Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Reviu Buku #1

Sampul buku XENOGLOSOFILIA: KENAPA HARUS NGINGGRIS
  • 17 Maret 2021
  • 0 Komentar

Reviu Buku #1

“Utamakan bahasa Indonesia, pelihara bahasa daerah, kuasai bahasa asing.” Kutipan ini merupakan kalimat yang disampaikan oleh Ivan Lanin, seorang Wikipediawan yang belakangan ini namanya sering dibicarakan. Ivan mulai dibicarakan karena menulis sebuah buku berjudul “Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?” dan sering memberikan saran kepada pemerintah terkait padanan kata melalui akun Twitternya.

 

Jakarta (28/02/21) Judul buku yang ditulis Ivan Lanin tergolong unik, yakni “Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?” Melalui buku bersampul orange itu, Lanin menunjukan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia sekaligus mengajak masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia secara benar.

 

Buku Xenoglosofilia terdiri dari tiga bagian utama. Pada bagian satu, Lanin membahas tentang kata-kata asing yang sudah mandarah daging digunakan oleh masyarakat Indonesia. Sebut saja kata email, mouse, gadget, hangout, meeting, download dan lain-lain. Kata serapan baru yang dimuat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah takarir (caption), wara (copy), pita lebar (broadband) dan situs web (website). Lanin menyarankan agar masyarakat mulai menggunakan kata-kata asli dari bahasa Indonesia untuk kata-kata berbahasa Inggris itu. Lanin mengakui, memang di awal mungkin agak ganjil menggunakan istilah-istilah itu dalam bahasa Indonesia, seperti menggunakan kata tetikus sebagai pengganti kata mouse, daring untuk mengganti kata online, surel untuk mengganti kata email, atau takarir untuk mengganti kata caption. Lanin juga mengakui bahwa masih ada kata-kata berbahasa Inggris yang belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

 

Pada bagian dua, buku ini menyuguhkan “tanya-jawab” untuk beberapa polemik pilihan bahasa yang dianggap masih bias penggunannya. Seperti pemakaian kata di dan pada, cara menulis rupiah yang benar, hingga perbedaan bundar dan bulatBagian ini cukup menarik, mengingat istilah-istilah yang dianggap tidak terlalu penting oleh kebanyakan orang, justru menjadi salah satu titik tekan dalam ide pemikiran Lanin.

 

Pada bagian tiga, buku ini mengulas tentang manakah yang benar. Beberapa orang dianggap masih keliru menuliskan kata di. Apakah menulis kata di sebagai kata depan harus dipisah atau tidak. Contohnya, di Jakarta atau dijakarta, di ambil atau diambil, dimana atau di mana.

 

Gagasan utama Irvan Lanin menulis buku “Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?” adalah karena kegelisahannya ketika memperhatikan banyak orang Indonesia, terutama fenomena Bahasa Anak Jakarta Selatan, yang dianggap kurang bangga menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga kerap mencampur-adukannya dengan kata-kata berbahasa Inggris. Misalnya kalimat, “Anyway, sudah saatnya me time walau sejenak. And luckily sekarang hujan.” Buku ini hadir untuk menjawab ketidaktahuan atau kekurangpedulian pengguna bahasa terhadap hal-hal seperti itu.

 

Suatu ketika Salomo Simanungkalit, penulis buku 111 Kolom Bahasa Kompas, menyatakan, “William Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami bahasa Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia hanya bersolek dengan bungkus.” Ini adalah kritik bagi kita semua yang belum berbangga dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia. Sobat Revmen, sudah saatnya kita gunakan bahasa Indonesia dengan baik, dengan ajeg dan dengan bangga. #AyoBerubah #BanggaBerbahasaIndonesia

 

Referensi:

Ivan Lanin (2018). Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? Jakarta: Kompas.

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: