Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

SEKOLAH HIJAU UNTUK MENUMBUHKAN CINTA LINGKUNGAN PADA ANAK

Siswa sekolah dasar sedang menanam dan menyiram pohon
  • 28 September 2021
  • 0 Komentar

SEKOLAH HIJAU UNTUK MENUMBUHKAN CINTA LINGKUNGAN PADA ANAK

Sekolah Hijau tidak hanya menghias kawasan sekolah dengan berbagai tanaman, melainkan juga menumbuhkan nilai-nilai peduli lingkungan di seluruh aktivitas sekolah, termasuk pada kegiatan belajar-mengajar, kegiatan ekstra kurikuler, hingga manajemen sekolah.

 

Jakarta (18/09/2021) Seorang gadis Sekolah Dasar (SD) berseru dengan mulutnya yang mungil, “Aku ingin merayakan hari bumi.” Ketika mendengar hal itu, orang dewasa tidak perlu bertanya “kenapa,” sebab ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk melahirkan konsep, “Bagaimana jika anak-anak merayakan hari bumi setiap hari.” Perayaan hari bumi setiap hari adalah konsep yang menarik. Anak bukan hanya dikenalkan dan didekatkan pada lingkungan hidup, melainkan juga diasah untuk menjaga lingkungan hidup dan mempraktikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya, seperti menanam pohon, menghemat energi dan menjaga kebersihan. Konsep itu dapat dirancang dan dibangun di rumah maupun di sekolah. Jika membangunnya di rumah, maka orang tua tidak perlu repot-repot memikirkan kurikulum, cukup merancang metode yang disukai anak. Namun jika membangunnya di sekolah, maka perancangan kurikulum perlu diperhatikan. Perancangan kurikulum berbasis lingkungan itulah yang kemudian membidani lahirnya sebuah konsep bernama Sekolah Hijau (green school) atau sekolah Adiwiyata.

 

Apa itu Sekolah Hijau atau Sekolah Adiwiyata? Sekolah Hijau atau Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang memiliki komitmen terhadap aspek lingkungan dalam setiap aktivitasnya. Melalui Sekolah Hijau, para siswa diharapkan memiliki sikap dan perilaku yang peduli pada lingkungan hidup sejak dini. Tentu saja konsep “peduli lingkungan” tidak hanya berlaku untuk para siswa, melainkan untuk seluruh orang yang ada di lingkungan sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru. Guru bahkan harus berada di garda terdepan untuk memberikan teladan kecintaan terhadap lingkungan hidup.

 

Menurut Sumarmi, program Sekolah Hijau atau Sekolah Adiwiyata dikembangkan melalui lima kegiatan utama, yaitu: (1) Pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan; (2) Peningkatan kualitas Kawasan sekolah dan lingungan sekitar; (3) Pengembangan pendidikan berbasis komunitas; (4) Pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan; dan (5) Pengembangan manajemen sekolah berwawasan lingkungan.

 

Melihat lima kegiatan utamanya, sekolah yang mengadopsi kurikulum Sekolah Hijau tidak hanya menghias kawasan sekolahnya dengan berbagai tanaman, melainkan juga menumbuhkan nilai-nilai peduli lingkungan di seluruh aktivitas sekolah, termasuk pada kegiatan belajar-mengajar, kegiatan ekstra kurikuler, hingga manajemen sekolah. Dengan demikian, Sekolah Hijau pada dasarnya sama dengan sekolah pada umumnya, namun memiliki beberapa program khusus yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan.

 

Khusus di Indonesia, sekolah-sekolah yang berkomitmen mengadopsi konsep Sekolah Hijau akan diberikan “label” Adiwiyata oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bahkan KLHK memberikan penghargaan pada sekolah-sekolah yang berkomitmen menjalankan program Sekolah Hijau. Tahun 2019 KLHK memberikan penghargaan Adiwiyata Nasional dan Adiwiyata Mandiri kepada 434 sekolah di 32 provinsi di seluruh Indonesia, baik sekolah negeri maupun swasta. Menteri LHK, Siti Nurbaya, menyatakan bahwa Sekolah Adiwiyata diharapkan dapat menghasilkan anak-anak didik yang berkarakter, peduli, dan berbudaya lingkungan serta berprestasi secara akademik. Komitmen pemerintah juga terlihat dengan memperbarui Peraturan Menteri LHK Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata, yang kemudian disempurnakan menjadi Peraturan Menteri LHK Nomor 52 Tahun 2019 tentang Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah, serta Peraturan Menteri LHK Nomor 53 Tahun 2019 tentang Penghargaan Adiwiyata.

 

Sobat Revmen, berbagai indikasi penurunan kualitas lingkungan hidup dipublikasikan hampir setiap hari oleh berbagai media massa. Pemanasan global, banjir, kekeringan, dan lain-lain menghiasi berbagai pemberitaan di seluruh dunia. Kepedulian setiap orang dari kita pada lingkungan dapat memberikan andil besar atas perubahan kualitas lingkungan menjadi lebih baik. Anak-anak juga perlu memiliki karakter yang kuat sejak dini agar mencintai lingkungan hidup, supaya mereka merasa nyaman dan sehat tinggal di bumi ini. Mari lestarikan lingkungan hidup. Lakukanlah mulai dari hal-hal kecil untuk menjaga bumi kita, seperti menanam pohon, mengurangi penggunaan kertas, diet plastik, hemat energi dan selalu jaga kebersihan. #AyoBerubah #PendidikanKarakter #GerakanIndonesiaBersih #GotongRoyong #SelamatkanLingkungan

 

Referensi:

AhmadTarmiji. (2014). DIakses tanggal 28 Agustus 2021.

Gatra.com. (2019). Diakses tanggal 28 Agustus 2021.

Kemdikbud.go.id. (2019). Diakses tanggal 28 Agustus 2021.

Ppid.menlk.go.id. (2019). Diakses tanggal 28 Agustus 2021.

Sumarmi. (2008). Diakses tanggal 28 Agustus 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: