Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

REVIEW BUKU: GENTLE DISCIPLINE, METODE MENGAJARKAN DISIPLIN TANPA MARAH

Sampul buku Gentle Discipline, oleh Sarah Ockwell Smith
  • 27 Mei 2021
  • 0 Komentar

REVIEW BUKU: GENTLE DISCIPLINE, METODE MENGAJARKAN DISIPLIN TANPA MARAH

Menurut Ockwell, terlalu banyak orang tua yang mendisiplinkan anak dengan cara marah-marah dan reaktif. Padahal, apabila orang tua melakukannya, dia akan terjebak kepada gaya otoriter, di mana hukuman adalah satu-satunya solusi yang harus diberikan pada anak.

 

Jakarta (20/05/2021) Salah satu hal yang paling sulit untuk diajarkan kepada anak adalah mengenai disiplin. Disiplin sulit diajarkan karena harus dicontohkan secara langsung oleh orang tua dan harus dilakukan tanpa marah-marah. Jika disiplin hanya diajarkan secara lisan tanpa teladan dari orang tua, maka anak akan sulit untuk melakukannya. Anak adalah “peniru ulung.” Jika orang tua tidak disiplin, maka itulah yang akan ditiru. Dan jika disiplin diajarkan dengan metode marah-marah, maka anak akan kehilangan fokus dalam mempelajari dan menginternalisasikannya.

 

Namun Sarah Ockwell (2019) menawarkan pandangan alternatif. Dalam bukunya yang berjudul Gentle Discipline (disiplin lembut). Menurut Ockwell, terlalu banyak orang tua yang mendisiplinkan dengan cara marah-marah dan reaktif. Padahal, apabila orang tua melakukannya, dia akan terjebak kepada gaya otoriter, di mana hukuman adalah satu-satunya solusi yang harus diberikan pada anak jika tidak disiplin. Sementara dalam Gentle Discipline orang tua harus beriskap positif dan memiliki visi untuk masa depan anak. Gentle Discipline adalah tentang bagaimana orang tua menginspirasi anak-anak untuk berbuat baik. Oleh karena itu harus diajarkan dengan memberi contoh.

 

Secara teknis, Ockwell menggagas lima langkah mengajarkan disiplin secara lemah lembut namun efektif. Pertama, orang tua harus tahu kenapa dibutuhkan sikap disiplin. Ketika seorang anak bertingkah tidak pantas dan orang tua merasa saat itu diperlukan kedisiplinan, maka orang tua harus segera berdialog dengan dirinya sendiri: Apakah anak telah melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima? Apakah anak telah melanggar batasan yang orang tua buat? Apakah orang tua ingin menjadikan momen ini sebagai momen mengajarkan disiplin agar anak berperilaku lebih baik di lain waktu?

 

Kebanyakan orang tua mengajarkan kedisiplinan dengan cara yang pernah mereka terima dari orang tuanya dulu. Hanya karena orang tua Anda mendisiplinkan Anda untuk sesuatu, bukan berarti sekarang Anda harus mendisiplinkan anak Anda dengan cara yang sama. Maka satu-satunya saat paling tepat untuk mendisiplinkan anak adalah ketika orang tua benar-benar tahu bahwa anak-anak membutuhkannya.

 

Kedua, tanyakan diri Anda mengenai kenapa, bagaimana dan apa. Momen terbaik mendisiplinkan anak adalah ketika orang tua “bersama anak” bukan saat “berseteru kepada anak.” Pada momen itulah pertama-tama orang tua harus menemukan jawaban dari tiga pertanyaan mendasar berikut: Kenapa anak melakukan ketidakdisiplinan? Bagaimana perasaannya saat melakukan hal itu? Apa langkah yang harus orang tua ambil agar anak tidak melakukannya lagi?

 

Ketiga, pahami kemampuan alami yang dimiliki anak. Kebanyakan orang tua memiliki harapan yang terlalu tinggi pada anak. Anak diharuskan ke WC sendiri dan anak wajib meninggalkan WC dalam keadaan bersih. Namun apakah anak sudah memiliki kemampuan untuk itu? Apakah anak sudah memahaminya? Orang tua yang “tidak adil” akan menghukum anak atas ketidaktahuan yang dilakukan anak bahwa mereka telah berlaku tidak disiplin.

 

Keempat, belajar dari pengalaman sebelumnya. Jika anak melakukan ketidakdisiplinan, lalu orang tua menasihatinya berkali-kali namun anak tidak juga mengerti, maka ada sesuatu yang salah. Solusinya, coba ingat kembali pernahkah orang tua mengajarkan disiplin pada nak lalu anak dengan mudah memahaminya dan bersedia melakukannya? Jika pernah, cob acari jawaban kenapa saat itu pengajaran kedisiplinan sangat efektif, sementara sekarang tidak?

 

Kelima, ajarkan disiplin melalui keteladanan. Anak adalah peniru ulung. Sampai kapan pun orang tua menceramahi anak untuk disiplin, anak tidak akan melakukannya jika mereka melihat orang tuanya juga tidak disiplin. Orang tua meminta anak selalu membuang sampah pada tempatnya, tapi orang tua selalu sembarangan membuang sampah, maka anak akan meniru itu. Keteladanan adalah cara mengajarkan paling efektif dibanding jutaan kali ceramah.

 

Sobat Revmen, mengajarkan disiplin kepada anak tidak harus dilakukan melalui satu cara, terutama jika cara itu adalah “metode marah-marah” atau “metode menghukum.” Masih terbuka cara-cara lain. Orang tua memang harus rajin untuk ngulik berbagai metode pengasuhan, seperti metode Gentle Discipline. Di samping itu, sebagaimana program Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintah, pendidikan karakter juga perlu diberikan kepada anak-anak. Pendidikan karakter sangat penting karena menanamkan nilai kesetiakawanan sosial, tanggung jawab sosial, disiplin sosial dan sikap moral yang baik pada anak sebagai generasi penerus. #AyoBerubah #GerakanIndonesiatertib

 

 

Referensi:

 

Sarah Ockwell-Smith. (2019). Gentle Discipline; Rahasia Mendisiplinkan Anak Tanpa Ancaman dan Hukuman. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: