Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

REMAJA DAN LITERASI DIGITAL

Para remaja sedang mempelajari teknologi digital
  • 13 September 2021
  • 0 Komentar

REMAJA DAN LITERASI DIGITAL

Literasi digital pada remaja masih lemah. Hal ini dapat dilihat dari cara para remaja dalam mencari informasi, di mana para remaja tidak melihat kredibilitas sumber informasi, melainkan hanya melihat topik yang dibutuhkan saja.

 

Jakarta (19/08/2021) Salah satu penyebab maraknya infomasi hoaks, cyber bullying, fitnah, ujaran kebencian atau kejahatan siber (cybercrime) adalah karena rendahnya tingkat literasi digital. Istilah literasi digital semakin sering kita baca dan dengar belakangan ini, terutama pada berita yang berasal dari situs-situs pemerintah dan media mainstream. Namun apa sih sebetulnya pengertian literasi digital?

 

Menurut Paul Gilster, literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi yang diakses melalui perangkat komputer. Jadi, prinsip utama literasi digital adalah “pemahaman,” “informasi” dan “perangkat teknologi.” Douglas A. J. Belshaw merumuskan 8 elemen penting untuk meningkatkan literasi digital, yaitu: (1) elemen kultural, yakni pemahaman terhadap konteks dunia digital; (2) elemen kognitif atau daya pikir dalam menilai konten; (3) elemen konstruktif atau inovasi; (4) elemen komunikatif atau pemahaman terhadap kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital; (5) elemen kepercayaan diri yang bertanggung jawab; (6) elemen kreatif untuk melakukan hal baru dengan cara baru; (7) elemen kritis dalam menyikapi konten; dan (8) bertanggung jawab secara sosial.

 

Jika Sobat Revmen memiliki kedelapan elemen tersebut, maka kemungkinan besar tingkat literasi digital Sobat sudah tinggi. Sobat Revmen akan sangat sulit terpengaruh hoaks, ujaran kebencian, cyber bullying atau bahkan penipuan. Daya kritis dalam membaca dan memahami konten, misalnya, akan membuat Sobat Revmen sangat hati-hati untuk mempercayai atau tidak mempercayai sebuah informasi.

 

Generasi Z merupakan generasi yang lahir dan hidup pada saat era digital tumbuh subur. Oleh karena itu Generasi Z sangat akrab dengan teknologi digital, yang mencakup teknologi informasi, teknologi komunikasi dan internet. Pada saat ini, usia Generasi Z, jika menggunakan penggolongan generasi menurut William H. Frey, berkisar antara 10 tahun hingga 24 tahun. Maka, Generasi Z adalah kaum remaja. Dan kaum remaja inilah yang menurut survei APJII tahun 2019-2020 merupakan kelompok penduduk dengan penetrasi internet terbesar di Indonesia. Namun apakah dengan demikian para remaja atau Generasi Z ini memiliki tingkat literasi digital yang baik? Ternyata, menurut studi Generasi Z tergolong lemah dalam literasi digital.

 

Studi yang dilakukan oleh Lestari Nuhajati dari Institut Komunikasi dan Bisnis LPSR Jakarta dan Frida Kusumastuti dari Universitas Muhammadiyah Malang menyatakan bahwa literasi digital pada remaja masih lemah. Nurhajati dan Kusumastuti misalnya meneliti tentang bagaimana para mahasiswa baru mencari informasi di media digital. Hasilnya, para remaja tidak melihat kredibilitas sumber informasi, melainkan hanya melihat topik yang dibutuhkan saja. Hal ini menunjukan kurangnya daya kritis di kalangan remaja. Padahal daya kritis itu merupakan salah satu elemen penting dalam mengukur tingkat literasi digital.

 

Tentu saja tanggung jawab mengenai hal ini bukan hanya terketak pada diri Generasi Z, melainkan juga pada pemerintah, masyarakat, akademisi, aktivis dan pelaku usaha. Perlu ada kerjasama multipihak agar para remaja memiliki tingkat literasi digital yang ideal. Ukurannya sudah ada, yakni melalui Indeks Literasi Digital yang digagas oleh UNESCO pada tahun 2018. Menurut UNESCO, kecakapan yang harus dimiliki agar dapat mengukur Indeks Literasi Digital terdiri dari: Pertama, Informasi dan literasi data. Pada bagian ini, masyarakat harus memiliki kecakapan: (1) kemampuan menjelajah, mencari dan memfilter data, informasi dan konten digital, (2) mengevaluasi informasi, data dan konten digital, (3) mengontrol informasi, data dan konten digital.

 

Kedua, Komunikasi dan kolaborasi. Pada bagian ini masyarakat harus memiliki kecakapan dalam: (1) berinteraksi melalui teknologi digital, (2) berbagi melalui teknologi digital, (3) terlibat dalam peran sebagai warga negara melalui teknologi digital, (4) berkolaborasi melalui teknologi digital, (5) mengedepankan etika dalam teknologi digital, (6) mengontrol identitas digital.

 

Ketiga, Penciptaan konten digital. Pada bagian ini masyarakat harus memiliki kecakapan: (1) mengembangkan konten digital, (2) mengintegrasikan dan mengelaborasi ulang konten digital, (3) memperhatikan lisensi dan hak cipta, (4) melakukan programming.

 

Keempat, Keamanan. Pada bagian ini masyarakat harus memperhatikan keamanan dalam hal: (1) memproteksi gawai, (2) melindungi data pribadi dan privasi, (3) melindungi kesehatan dan kesejahteraan, (4) melindungi lingkungan.

 

Kelima, Problem solving. Pada bagian ini masyarakat harus memiliki kemampuan memecahkan masalah pada soal-soal: (1) teknis, (2) mengidentifikasi kebutuhan dan respon teknologi, (3) menggunakan teknologi digital secara kreatif, (4) mengidentifikasi kesenjangan kompetensi digital.

 

Semua indikator di atas perlu diperhatikan, termasuk oleh remaja. Namun di samping itu, secara praktis, remaja juga perlu memiliki 3 kemampuan berikut. Pertama, untuk meningkatkan kemampuan literasi digital, remaja perlu perlu meningkatkan pemahamannya pada permasalahan teknis. Kenali tekonologi, baik hardware maupun software, sebagai perangkat-perangkat untuk memediasi kebutuhan. Kedua, remaja perlu mengembangkan kreativitas, baik dalam pemikiran maupun tindakan, sehingga akan memiliki kemampuan dalam melahirkan inovasi-inovasi baru. Ketiga, remaja perlu memiliki kemampuan soft skill, termasuk di dalamnya kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, mengembangkan empati, kemampuan berpikir kritis dan mengedepankan etika saat berinteraksi melalui media digital.

 

Sobat Revmen, di Indonesia remaja adalah penduduk dengan populasi terbanyak dan pengakses internet terbesar. Potensi remaja dalam melahirkan inovasi-inovasi baru sangat besar. Namun hal tersebut perlu didukung oleh kemampuan literasi digital yang baik. Untuk mendukung hal tersebut, perlu kiranya kaum remaja atau Generasi Z mengadopsi dan mengamalkan nilai-nilai yang digagas oleh Gerakan Nasional Revolusi Mental, yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong. Nah, untuk memperdalam pengetahuan tentang literasi digital, Sobat Revmen dapat mendownload Materi Pendukung Literasi Digital yang dipublikasikan oleh Kemendikbud. #AyoBerubah #RevolusiMental #KeluargaIndonesia

 


Referensi:

Sindonews.com. (2020). Diakses tanggal 26 Juli 2021.

Kemdikbud.go.id. (2017) Diakses tanggal 26 Juli 2021.

Katadata.com. (2020). Diakses tanggal 26 Juli 2021.

 



Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: