Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Rintis Desa Wisata, Rubama Bangkitkan Kemandirian Warga Gampong Nusa

Desa wisata Gampong Nusa yang dirintis Rubama mampu mendorong pemberdayaan dan pengingkatan pendapatan warga
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

Rintis Desa Wisata, Rubama Bangkitkan Kemandirian Warga Gampong Nusa

Sembari meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, Rubama berhasil merintis desa wisata Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, dengan konsep ekowisata yang menawarkan keindahan alam dan budaya lokal setempat.

Jakarta (23/06/2021) Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam menelan ratusan ribu korban jiwa dan meluluhlantakkan provinsi serambi Mekah tersebut. Begitu pun dengan Desa atau Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar yang berjarak sekitar 10 km dari Kota Banda  Aceh. Namun desa yang dahulu porak poranda tersebut kini telah berbenah, bahkan menjadi salah satu desa mandiri sekaligus desa wisata yang menarik para pelancong. Kondisi tersebut tak lepas dari peran Rubama, warga asli Gampong Nusa yang bertekad untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi desa agar warga dapat kembali bangkit pascatsunami dengan mengusung konsep wisata berbasis masyarakat.

Rumah-rumah warga, bangunan, dan jalan di Gampong Nusa telah dibangun kembali sejak bencana tsunami yang menghantam 16 tahun lalu. Namun meski sarana dan infrastruktur dapat kembali dibangun, tidak begitu halnya dengan nilai gotong royong dan jiwa sosial di tengah warga Gampong Nusa yang justru kian terkikis di mana sebelum bencana tsunami pun terjadi konflik bersenjata. Terlebih kala itu ada program stimulus atau pemberdayaan bagi warga korban bencana tsunami dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing dan lembaga lokal, yang akan membayar warga tiap melakukan pekerjaan ataupun bersih-bersih desa, sehingga jiwa gotong royong warga pun terkikis dan enggan melibatkan diri jika tidak dibayar.

Usai mengikuti pelatihan pengolahan sampah di Calang, Kabupaten Aceh Jaya pada 2006, hati Rubama (35) terketuk untuk memugar kembali semangat gotong royong dan solidaritas yang sejatinya dahulu amat kental di tengah warga Gampong Nusa. Tak hanya sekedar demi kerekatan warga, guna memupuk kemandirian warga Gampong Nusa, perempuan yang kerap disapa Ru itu kemudian mengajak perempuan-perempuan Gampong Nusa mengolah sampah plastik menjadi kerajinan kreatif dengan membentuk komunitas Nusa Creation Community (NCC). Sampah yang semula dianggap tidak bermanfaat, disulap menjadi produk kerajinan seperti topi, dompet, baju dan lain sebagainya yang bernilai ekonomi hingga ratusan ribu rupiah.

Tak hanya itu pada 2010, Rubama bersama pemuda Gampong Nusa lainnya juga membuat Bank Sampah Nusa yang diutamakan untuk anak-anak. Selain dapat belajar mengenai pemilahan sampah, hasil penjualan dari sampah tersebut nantinya dapat digunakan pula oleh anak-anak untuk membayar biaya bulanan belajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Adapun sampah yang telah terkumpul sebagian akan dijual ke pengepul dan sebagian lagi akan menjadi bahan baku dari berbagai produk kreasi NCC. Masih terkait dengan sampah, Rubama pun menginisiasi lahirnya Nusa Festival pada 207, yang di dalamnya menyuguhkan karnaval baju dari bahan sampah kertas, plastik, dan sebagainya yang akan diperagakan anak-anak Gampong Nusa. Selain karnaval, festival yang diadakan setiap tahun itu juga menampilkan beragam seni dan budaya Aceh, mulai dari permainan tradisional anak-anak, pementasan seni, kuliner tradisional, hingga acara Nusa Berzikir.

Di tahun 2007 pula, perempuan yang lahir pada 17 Agustus 1985 itu kemudian mendirikan sebuah grup tarian tradisional yang dinamakan komunitas Al-Hayah. Selain melihatnya sebagai potensi desa, dengan membentuk komunitas tersebut tarian tradisional Aceh pun dapat terus lestari di kalangan anak muda karena mereka yang sudah bisa akan mengajarkannya kepada yang belum. Tahun 2005-2013 Gampong Nusa terus dikunjungi oleh wisatawan yang ingin belajar pengelolaan sampah dan melihat tarian tradisional. Oleh karenanya, Rubama ingin mengembangkan dan menawarkan segala potensi di Gampong Nusa, sehingga menjadi desa wisata. Warga yang melihat budaya bukanlah sebuah potensi wisata, pada awalnya menyangsikan gagasan Rubama mengenai konsep desa wisata. Namun alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh tersebut terus berikhtiar.