Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Revolusi Mental dalam Perfilman Lewat Budaya Sensor Mandiri

Webinar Budaya Sensor Mandiri dalam Perspektif Gerakan Revolusi Mental
  • 20 Desember 2021
  • 0 Komentar

Revolusi Mental dalam Perfilman Lewat Budaya Sensor Mandiri

Webinar budaya sensor mandiri dalam perspektif Revolusi Mental, berupaya mengajak masyarakat agar semakin bijak dalam memilah tontonan sesuai dengan klasifikasi usia demi terciptanya pembangunan manusia Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. 


Jakarta (20/12/2021) Di era pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses beragam media sebagai bentuk saluran komunikasi. Tak terkecuali dengan film yang kian mengalami ragam bentuk perkembangannya. Menyadari hal tersebut dan keterkaitan film dengan aspek pembangunan manusia, Lembaga Sensor Film (LSF) RI pun menggelar webinar bertajuk “Budaya Sensor Mandiri dalam Perspektif Revolusi Mental” yang bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (8/12). 


Ketua Lembaga Sensor Film RI, Rommy Fibri Hardiyanto, mengatakan budaya sensor mandiri amat penting dewasa ini mengingat akses film yang semakin besar dan kian mudah untuk ditonton oleh masyarakat. Dengan latar belakang tersebut, Rommy menyebut LSF pun kini menggemakan budaya sensor mandiri yang menekankan pada aspek literasi masyarakat terhadap medium film. Budaya sensor mandiri, sambungnya, merupakan kemampuan masyarakat untuk dapat memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usianya. 


“Oleh karena itu penting untuk kita menyampaikan ke masyarakat, yuk budayakan sensor mandiri! Dengan tingkat kesadaran akan pentingnya memilah sesuai klasifikasi sehingga jaminan tontonan yang sehat dapat dicari sendiri, dikreasikan sendiri oleh masyarakat,” ujar Rommy membuka jalannya webinar, Rabu (8/12). 


Senada dengan Rommy, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi, menyebut dengan kemudahan akses yang tersedia saat ini membuat film mengalami pergeseran di mana sudah tak lagi menjadi tontonan komunitas, melainkan tontonan individu. Oleh karenanya ia menyebut budaya sensor mandiri menjadi hal yang penting sekaligus tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Ia meyakini, Revolusi Mental yang memuat penanaman karakter melalui tiga nilai strategis instrumental yakni etos kerja, gotong royong, integritas dapat menjadi landasan dan filtrasi bagi individu dalam menetapkan batasan bagi dirinya, termasuk terhadap apa yang ditontonnya.  


“Sehingga ketika mereka dalam kehidupannya sehari-hari, nilai-nilai yang sudah kita tanamkan itu akan jadi bagian yang bisa mengendalikan, termasuk di dalamnya ketika anak-anak itu berhadapan dengan sesuatu yang mungkin tidak cocok dengan kondisi dirinya, termasuk (seperti halnya) program sensor mandiri film,” terang Didik.


Film sebagai produk budaya yang dapat menjadi medium penanaman nilai dan karakter menurut Didik dapat mendukung Program Prioritas Nasional (ProPN) Revolusi Mental, khususnya terkait dengan tercapainya Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. Di mana ia menyebut budaya sensor mandiri akan sangat beririsan dengan sejumlah gerakan Revolusi Mental di antaranya Gerakan Indonesia Tertib,  Gerakan Indonesia Mandiri, Gerakan Indonesia Bersatu. Lebih lanjut, Didik mengatakan perkembangan film Indonesia pun dapat menjadi bagian dari pembangunan manusia Indonesia untuk mencapai generasi emas Indonesia 2045.


“Berkepribadian dalam kebudayaan ini lah salah satu yang akan menjadi bagian dari payung untuk Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) khususnya di bidang perfilman, di bidang sensor mandiri. Bagaimana film-film Indonesia tidak hanya mengutamakan tontonan tetapi juga menjadi tuntunan,  bagaimana agar  nilai dalam sebuah film betul-betul menjadi perhatian kita semua,” terang Didik. 


“Perlu kerja keras, etos kerja tinggi, kolaborasi, gotong royong. Oleh karena itu perlu kita segera lakukan jangan hanya gotong royong jadi jargon, tapi memang kita kolaborasikan karena kolaborasi menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan dunia global dan berkompetisi dengan negara lain. Dengan kerja sama erat pentahelix dengan dunia perfilman maka Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) bisa berjalan dengan baik,” sambungnya. 


Adapun Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan bahwa seiring pesatnya perkembangan teknologi, pengawasan terhadap konten yang begitu melimpah pun tak pelak juga menjadi semakin sulit. Sehingga, lanjutnya, budaya sensor film mandiri kiranya berfungsi sebagai self-blocking atau benteng diri individu terhadap apa yang sepatutnya ditonton ataupun tidak. “Budaya sensor mandiri digagas oleh LSF kemudian dicanangkan oleh gerakan nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas literasi film dan tontonan publik, memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia penonton ini luar biasa,” ujar Agustina. 


Webinar kali ini merupakan series kesepuluh dan terakhir terkait budaya sensor mandiri yang diinisiasi oleh LSF RI tahun 2021. Di mana dalam kesempatan tersebut turut hadir sejumlah narasumber lainnya di antaranya Ketua Subkomisi Pemantauan dan Evaluasi LSF RI Fetrimen, Ketua Komisi III LSF RI Naswardi, peneliti film dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM Budi Irwanto, Dekan Fisipol UGM Wawan Mas'udi, produser film Meiske Taurisia, hingga aktris Hana Saraswati. Melalui gerakan literasi budaya sensor film diharapkan masyarakat semakin bijak dalam menentukan tontonan sesuai dengan klasifikasi usia masing-masing. #AyoBerubah #RevolusiMental #BudayaSensorMandiri


Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: