Bentuknya juga sudah berubah tergantung kebutuhan," ujarnya. Namun, prinsipnya tetap dipertahankan yaitu kebersamaan dalam menanggung atau mengerjakan hal-hal yang baik untuk mendukung lestarinya kehidupan bersama.

Hal senada disebutkan Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ivan RB Kaunang. Ivan menyebut istilah mapalus kelihatannya sederhana, tetapi berbeda dengan gotong royong yang biasa.

"Mapalus adalah sebuah nilai dan praktik dari pencarian makna kehidupan, yang berproses dalam diri orang Minahasa, kemudian melembaga dalam kehidupan sosial. Mapalus kemudian menjadi salah satu pranata kehidupan peradaban orang Minahasa," ungkap Ivan.

Disebutkan, sebagai suatu nilai, seseorang atau keluarga yang pernah menerima atau mendapatkan palus wajib hukumnya untuk membalas, baik dalam bentuk dana dan daya dengan nilai yang sama. "Jika tidak dilakukannya maka ada sanksi moral. Tidak bertanggung jawab atau immoral disandangnya. Dan akan disisihkan dalam pergaulan sosial," ujar Ivan.

Ditambahkan Ivan, melalui mapalus hakikat kemanusiaan orang Minahasa selaras hubungannya dengan lingkungan alamnya, hubungan dan interaksi sesama manusia, terlebih kepada Tuhan. "Mapalus mengangkat harkat dan martabat manusia Minahasa yang beridentitas dan berperadaban tinggi sejak berabad silam,"pungkas Ivan

Sobat Revmen, mapalus, bukan hanya tradisi leluhur yang masih hidup, namun juga menjadi sikap mental di kalangan masyarakat Minahasa. Baik di pedesaan, maupun yang tinggal di perkotaan. Karena menjadi sikap mental itulah, kebudayaan mapalus ini masih terjaga di kalangan masyarakat Minahasa.

*PS

Sumber

Dgraft.com diakses 7 Mei 2022

Liputan6.com diakses 7 Mei 2022

Indonesia-menalar.com diakses 7 Mei 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: